Sebentar lagi, senja menyatakan pamit, sudah waktunya ia kembali. Memadu kasih dengan kekasihnya yang entah siapa. Aku tak pernah berkenalan dengannya. Bahkan, untuk sekedar mengintip bagaimana bentuk hidungnya saja aku tak pernah.

Semburat jingga di langit juga pamit pulang. Ia harus mengurus anaknya yang belum juga mandi, suaminya yang belum dibuatkan kopi tanpa gula.

Pedagang kaki lima memilih berhenti juga. Mungkin dia lelah, setelah seharian mencari Ridha Tuhan lewat berdagang. Mereka merindukan keluarganya di rumah. Tak sabar rasanya bercengkerama, lalu mendengarkan kisah anaknya menghadapi dunia luar. Bagaimana ia menyelesaikan konflik bersama temannya, bagaimana ia menyikapi perasaan yang tak tentu dengan teman lawan jenisnya.

Aku melewati koridor menuju parkiran. Segala perasaan telah dihambarkan agar tak ada rasa sakit. Aku berjalan sambil bercerita seadanya dengan teman sejawatku. Dari arah yang tak jauh, tampak seseorang menatapku tidak suka, matanya menyala, seperti ada api yang berkobar di sana, belum sampai tubuhku ke arahnya, dia sudah mencerca, membuat mulutku kaku, aku kikuk dibuatnya.

Segala rasa kembali, ternyata penghambaran rasa itu tak mampu menawarkan rasa sakit. Aku kecewa pada rasa hambar yang tak profesional.

“Pulang lagi?”

Kalimat itu menghujam jantungku. Hanya dua kata, tapi menusuk. Aku kikuk serasa akan mati. Lidahku kelu. Ingin rasanya tak menjawab, namun tak pantas.

“Ia Bu,” matanya menatapku dengan tajam. Kejam sekali. Padahal, guru lain sudah pulang dua jam sebelum aku pulang. Mengapa harus aku? Aku bertanya, dimana letak salahku.

“Bantulah sana lagi” , Aku baru saja pulang dari tempat yang dikatakannya. Hatiku seperti diiris-iris. Tersayat-sayat amat dalam.

“Uuuuu uuu da Bu, taaa di saya baru dari sana” kataku macet. Aku tak berbohong. Aku memang dari sana, membantu apa yang bisa kubantu.

Bagaimanapun, aku tetap pulang. Perasaanku hancur. Kalimatku tak tertata. Aku menangis dalam diam, perih sekali. Aku pulang di tatapnya dengan pandangan tak sedap.

“Allah, kuatkan, kuatkan. Tolong Rabb”.

Sambil mengendarai motor, menetes air mataku. Aku terlalu perasa untuk hal yang tak seharusnya kuterima. Tak hanya sekali, beberapa kali aku diperlakukannya demikian. Rasanya seperti dimaki-maki di depan umum.

Kutatap senja yang beberapa menit lagi akan pamit, dia seperti tersenyum, memberikan kakuatan kepadaku yang terlihat kuat,

“Kamu kuat sayang, tenang. Cuma kamu yang kuat ngadepin ini. Sabar ya!”

Aku tersenyum menatapnya, kubiarkan ia pulang dengan damai.

Tak berapa lama, muncul fotonya di grup. Foto bersama orangtua wali murid, sambil memberikan caption “Anak kelas 9 sudah curi start”

Ah, aku lupa, kalau dia hobbynya gitu. Padahal dia datang semua sudah beres, tinggal foto aja belagak membantu.

 

Kuat, kuat, kuat.

Jika kelak kalian menjadi atasan, berbuat adillah kepada bawahan. Mereka juga perlu dihargai.