Sumber gambar: IJak

If God wants it to be, it will be. If not thats’s not what you need. (hlm. 88)

Judul Buku: More Than Words
Pengarang: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 228 halaman
Tahun Terbit: Maret 2015
ISBN: 978-602-03-1355-9

Blurb

Marvel Wongso punya segalanya. Muda, cerdas, anak orang kaya.

Rania Stella Handoyo kebalikan dari semua itu. Murid beasiswa, sederhana, beusaha bertahan hidup di Singapura dengan tiap lembar dolar yang dimilikinya.

Mereka menyimpan rasa untuk satu sama lain, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Ketika berhasil terucap pun, yang satu selalu menganggap yang lainnya tidak bersungguh-sungguh.

Dikejar keterbatasan waktu, mampukan Marvel dan Rania memaknai cinta itu lebih dari sekadar kata-kata?

Sinopsis

Marvel (20 tahun) dan Rania (19 tahun) adalah dua anak muda Indonesia yang menuntut ilmu di Singapura. Mereka menjadi dekat dan saling mencintai karena tergabung dalam satu komunitas pelayanan di gereja yang sama. Meskipun mereka saling mencintai, tetapi untuk bisa menjadi sepasang kekasih adalah sesuatu yang sangat sulit untuk mereka wujudkan.

God’s Love, gereja yang menaungi mereka membuat peraturan ketat bahwa pacaran boleh mereka lakukan bila mereka sudah mantap menuju ke jenjang pernikahan. Pacaran adalah hal yang serius, bukan main-main. Jadi, tidak ada acara menggaruk tanah karena patah hati. Tidak ada tebar pesona dan flirting terhadap lawan jenis.

Marvel tidak bisa mengikuti peraturan itu. Sikon memaksanya untuk segera menyatakan perasaannya pada Rania bila dia tidak ingin kehilangan gadis itu. Marvel sangat yakin bila Rania yang pintar, baik, dan sederhana adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya. Namun, Marvel juga ragu dan bingung seandainya ia mengungkapkan isi hatinya dan Rania menolaknya. Selain itu, Marvel pun merasa egois bila harus “mengikat” gadis itu dan meninggalkannya. Marvel menyadari bahwa hubungan jarak jauh tidak semudah itu.

Sementara Rania yang anak beasiswa dan dari keluarga sederhana harus hidup irit selama tinggal di Singapura, merasa tidak percaya diri cowok seperti Marvel akan mencintainya. Status ekonomi dan sosialnya dengan Marvel bagaikan bumi dengan langit. Kenyataan ini pula yang membuat Rania ragu menerima Marvel seandainya cowok itu menyatakan cintanya.

Mampukah mereka mewujudkan keinginan mereka untuk bersatu dan mengatasi segala masalah yang ada? Jawabannya, baca sendiri.

Ini untuk kedua kalinya saya membaca novel More Than Words. Pertama baca tiga tahun lalu dengan meminjam dari perpustakaan digital. Kalau lihat pembacanya lumayan juga, sudah 900 lebih. Tiga tahun lalu saya harus mengantre untuk membaca novel ini karena banyak yang meminjam.

More Than Words adalah karya kesekian dari Stephanie Zen yang saya baca. Penulis kelahiran Surabaya, besar di sana, dan sampai sekarang masih menetap di Singapura ini telah melahirkan cukup banyak karya, terutama yang bergenre teenlit. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Bahkan, bisa dibilang ringan, layaknya kisah remaja dalam novel teenlit. Tidak ada konflik berat yang menguras pikiran dan hati antara Marvel dan Rania, serta tokoh lain dalam novel ini. Namun, jalinan kisah dalam novel ini dirangkai dengan manis dan mengalir dengan baik. Sayang saja kalau saya harus melewatkan cerita ini. Alasan itu juga yang membuat saya tertarik membacanya kembali untuk mengikuti challenge Penakata.

Oya, untuk sampul buku pada novel ini bisa dibilang sederhana, tetapi buat saya cukup menarik. Suka saja. Untuk alur, menggunakan alur maju sehingga ceritanya mudah diikuti. Sedangkan sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama secara bergantian, dari sudut pandang Marvel dan Rania.

Banyak pesan moral yang saya dapat dari cerita ini. Bagaimana mereka melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Bagaimana doa menjadi pegangan mereka yang mengandalkan Tuhan dalam mengatasi masalah. Hal yang saya suka dari buku ini dan membuat saya tidak bisa kasih komentar adalah konsep pacaran dalam komunitas mereka yang hanya boleh dilakukan bila serius menuju pada pernikahan, bukan sekadar bersenang-senang.

