Sumber gambar Pixabay.com/DizzyRoseBlade

Jam makan siang telah usai, tapi tempat makan cepat saji yang kami datangi sore ini masih penuh. Aku memesan ayam tepung dan mocca float untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sejak aku dan Mona bekerja di lab tadi. Penelitian di lab yang tidak menentu membuat makan pagi digabung dengan makan siang atau makan siang bergeser menjadi makan malam.

Mona masih menunggu pesanannya yang belum datang-datang juga, bahkan ia telah menghabiskan setengah mocca floatnya. Aku juga belum memakan ayam tepungku, tidak enak jika harus makan duluan, begitu juga dengan Deny walaupun dari tadi matanya tidak berhenti menatap burger yang ia pesan. Deny yang duduk di sampingku kemudian menyikut lengan kiriku.

“Itu tangan, coba lihat” ucap Deny seraya memonyongkan bibirnya.

Aku hanya bisa memandangi penampakan jari tanganku yang mulai memerah dan membeku.

“Ini nih yang katanya mau lanjut studi ke luar negeri, pengen megang salju. Lah megang gelas mocca float aja tangannya sudah beku” cerocos Deny, kemudian segera menggigit burgernya setelah melihat pesanan Mona datang.

Mendengar ucapannya, aku hanya tersenyum, ucapan temanku ini ada benarnya juga. Ayam tepung milikku yang mulai hilang kehangatannya tidak bisa segera aku santap, tanganku yang membeku terasa sangat sakit untuk sekedar memegang ayam tepung.

Aku pergi ke tempat mencuci tangan, membiarkan tanganku yang membeku diguyur air dari keran wastafel yang sebenarnya juga dingin.

“Tangannya kenapa?” tanya seseorang di sampingku yang juga sedang mencuci tangannya.
“Beku Mas” jawabku.
“Hah…beku?” tanyanya lagi dengan raut wajah heran.
“Tangan saya beku Mas, tadi habis megang mocca float, jadinya ya gini” jawabku seraya menunjukkan tanganku yang masih tetap memerah dan membeku walaupun sudah tiga menitan diguyur air.
“Oh…” dia ber-oh-panjang.
“Pakai hand dryer aja Mbak, kan udaranya hangat, siapa tahu lebih cepat cair tangannya” ini orang ngajak bercanda kali ya, masa tanganku harus jadi cair, tapi idenya lumayan juga sih.

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih atas saran yang ia berikan, dia telah berlalu. Aku segera mengikuti sarannya, beberapa kali aku meletakkan tanganku di bawah hand dryer hingga anak kecil yang duduk tidak jauh dariku melirik dan pelayan tempat makan menatapku heran, mungkin mereka menganggap aku terlalu kampungan yang bemain-main dengan hand dryer.

Setelah dirasa cukup, aku menghentikan kegiatan mencairkan tanganku yang beku, paling tidak rasa sakitnya berkurang dan aku bisa menyantap ayam tepungku yang sekarang telah dingin.

Selesai makan kami bersiap-siap kembali ke lab, untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat ditinggal karena urusan perut tadi. Di parkiran aku disapa oleh seseorang.

“Jari tangannya yang membeku sudah mencair ya Mbak?” Mas yang tadi, entah serius bertanya atau bercanda, kemudian dia tersenyum.

Aku tidak bisa membalas ucapannya, hanya tersipu malu dan berlalu.

“Ciye…siapa tuh?” tanya Mona.
“Adalah” jawabku sekenanya.

6 KOMENTAR