kabarmakkah.com

Membingkai larik bergelimang diksi merapal perih

Sudahi gemuruh gulana atas kepergian dibalik senja temaram nan merah.
Tiada guna memang menahan langkah seorang dia. Sementara ikatan yang tersisa hanyalah uluran karib.

Apakah aku saja yang sedemikian bodoh bertahan dalam ketidakpastian yang dia suguhkan?
Benarkah seorang puan tak pantas meminta di saat hati enggan melepas rasa?

Ah, aku memang harus bercermin pada embun yang mengurai di helai dedaun keladi. Agar tahu rasanya menggenggam angin pada hampa yang semata. Nyatanya benar, seorang dia tak pernah peduli akan rasa yang membuncah di relung sanubari.

Dia hanya berkhotbah tentang enggan mencintai sebuah hati meski penuh ketulusan, dia memang pongah melarik kalimat itu.

Hamparan langit biru, senja nan menjingga, malam bersanding purnama syahdu, paduan sempurna melukis patah hati yang sedang kueja. Sungguh semesta tahu akan kisah berawal tak biasa ini.

Apa dia tahu akan dukaku? Apa dia peduli tentang tembang kehilangan yang sedang kudengarkan saat subuh menyapa pulasnya? Dia tak mau tahu pastinya, sebab dia hanya tahu tentang kebohongan yang dia coba terka dari lakuku tanpa pahami isi hatiku.

Kerangka masa lalu kembali terpampang nyata pada memori. Senandung lirih melepas semua jejak rasa terpekik di benakku, salahkah aku bersujud dan bermunajat demi hati yang teraniaya rindu tak bertempat ini? Bisakah dia berkata jujur sedikit saja apakah aku masih mengisi ruang merah di hatinya? Mengapa menghapus jejak rasa tentangnya sedemikian kutatihkan?

Terjaga dari mimpi semalam yang penuh rintih, ada isak pelan menemani pula. Terhela napas mencoba benamkan semua sesak, aku bukan siapa-siapa yang berhati kuat, aku tetap perempuan biasa yang menangis bila terluka, lukaku tak berdarah namun terasa hingga di dada. Lukaku tak bernanah namun menghadirkan pilu pada raga.

 

27 FEBRUARI 2019

4 KOMENTAR