Layak deh sebagai anak muda untuk membacanya karena banyak nilai positif di dalam cerita ini. Tentang hubungan asmara yang benar, komitmen yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan, serta tunduk pada orang tua.

Rasanya manis sekali membayangkan cowok semuda Marvel benar-benar melibatkan Tuhan dalam kehidupannya, begitupun dengan Rania. Saya rasa, siapa juga cewek di dunia ini yang tidak ingin punya pasangan seperti Marvel. Nah, ini yang mengganjal di benak saya. Rasanya ragu dan salut juga sih bila ada cowok semuda Marvel sudah punya pikiran dewasa, santun, tidak sombong, perhatian dan peduli, kuliah di luar negeri, bahkan bersiap mengambil master-nya di Amerika. Wah wah! Yang menjadi pertanyaan saya, Tuhan kirim di belahan dunia mana cowok model Marvel? Wih!

Sayangnya, penerbit sekelas GPU pun tidak lepas dari typo, bahkan tidak sesuai dengan KBBI dan PUEBI. Lumayan banyak juga yang tertangkap mata saya.

  • Orang tua (Seharusnya dipisah, tetapi GPU selalu dirangkai. Mungkin selingkung di sana)
  • Jomlo, bukan jomblo
  • Khawatir, bukan kuatir
  • Turkuois, bukan turkois
  • Perhelatan, bukan perlehatan (hlm. 95)
  • Mencelus (hlm. 112 – rancu sekali)
  • Transpor, bukan transport (hlm. 116)
  • Ra-sakan (hlm. 130, seharusnya tanpa tanda hubung)
  • Memberi tahu, bukan memberitahu (hlm. 160, 199)
  • Frasa, bukan frase (hlm. 168)
  • Plinplan, bukan plin-plan (hlm. 202)
  • Penggunaan elipsis (…) dari awal sampai akhir cerita, tidak didahului spasi.
  • Penggunaan kata “dan” diletakkan pula pada awal kalimat. Kata penghubung “tapi” yang baku “tetapi”, seharusnya menggunakan “namun” karena menghubungkan antarkalimat, bukan intrakalimat.

Beberapa kalimat favorit dalam novel ini:

  • She did a simple thing for me. Just washed the spoon and gave it to me without I’m asking for it. She knows what I need even before I said it. I’m just twenty years old, thank you, but you don’t need to be thirty five to know that you’ve probably met the one you want to spend the rest of your life with, right? (hlm. 13)
  • She’s extraordinary. She deserves no ordinary man like me. (hlm. 79)
  • Marvel yang selalu nyambung sama lo, yang saat kalian berdua ngobrol kalian bisa lupa waktu dan lupa sekeliling, seolah kalian punya dunia sendiri. (hlm. 87)
  • Berapa banyak cowok seperti itu yang bisa kita jumpai dalam hidup kita, Ran? Nggak banyak. (hlm. 87)
  • Jangan nilai diri lo berdasarkan apa kata dunia atau kata orang lain. (hlm. 87)
  • Bagaimana lo tahu cinta itu pantas diperjuangkan? Bagaimana lo tahu air mata yang lo dapat karenanya nggak akan melebihi senyum dan tawa yang lo terima darinya? (hlm. 105)
  • Lo yang memutuskan apakah hubungan itu layak dijalani atau nggak sebelum lo memulainya. Faktor yang menentukan adalah dengan siapa lo memilih untuk menjalani hubungan ini? (hlm. 106)
  • Cowok sangat rentan selingkuh. Ketika mereka punya pacar, mereka butuh fisik pacar mereka ada, bukan hanya hati …. Keberadaan, bagi sebagian besar mereka haruslah solid, bukan abstrak. (hlm. 183)
  • Dan jika kamu sudah menemukan seseorang yang dengannya kamu tahu bisa berkomitmen, bahwa perasaanmu terhadapnya melebihi ketertarikan fisik ataupun emosional, berdoalah untuknya. Bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Yang paling penting, tunjukkan kesungguhanmu kepadanya. (hlm. 190)

Mereka percaya bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Saya pun percaya. Amin.

Akhir kata, maaf bila ada salah kata atau kata-kata yang menyinggung perasaan.

