Sumber gambar pixabay.com/terimakasih0

Pada saat itu saya membaca dari sebuah daring tentang menulis sebagai media terapi. Serasa tidak asing dan terasa dekat. Ini juga yang terkadang saya sharingkan bersama kawan-kawan. Meskipun menulis adalah pilihan dari sekian banyak opsi. Namun tidak ada salahnya kita mencoba.

Salah satu kawan pernah bertanya “ngapain kamu suka menulis?” Sebuah pertanyaan yang kadang tempo terasa aneh. Sebagaimana pertanyaan “kenapa kamu suka makan bakso?” Meski tidak sama saya yakin serupa. Nanti loe juga paham.

Saat itu ada satu kawan yang membeli buku tentang Kahlil Gibran. Saya pinjam dan mencoba menikmati puisi-puisinya. Indah dan mendalam serta sederhana. Tanpa sedikit pun menilai. Seperti yang saya utarakan, mencoba menikmatinya. Pada saat yang lain ada teman membeli buku Laila Majnun. Cerita yang indah dengan gaya bahasa yang menyentuh. Sekali lagi tidak ada niat untuk menilai hanya menikmati.

Puisi menjadi jalur pertama yang saya pilih untuk mengungkapkan berbagai hal. Rasa marah, rasa cinta, rasa senang, protes, dan juga tanda-tanda peristiwa. Entah sudah berapa banyak puisi hilang dan lenyap bersama orang-orang yang membawanya. Itu pun lebih baik daripada saya harus menanggung malu karena bahasa sastra yang wagu.

Bagaimana tulisan itu bisa menjadi terapi? Seperti halnya menahan emosi diri. Sungguh sangatlah berat dan menyiksa. Apalagi masih waktu labil dan belum cukup dewasa. Tentu yang akan bicara adalah amarah dan nafsu. Hal ini pastinya akan merugikan diri. Apalagi Tuhan serasa jauh dari kehidupan. Bisikan setan sudah seperti firman dan perintah untuk dikerjakan.

Saya sendiri tidak tahu, kenapa puisi menjadi alternatif pilihan? Saat marah memunca, saya akan ketik sebuah tulisan lalu kukirim pada teman-teman dekat. Terkadang juga buka komputer dan mengetiknya di notepad dan menyimpannya di folder. Untung saja komputer itu rusak dan sms juga tidak disimpan. Sehingga tidak ada rekam jejak masa lalu yang perlu diratapi.

Tapi pada umumnya semua itu adalah kegiatan menulis. Masa masih belajar mengoretkan pena dan kata. Masa jadul di era Nokia merajai dunia perponselan. Tapi sayang aku tidak pernah menang dalam lomba puisi. Puisiku hanya indah pada orang-orang tertentu. Seperti masak namun yang suka hanya kawan dekat.

Seperti itulah teman paling pengertian. Hingga dia membeli buku tulis tebal dan dikasihkan padaku. Katanya ” isi sesukamu.” Berasa berarti kata-kata sampah ini. Tidak kusisakan tanpa tulisan satu lembar pun buku tulis itu. Sebuah antologi puisi analog pertama yang pernah aku buat.

Terlepas dari semua itu. Rasa berdosaku pada guru-guru bahasa menyarankan masuk jurusan sastra. Sedang aku mengelak karena merasa ini hanyalah terapiku bukan jalan hidupku. Menerapi diri lewat menulis tidak ada sedikit pun ingin menjadi penulis. Kalau sampai sekarang aku masih menulis. Sama halnya sampai saat ini aku masih suka makan bakso.

Apakah kalian punya pengalaman terapi diri lewat menulis? Yuk berbagi!

10 KOMENTAR

  1. Aku pertama kali memulis dulu kelas 3 SD dipaksa ikut lomba menulis narasi dalam rangka HUT TNI AL tingkat Kabupaten/Kota. Pertama kali berpikir keras bagaimana menulis yg baik belum tahu bener salah. Eh ga nyangka menang juara 2 dapet piala sampe sekarang piala dipasang di display prestasi sekolahku. Jadi motivasi..