Hai, namaku Gotri. Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Namun tidak buatku, sebab semakin mengenalku semakin aku tak pantas disayang. Kalau tidak percaya, duduk saja dan dengarkan apa yang akan aku ceritakan padamu. Kau boleh menutup telingamu sekiranya kamu tidak kuat atau merasa apa yang aku ceritakan itu begitu tabu dan tak pantas didengar. Sebab aku tak ingin menyensor semua yang keluar dari mulutku.

Jika kamu sudah siap, duduklah yang manis dan buka telingamu lebar-lebar. Aku akan mulai bercerita padamu.

Cerita ini dimulai saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya saat aku masih kelas 2. Di mana masa itu adalah masa yang punya anggapan bahwa untuk menjadi keren harus melakukan hal-hal yang bukan kebiasaan anak kecil lakukan. Sebagai contoh merokok. Ya, aku merasa bila merokok aku akan terlihat keren. Sungguh pikiran yang begitu polos, menurutku sendiri. Sebab sebagai anak kecil, rasa penasaran itu adalah hal yang wajar.

Aku tidak sendiri dalam melakukan hal keren itu. Aku bersama kedua temanku. Aku perkenalkan dulu mereka padamu. Ada Supri yang selalu dipanggil dengan sebutan Kancil karena tingkahnya yang lincah seperti Kancil. Ada juga Eko yang selalu dipanggil dengan sebutan Kodok.

Namanya juga anak SD, tidaklah mudah untuk merokok. Banyak faktor yang membuat hal itu begitu sulit dilakukan. Salah satunya adalah sulitnya untuk mendapatkan rokok tersebut. Mau beli, sudah pasti tidak akan dikasih oleh sang penjual. Meski sebenarnya itu bisa disiasati dengan dalih cuma disuruh. Tapi lebih baik menggunakan cara lain saja yang lebih hemat tanpa keluar biaya, yaitu dengan cara mencari puntung rokok dari sisa orang-orang.

Aku bersama kedua temanku mulai mencari. Menjadi pemulung puntung rokok yang berserakan di jalan. Ada banyak puntung rokok yang kami kumpulkan di kantong plastik yang sudah kami sediakan. Di sisi lain, ini sungguh miris, melihat begitu banyak puntung rokok yang dibuang sembarangan. Sebab itu bisa saja menjadi pemicu sebuah kebakaran.

Setelah dirasa cukup, kami menuju ke tempat persembunyian kami yang berada di Sekolahan. Tepatnya di sebuah koridor yang dipenuhi oleh bangku-bangku rusak. Mungkin bagi pihak Sekolahan itu dinamakan gudang, tapi kami sebut itu markas. Tempat kami bertiga bersembunyi dan bermain.

Di markas, kami pilih dan pilah puntung rokok tersebut. Mencari rokok yang paling panjang untuk kami hisap. Semua sudah membawa puntung rokok sesuai pilihan masing-masing. Namun ada yang mengganjal dan membuat kami bertiga merasa menjadi anak-anak bodoh. Bagaimana bisa rokok menyala tanpa adanya korek. Mungkin kami terlalu bersemangat saat mencari puntung rokok sampai-sampai melupakan korek.

“Kamu ambil korek dulu sana, Cil!” ucapku.

“Iya sana! Kan rumahmu paling dekat,” lanjut Kodok.

Kancil tak bisa melawan lagi. Dengan gesit dia berlari untuk mengambil korek di rumahnya. Tak sampai sepuluh menit, Kancil sudah kembali dengan nafas yang terengah-engah.

“Akhirnya datang juga,” ucapku.

“Mana koreknya, Cil?” tanya Kodok.

“Gak jadi ambil korek aku,” jawab Kancil.

“Loh, gimana sih?” ucapku.

“Iya nih. Kan tadi disuruh ambil korek?” lanjut Kodok.

“Lah gak dibolehin sama Simbok,” jawab Kancil.

“Emangnya tadi gimana kok sampai gak dibolehin sama Simbokmu?” tanyaku.

“Kan tadi Simbok lagi di dapur, terus aku bilang mau pinjem koreknya. Terus Simbok tanya, mau buat apa? Ya aku jawab buat mainan. Terus Simbok malah marah-marah. Ya aku langsung kabur,” jawab Kancil.

“Terus ini nyalahin rokoknya pakai apa?” ucapku.

“Gantian kamu yang ambil ke rumahmu, Tri,” ucap Kancil.
Namun Si Kodok lah yang akhirnya pulang untuk mengambil korek karena lebih dekat ketimbang rumahku.

Sepuluh menit berlalu. Seharusnya Kodok sudah sampai di tempat kami menunggu mengingat rumahnya tak begitu jauh. Lima belas menit pun Kodok belum terlihat batang hidungnya. Itu yang membuat akhirnya aku dan Kancil pergi menyusul ke rumahnya.

(Bersambung)

8 KOMENTAR

  1. 😱😱😱 Kak, ini kisah nyata atau hanya fiksi saja? Kalau mereka merokok, kayaknya aku harus langsung kabur deh. Soalnya, aku alergi asap rokok. Kalau berada satu ruangan dengan perokok, aku kayak mau mati karena enggak bisa napas. Wkwkwkkw. Menyedihkan sekali. Hiks.😢😢

    Maksudnya nyalain alias menyalakan, bukan nyalahin kali, Kak. Benar, ‘kan? Beda makna solanya, Kak. Aku enggak protes loh, Kak. Kalau protes, aku pasti banyak yang benci dan musuhku bertambah tanpa aku sadari. Hehehhe. Damai ah, Kak. Di tempatku hujan soalnya. Aku baca part 1 dulu, lanjutannya nanti kalau senggang.😄😅