“Apa?”

“Sewot amat! Kenapa?lagi PMS?”

Aku mendecih tak suka. Kenapa jika seorang perempuan terlihat emosional lebih dari biasanya selalu dikaitkan dengan Pra menstruasi syndrome aka PMS? Benar gak sih nulisnya? Ah, bodo amat.

Aku kan bukan orang yang saklek dengan KBBI atau EYD atau PUEBI apapun namanya itu. Seingatku terakhir kali menulis sesuai dengan ejaan adalah ketika aku menulis laporan hasil studi lapangan di Nusakambangan dan ketika menyusun skripshit ah maksudku skripsi sebagai salah satu syarat wis-udah-an ah, maksudku wisuda.

“Hey..!”  Pria berambut cepak dan berhidung mancung itu memanggilku padahal jarak kami cuma 5 jengkal tanganku.

“Apaan?”sahutku sewot.

“Hey tayo!” Cengirnya membuatku menyesal sudah menganggapi panggilannya.

“Garing lo!”

“Aku-kamu Cha, not elo-gue. Biasakan  neng! ntar di perantauan kebiasaan lho.”Rafi memperingatkanku. Gayanya sudah seperti Ibu Fitri (mama tersayang) ketika menasehatiku.

“Gak lucu ya Raf. Suka-suka gue lah mau pake elo-gue,aku-kamu, enyong-rika, saya-anda. Please deh ini hidup gue! Dapat salam dari ‘privacy’ !”

“Wuidihhh, kok nyolot?”

“Lagi dalam mode ‘senggol bacok’ gue Raf. Jadi plissssssss… Jangan pancing gue buat ngeluarin kata typo dan sarkas ke elo.” Kataku penuh peringatan. Bahkan di jidatku mungkin sudah ada tulisa ‘red alert’.

Rafi meletakkan buku-buku yang sejak tadi dia peluk di atas meja lalu menatapku penasaran,”Apa ada kaitannya sama kepergianmu ke Kalimantan?”

Yes.

Memang ikatan darah itu tidak bisa berbohong. Rafi yang 5 menit lahir lebih dulu dibandingkan aku selalu tahu penyebab suasana hatiku jika sedang kacau.

“Cuma tujuh bulan Cha. Lagian siapa suruh kamu ngelamar kerja sebagai editor akuisisi di sana. Sok-sokan banget! Nulis aja masih banyak typo bertebaran.”

Aku tersenyum tipis,  The power of nepotisme. berawal dari Bintar, pacarku yang ditugaskan selama 1 tahun oleh perusahaan penerbitan  dimana dia bekerja untuk mengembangkan cabang perusahaan yang baru saja  buka di Barabai, Kalimantan Selatan.

Dia menawariku untuk ikut bersamanya bekerja sebagai editor dadakan yang di kontrak selama 7 bulan. Awalnya aku ngakak so hard, bagaimana bisa? Aku si ratu typo yang tidak bisa membedakan mana baku mana tidak, bisa jadi editor dadakan. Namun berbekal keyakinan dan keinginan mencoba hal baru di tempat baru aku menerimanya. Lagipula sambil menyelam minum kelapa muda, sambil bekerja sambil pacaran.

“Kesempatan Raf. Kapan lagi sih gue bisa merantau?Lo tahu sendiri mana ada mama sama papa ngasih ijin kita pergi keluar pulau.”

“Ya wajar lah Cha, kita berdua kan anak mereka satu-satunya. Eh, bisa dibilang satu-satunya gak sih?kan kita lahir bareng?beda kelamin pula”tanya Rafi dengan raut wajah yang lucu.

“Apaan sih Raf. Gak penting.”

“Terus yang bikin kamu sedih dan bad mood macam ini apa Cha?”Rafi menatapku seriius.

“Ya, emang loe gak sedih kalau LDR-an?”tanyaku balik. Rafi menopang dagunya tatapannya lurus kearahku.

“Stop berpikir bodoh! Kita bukan sepasang kekasih Icha. Lagipula cuma tujuh bulan gak usah lebai deh kamu Cha. Lagipula kita bukannya terbiasa tinggal berjauhan.”

Aku tersenyum miris. Memang sejak kami berusia 10 tahun orangtua kami bercerai dan membuat kami tinggal terpisah. Sebagai anak kembar yang mempunyai ikatan batin kuat tentu saja aku dan Rafi tidak mau dipisah tapi aku dan dia tidak mau egois walaupun hak asuh jatuh ke tangan mama, Rafi memutuskan untuk tinggal di rumah papa. Kami bertemu setiap akhir pekan. Awalnya susah, aku dan Rafi terkena demam selama beberapa hari karena jarang bertemu tapi seiring waktu semua berjalan seperti biasanya.

” Yang penting jaga diri Cha. Jaga kepercayaan mama dan papa. Jangan pulang-pulang berbadan dua kamu!”Rafi memperingatkan.

“Loe lupa? Sex education yang mama papa kasih ke kita?”tanyaku, Rafi terkikik geli. Tentu saja kami berdua tidak lupa hari dimana kami berdua dikumpulkan karena pendidikan seks yang mama papa kasih. Masih teringat dengan jelas ketika mama mengibaratkan perempuan sebagai buah tomat dan pria sebagai tusuk sate. Dan cara mama melubangi tomat dengan tusuk sate sebagai visualisasi itu membuat aku dan Rafi enggan  untuk menyantap buah tomat. Walaupun, cara mama dan papa membe selama berminggu-munggu. Walapun sex education dengan cara begitu sukses membuat kami berdua menjaga diri dalam berhubungan dengan lawan jenis. Bedanya kalau Rafi si manusia lurus yang tidak pernah macam-macam, aku agak sedikit bandel. Ya..cium-cium dikit bolehlah asal tidak sampai jauh.

” Loe juga, sering-sering temenin mama. Dan ingat jatah bulanan gue jangan loe embat!”

“Lha…gak bisa lah! Kamu kan udah kerja aku masih tesis butuh duit banyak!”

“Salah sendiri ngapain ngejar gelar S2?”

“Karena aku terlahir pintar, beda sama kamu males mikir!”

“Rafi, jangan sampai garpu ini nancep di jidat elo ya?”aku mengancungkan sebuah garpu kearahnya. Rafi terkejut bahkan dia memundurkan tubuhnya.

“Dan jangan sampai buku-buku tebal ini mampir di kepala kamu ya Cha!”Rafi tersenyum sinis memengang sebuah buku tebal membuatku bergidik ngeri.

“Kutu buku!”makiku

“Kutu air!” Balas Rafi dan kami saling melempar tatapan membunuh.

“Tapi gue bakalan kangen elu deh Raf Selmaa ini kita jauh tapi…gak sampai nyeberang pulau.” Ucapku lirih.

Rafi tersenyum”,sama Cha..”

****************

4 KOMENTAR