Rating 3/5.*

17 KOMENTAR

  1. Cowok sangat rentan selingkuh. Ketika mereka punya pacar, mereka butuh fisik pacar mereka ada, bukan hanya hati …. Keberadaan, bagi sebagian besar mereka haruslah solid, bukan abstrak. (hlm. 183)

    Ini bener banget kenapa cowok itu kurang suka saling chat tapi lebih suka bertatap muka secara langsung. Mereka lebih suka kontak fisik dan melihat visualnya wanita. Jadi adakah pria yang setia di sana yang berkutat dengan jarak misalnya. Think deeper 😂😂😂.

    Aku suka lagunya westlife dengan judul yang sama ini Kak Ana more than words hihii…..

    • 😂😂😂 Wakakak, kamu jeli banget pilih kalimat favoritnya. Waduh! Semangat, Bon. Jangan terlibat cinta lokasi, ya?

      Ada saja, Bon. Adikku salah satunya. Sudah enam tahun masih langgeng tuh. Tergantung orangnya, Bon. Kalau mereka sudah berkomitmen, ya bertanggungjawablah dengan komitmen yang mereka buat bersama. *Apakah ini curcolmu, Bon? 😉😁😱

      Aku pun suka. Liriknya oke, ‘kan? 😍

      • 😂 sedikit aroma curhat entahlah Kak Ana. Aku lebih suka cilok kalo cinlok itu bisa macem-macem misalnya dengan sesama teman di kantor, di cekolah, di kampus atau di mana aja. Yang mungkin dulu kita tidak pernah sadari tetiba dipertemukan dan muncullah chemistry wkwkkk……
        Itu cinlok apa cilok ya Kak 😁😁😁.
        Pagi Kak Anna yg suka ngusilin Ibbon semoga kau tetap usil dan bersahabat denganku eaakkk. Ingin ketemu Kak Ana di dunia nyata 🤗🤗🤗🤗

        • Pengen banget kamu aku usilin. Enggak marah atau terluka kamu, Bon? Kuharap enggak ya? Enggak ada maksud juga. Hehehe. 😆😆

          Bon, sudikah kamu pakai fp? Rasanya hampa banget perasaan dan hati kamu kalau tanpa fp tuh? Enggak seperti yang aku bilang, ‘kan? Wkwkwk. *bercanda😝😜

          • Aku merasa tertampar karena tulisan orangtuaku enggak dipisah 😂 aku lupa wkwkk. Bisa diedit enggak ya 😁. Ketimbang aku labil gonta ganti profil lebih baik kaya gitu aja Kak aman 😂😂😂

  2. Rinci sekali, Kak Ana 💖 saya suka saya suka 😘

    Btw, aku mau ngobrol dikit sama Kak Ana. Bukannya kalau POV satu bergantian, ada beberapa penerbit melegalkan ketidakbakuan dalam narasi?

    (Maaf, aku mulai sok tahu lagi)
    Jadi misal tokoh A, dalam narasi juga pakai bahasa sehari-hari, jauh dari kata dan kalimat baku. Bahkan banyak bahasa slang baik Indonesia maupun manca. Apalagi untuk genre teenfic dan young adult. Balik lagi ini tergantung selingkung penerbit.

    Ini aku sama tim, lagi tester. Gimana kalau POV satu bergantian itu tetap menerapkan kata dan kalimat baku dalam narasi? Alhasil, banyak yang kesulitan, ujungnya aku malah diminta ikut tester juga sekalian nyontohin. Ternyata emang susah, over diksi jadinya, padahal si tokoh bukan orang dari dunia sastra 😌 ini kenapa aku malah curhat juga. Maafken, Kak, maafken. 😅

  3. Pagi, Kak Fi. Tetap sangat berkarya dan semoga sukses. 😘

    Tergantung penerbitnya juga sih. Kalau narasi biasanya harus baku. Kalau percakapan selalu ada kelonggaran tuh. Misalnya menggunakan kata “nggak”, bakunya kan “enggak”.

    Kalau aku membiasakan diri saja agar disiplin. Cerpen remaja juga aku kerap pakai kalimat baku dan lolos juga kok masuk media remaja. Balik lagi ke cara kita bercerita, itu juga jadi poin penting. Karena itu, kita harus tahu juga aturan penerbit yang akan kita tuju. Supaya enggak bikin repot editornya. Editor juga enggak mau waktunya tersita untuk mengedit tulisan kita yang amburadul, sekalipun tulisan kita bagus dan “menjual”. Bikin capek mata dan lelah hati. Ini kenyataan kok. 😉😉

