Sumber gambar pixabay.com/quangpraha
Penakata – Warisan itu boleh dibagi, tetapi tidak boleh dijual ke orang lain. Secara keluarga, kamu hanya punya surat hak guna bukan hak milik.

 

Sudah lama Pakde Tono terkena sakit komplikasi yang menelan banyak biaya. Bahkan dia meminta cepat mati daripada harus menyusahkan keluarga. Sebagai saudara yang baik, tentu akan mengusahakan kesembuhan. Karena kehilangan itu sangatlah menyakitkan. Selama masih bisa diupayakan, kenapa tidak? Urusan nyawa, harta serasa tidak berharga lagi. Apa pun akan dikorbankan agar bisa sehat kembali.

Tiba pada puncak keuangan yang sudah sangat tipis. Hutang bukan jadi solusi, jalan satu-satunya adalah menjual tanah warisan. Dalam kondisi seperti inilah prinsip akan teruji. Terlebih pada masyarakat desa “Warisan tidak boleh dijual. Pamali!” Saya rasa sebagai manusia yang pernah belajar ekonomi, tidak pernah menemukan hukum seperti ini. Selama itu sudah menjadi hak milik. Sah-sah saja dong untuk dijual.

Saya baru terasa ditampar, saat Malaysia mengklaim Batik adalah milik mereka. Hal ini juga yang membuat Indonesia gencar kampanye tentang Batik adalah warisan budaya yang harus dilestarikan. Apa tanah warisan juga berlaku sama? Harus dijaga dan dilestarikan, tidak boleh dijual apa pun kondisinya. Sedang di masyarakat kota, warisan tinggal dijual lalu dibagi. Sungguh pemikiran kontradiktif yang saling bersebrangan. Celakanya, mereka juga yang kampanye tentang melestarikan warisan budaya. Saya yakin yang tidak dari hati tidak akan abadi.

Untuk membayar biaya rumah sakit Pakde Tono, terpaksa tanah warisan itupun dijual dengan syarat harus dibeli keluarga sendiri. Emak Atik sebagai adik kandungnya menyanggupi untuk membeli. Meskipun dia harus rela mengemis pinjaman di bank. Semua itu demi tanah warisan agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Namun, Pakde Tono tetap tidak bisa diselamatkan dan akhirnya meninggal.

Terkadang saya merasa ambigu dengan mereka-mereka yang gembar-gembor tentang tradisi dan kebudayaan. Kalau menjaga warisan keluarga saja tidak berupaya, apalagi dengan warisan budaya. Bahkan sekarang label agamis mulai menggerogoti warisan budaya nasional. Sedang masyarakat desa tanpa kita sadari sudah menjalankan. Batik sudah menjadi pakaian kebanggaan mereka sejak dulu. Tidak menunggu diklaim bangsa lain.

Terkait warisan tanah yang berupa pindahnya sesuatu dari seseorang ke orang lain, hanya sebab kematian. Kalau dia belum mati juga tidak akan jadi warisan. Sebab ‘kematian’ ini, akan gugur dengan jual beli. Tanah warisan yang dibeli oleh keluarga boleh dijual ke orang lain. Namun, masyarakat desa lebih pintar. Hal yang dicapai dengan keringat dan kerja keras tidak akan semudah itu dijual. Tanah yang dibeli akan benar-benar dijaga dan dilestarikan. Lebih baik diwariskan ke anak daripada menjualnya.

Celakanya kalau anak-anaknya berpikir praktis. Pokoknya dijual, tanpa berpikir susah payahnya orang tua. TidakΒ  ada rasa malu bahwa harta itu didapat bukan karena usahanya. Gimana tidak luntur budaya ini, kalau semuanya berpikiran untung dan rugi. Tiada nilai kemanusiaan dan penghargaan sedikit pun. Gitu kok ngomong lestarikan budaya, mbok ngoco disik le.

Tanah ini bisa kamu miliki, karena proses perjuangan kemerdekaan yang menelan banyak korban. Lantas dengan seenaknya kamu jual ke investor asing. Kalau belum bisa melestarikan, cobalah berupaya menjaga. Kalau belum bisa mengolahnya. Ya belajar! Bukan malah berunding dengan maling.

8 KOMENTAR

  1. 😱😱😱 Sepagi ini sudah bahas warisan?! Wah wah, kayaknya Tuan Jibril sudah dapat warisan dari Emak nih. Bisa jadi juga sudah berharap dapat warisan. Hahaha, ketahuan matrenya tuh. Wkwkwk.πŸ€‘πŸ€‘πŸ€‘

    Pagi, Bang. Lama tidak menyapa di dunia Penakata dan dunia kata-kata milik Brina. πŸ–•πŸ–•

    ** Seumur hidup belum pernah aku berunding dengan maling. Kalau belajar kayaknya sampai aku amnesia baru berhenti tuh * Ups, apa iya , ya? Aku jadi tepuk jidat nih. Ragu dengan diri sendiri wkwkwk. πŸ€•πŸ€’πŸ€“