Aku dengar pintu rumah terbuka. Suara derap langkah yang semakin jelas membuat degup jantungku pun semakin jelas pula. Dalam keadaan berbaring memeluk guling, aku pura-pura tidur sambil terus berdoa kepada Tuhan. Hingga tahu-tahu aku terbangun oleh suara adzan magrib.

Sebenarnya aku tak ingin keluar kamar dan tidur kembali untuk menghindari bertemu dengan Ibuku. Namun rasa kebelet kencing tak bisa aku tahan lagi. Terpaksa aku keluar dengan cara mengendap-endap agar tak terdengar oleh Ibuku. Sialnya, ternyata Ibuku berada di dapur. Sepertinya belum selesai meracik teh untuk Bapakku. Suatu rutinitas sebagai istri Bapakku di waktu magrib.

“Baru bangun?” ucap Ibuku.

Dengan debar jantung yang seperti genderang aku menjawab, “Iya, Bu.”

“Ya sudah, makan dulu sana,” lanjut Ibuku.

“Iya nanti, Bu.”

Pasti kamu heran mengapa Ibuku tak memarahi atau pun memberi hukuman kepadaku. Justru malah menyuruhku untuk makan.

Aku pun heran. Rasa takut yang sedari tadi hinggap, bahkan sedari Ibuku melihatku berada di markas, seketika berubah menjadi sebuah pertanyaan. Mengapa Ibuku tak bicara soal rokok itu?
Otakku mulai berpikir dan kembali ke kejadian tadi. Aku pikir sambil kencing, ternyata seperti ini. Ketika Ibuku melihat ke arah di mana aku, Kodok dan Kancil duduk, Ibuku hanya melihat kepala kami, tapi tidak melihat apa yang kami bawa. Bahkan sepertinya saat itu, kami tidak sedang menghisap rokok tersebut.

Ternyata melakukan tindak kenakalan mampu mempengaruhi otak bawah sadar hingga rasa takut itu muncul dengan sendirinya. Lebih gampangnya seperti ini, ketika pengendara motor yang tak memiliki SIM, melihat polisi berada di pinggir jalan, pasti secara otomatis pengendara motor itu takut dan bergegas putar arah. Padahal polisi tersebut sedang mengurusi lakalantas.

Mungkin kamu pernah merasakan hal seperti itu, suatu kesalahan membuat kamu merasa takut dengan berlebihan.
Ah, betapa leganya hatiku bersamaan dengan leganya milikku setelah mengeluarkan air seni yang begitu banyak.
Semenjak kejadian itu, bukanya aku kapok tapi malah membuat aku penasaran.

Hingga keterusan. Bahkan di kelas 6 aku sudah berani merokok dari hasil membeli, bukan lagi hasil mencari puntung rokok.

Namun bagi kami yang masih saja belum dewasa, sepuntung rokok dengan sebatang rokok baru itu sama saja rasanya. Hanya beda di gaya saja. Ya, kami sudah mulai bergaya layaknya orang-orang dewasa.

Kami bertiga mulai belajar mengeluarkan asap dari hidung seperti yang kami lihat pada orang-orang dewasa lakukan dalam merokok. Selain itu, ada juga yang mengeluarkan asap dengan membentuk asap tersebut menjadi lingkaran. Kami sering memperhatikannya, merekan mimik bibir mereka saat melakukannya.

Betapa senangnya kami saat bisa melakukannya, mengeluarkan asap dari lubang hidung. Tapi untuk asap yang membentuk lingkaran, kami selalu gagal melakukannya. Entah rahasia apa yang membuat orang-orang dewasa dengan mudah melakukannya.

Aku sempat berpikir, rahasianya adalah menjadi dewasa lebih dulu. Tapi ternyata aku salah, saat aku sudah duduk di bangku SMP, aku mulai bisa melakukannya. Dan ternyata rahasianya adalah adanya kemauan belajar yang rajin. Ini sebenarnya bukan hanya untuk merokok saja. Namun bisa diterapkan di mana saja. Sebab di mana ada kemauan belajar di situ ada kesuksesan.

Namun saat aku sudah beranjak dewasa, bahkan sudah setua sekarang ini, rokok tak membuatku menjadi pecandu seperti orang-orang yang katanya kalau jika tidak merokok, mulut terasa kecut. Di situ aku menguji coba, mencari rasa kecutnya di mana, saat aku tak merokok seminggu. Dan memang tak kutemukan rasa kecut itu. Ah, mungkin itu hanya kiasan saja atau memang itu dikhususkan bagi pecandu saja. Buatku yang hanya merokok sebagai trend, pelampiasan stres dan biar tak dibilang banci, merokok dan tidak itu sama saja rasanya.

Ya, aku merokok tapi bukan perokok. Aku kerap merokok tapi bukan pecandu rokok.
Pernah suatu masa di mana aku sudah bekerja, di situ aku mulai mengenal asap yang lain. Asap yang berasal bukan dari daun tembakau, namun daun lain. Daun yang dilarang oleh negara, daun yang bisa membuat orang dipenjara jika kedapatan memilikinya.

(Bersambung)

12 KOMENTAR

  1. 😱😱😱 Aku kok ngakak tak berkesudahan pas baca yang leganya milikku setelah mengeluarkan air seni. Wkwkkwkkw, maafkan daku, Kak. Rasanya aneh saja hahahhaha.😂😂😂✌

    Gotri, kalau aku bertemu kamu, aku ingin menguburmu hidup-hidup. Sungguh! Wakakak.😵😵😵