Pixabay.com

Dari semalam, ada perasaan galau tak berkesudahan yang kualami. Mungkin kamu pernah mengalaminya juga, ketika tidak dipercaya, tidak dianggap, diremehkan, yang paling parah adalah dilabeli negatif oleh pendapat orang lain. Sedih pasti, bingung dan bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi? apa yang salah? apa yang benar? Dan semakin membenak semakin banyak kemungkinan hadir. Bukannya membaik, justru keadaan jadi semakin rumit.

Sebenarnya tidak akan rumit, kalau persoalan suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, senang atau benci itu diutarakan secara personal. Tapi lain cerita, jika apa yang seharusnya bisa selesai di jalur pribadi malah diketikkan dalam bentuk tulisan. Dibaca banyak orang, sudah tentu menimbulkan asumsi dan pendapat lain.

Memang aku pernah dan sering bilang Benar dan Salah Hanyalah Soal Perbedaan Sudut Pandang. Tapi, ketika ada omongan tidak enak atau kalimat sindiran tertuju padaku, tetap saja aku akan memikirkannya juga. Apalagi kalau itu berkaitan dengan apa yang kujalani saat ini. Apa yang sedang kucari, yang ingin kugenggam, yang ingin kupunya.

Kalau kamu terpengaruh itu lumrah, sebab aku pun merasakannya. Terkadang apa yang kita perbuat jadi serba salah, apa yang dikatakan tanpa sadar ternyata menyakiti hati orang lain. Menurutku sudah benar, tapi menurut mereka belum tentu. Kalau sudah begini lantas aku bisa apa?

Membenarkan diri? Percuma.

Mau menjelaskan? Tidak ada gunanya.

Membalas sindiran dengan sindiran? untuk apa juga, kalau begini apa bedanya aku dengan mereka.

Tadinya aku hendak berbalik arah, kepikiran untuk menepi dan cukup menikmati pemandangan di mana aku hanya bisa bermimpi. Membiarkan orang-orang mengejar dan aku diam di tempatku berdiri.

Lalu banyak pertanyaan muncul di kepalaku dan aku menjawabnya.

“Demi apa dan siapa kamu melakukannya?”

“Demi sesuatu yang tidak bisa kukatakan pada khalayak umum. Untuk dia dan mereka yang mungkin satu saat nanti perlu kugenggam tangannya.”

“Sekarang apa iya, kamu akan berhenti mendaki hanya karena satu dua orang menyorakimu, menganggapmu tidak pantas melihat pemandangan dari atas sana?”

“Tidak. Aku akan buktikan pada mereka. Tidak ada yang mustahil selama kakiku masih bisa berdiri dan tekadku belum terkikis.”

Ya, aku hanya perlu meyakini niat ini. Bukan demi apa, siapa dan karena apa? Bukankah mimpi itu terlalu indah jika aku hanya membiarkannya menjadi bunga tidur. Sesaat dan semu.

Meski aku tahu dan sudah ada yang mengingatkanku, jalan di depan sana akan lebih terjal. Bebatuannya lebih licin. Belum lagi hujan dan angin yang bisa kapan saja datang tanpa pertanda.

Di saat yang sama aku teringat bahwa, aku tidak bisa menjadi benar di mata semua orang. Aku tidak bisa menjadi baik di setiap sudut pandang mereka. Karena perbedaan satu orang dan orang lain memengaruhi penilaian atas subyek dan obyek yang sama.

Untuk kamu yang mungkin sedang berada di posisi yang sama, jangan jadikan penilaian orang melemahkanmu, apalagi sampai menyerah. Karena, pasti masih ada orang yang menganggap diri kita baik dan benar, pun selama tidak merugikan siapa-siapa, kenapa harus berhenti? Never stop sebelum mimpi itu jadi nyata.

Konsisten dengan apa yang dikerjakan dan percaya. Be the best and keep helping each other. Just that. Be yourself and keep kindness in your way.

 

 

Sore ini, ditemani rintik gerimis dan lagu Believe Me by Fort Minor

15.32

12 April 2019

11 KOMENTAR