sumber gambar ; islampos.com

 

Jenuh menuai kata bersajak penuh makna
Beriring rima juga diksi menawan sukma
Masih tersisa impian semalam yang mengguratkan tanya
Dimanakah kini sapa yang dulu memenuhi ruang-ruang dialog? Bencikah tuan hingga menyapa pun kini enggan, sudah?

Lalu terbesit alunan vocal menembang sebuah kidung melipur lara. Jangan lagi kau pertanyakan mengapa dua insan tak lagi beramahtamah setelah menjejak rasa dalam ikatan yang telah terberai
Terguguh menatap fana akan kalimat pengingat
Benarkah semua yang berakhir tak lagi mampu bersahabat meski tak saling memiliki? Picikkah pikirku bila berharap kita mampu berdamai dengan masa lalu?

Guratan tanya terus tersirat di ruang inginku
Terasa gamang, memang akhirnya jika memaksa semua harus pada tempatnya
Mengapa kita bertemu bila kenyataannya perpisahan kembali sedemikian pongah memojokkan rasa
Huuff…
Kau tak pernah sekalipun menjawab, lelaki
Kau hanya terus berlalu tanpa mampu kuhenti meski sejenak.

Ini arogan ketidakpuasanmu menerima kepergianku yang sepihak setelah kutahu kau menyimpan rasa pada dia
Dia kekasih yang tak pernah kau beri kata pisah yang membuatku dalam ketidakjelasan rasa
Kau memilih bungkam ketika pekikku memenuhi sekat maya yang berdepa pada kita
Aku kecewa!

Hufff…

Kuhela napas bernada kesal di hening malam yang berjelaga
Terpejam mata menahan lelah menjaga semua amarah
Aku masih berakal dan menjunjung etika malu
Mengejar cintamu sungguh buatku tertatih, namun kau tetap tak peduli. Kau bergeming demi arogan itu.

Lalu kuseka airmata yang menderas sembari menatap pantulan rembulan sepenggal di sudut jeruji jendela
Aku rindu kesendirian ini, namun aku lebih merindu pada hadirmu yang pernah mengisi ruang hampa di hati.

Sebelum malam berganti pagi benderang berteman rasa yang tak lagi sama. Kembali kueja rindu juga balas atas semua pengorbanan. Ternyata pada ucap janji semalam lalu yang bagai putu basi itu, maya dan nyatamu tak lebih dari pecundang rasa yang berkoar semata semu.

 

Celebes, 091118

11 KOMENTAR