    Yap, penerbit tertentu selalu punya aturan sendiri. Meski mereka tahu itu tidak baku, mereka akan menggunakannya. Mereka bertanggung jawab atas kebijakan ini. Contohnya kata “orang tua”. GPU selalu merangkainya. Coba deh baca novel imprint KPG yang lain. Ada yang dirangkai, ada yang tidak. 😁

    Aku rasa bisa kok. Cobalah, segala sesuatu harus dimulai dan dibiasakan kok. Berusaha disiplin menyenangkan kok. Memudahkan kita menembus media tertentu. Aku merasakannya. Tidak ada sesuatu yang sia-sia kalau kita serius dan melakukannya dengan cinta. Eeeeeeakkk, bahas cinta lagi deh.😱😱

    Oya, aku melakukan bikin cerpen dengan POV bergantian dan lolos. Aku dapat dobel poin, eh malah triple deh kalau dihitung dengan view-nya. Wkkwwk. Cuma, ya gitu deh karena lahir dari kepala yang sama, kurasa cara bercerita dari dua karakterku ini masih sama. Harusnya beda. Aku baru melakukannya sekarang. Teman-temanku sudah semua. *Curcol sedikit nih. Sekadar berbagi pengalaman.😊😍

    Ah, Kak Fi, tetap semangat, ya?! Jangan pernah lelah berkarya dan bermimpi. Pepet tuh Tuan Jibril dan bangunlah mimpi setinggi mungkin. Aku berharap kalian berdua selalu semangat dan berhasil mencapai impiannya. *Ish, basah nih mata.😇😇

    * Jangan merasa enggak enak denganku. Aku baik kok. Cuma rada pedes saja. Wkwkwk. Pembelaan diri.😉😆

    • Terima kasih support-nya, Kak Ana.

      Kalau untuk membuat dua karakter yang beda saat pergantian POV, insya Allah aku sudah bisa melakukannya. Udah ada beberapa judul yang pakai POV bergantian, tapi tulisanku sendiri enggak kolab. Malah itu karya sebelum aku kolab dengan Uda. Coba terus, Kak nanti juga mudah kok, berganti POV. Semangat.

      Untuk kata orang tua dan orangtua sebenernya emang beda penggunaan kan ya, hehee ada penerbit yang patuh ada yang enggak.

      Aku suka yang pedes-pedes Kak Ana. Nggak ada kata ‘Nggak enak’ aku malah suka banget hehee

      Btw, Jibril Muda itu siapa ya, Kak? 🤣🤣🤣 Aku enggak kenal, kenalin dong. Kok do’anya untuk ‘kalian berdua’? 🤔

      But, apapun doanya aku aminkan. 💖💖💖

      • Coba deh baca lagi tentang kata majemuk. Nah, “orang tua” itu adalah kata majemuk (cari deh definisinya, nanti mengerti) dan penulisannya harus dipisah. Sebab, kata majenuk adalah gabungan kata yang memiliki arti baru.😊😉
        Baik “orang tua” yang berarti ayah dan ibu (parents), maupun “orang tua” yang berarti orang yang sudah tua. Tidak ada kata “orangtua”. Balik lagi pada selingkung pada tiap penerbit itu. Kalau aku sih selalu cari aman saja mengikuti KBBI. Sayangnya, kadang editor sendiri yang mengubahnya. Hiks. Yang penting aku tahu mana yang benar alias baku. 😢

        Jibril muda? Kayaknya Ibbon yang tahu tuh 👆👆atau tanya saja sama 👇👇Babang yang punya nama pena Textratis. Wkwkwk.😋😋

          • Wih, aku salah, ya Bon? Maafkan. Hehehehe.😉😱 Aku kira kamu tahu nama itu. Ah, syukurlah kalau enggak tahu. Biar hanya aku saja yang tahu. Hahaha.

            *Ish, ngantuk, Bon. Hujan deras pula. Sinyal bermasalah nih. Duh!😕😵

    • 😂😂 😱😱 Wisanggeni error nih! Wkkwkw.

      Ck ck ck, Wisanggeni melanggar perjanjian. Hmmm, haruskah merasa tidak enak hati melewatiku, Wisanggeni? Aku sudah tidak peduli dengan hal kayak gitu. Fokus menulis sajalah, Bang. Itu juga kalau mood. Wkwkwk.😆😄

  4. 😋😋😋 Martabak telur spesial, aku suka.

    Iya, aku suka cover-nya. Sederhana, tetapi kesannya elegan.😍😍

    Aku enggak terlalu terobsesi dengan film Marvel. Lebih suka thriller dan misteri gitu deh. Roman juga enggak terlalu suka. 😂😂