Sumber: dok. pribadi

Satu niat dengan satu tujuan, membawaku ke banyak jalan bercabang. Lalu tanpa sadar, aku berdiri di persimpangan, banyak rute yang harus kujajaki satu persatu. Aku nggak mau melewatkannya meski nggak terlalu yakin jalan itu akan membawaku ke tempat yang lebih baik.

Bukankah, baiknya mencoba dulu. Nggak ada salahnya, itung-itung cari pengalaman. Itulah yang kurasakan sekarang. Bertamu di kota ini, dulu tujuannya cuma silaturahmi ke tempat saudara. Tapi sekarang, ada banyak orang yang memerlakukanku seolah kembali ke rumah. Bahasa dan dialek mereka yang khas, kadang membuatku ingin tertawa di tengah obrolan.

Sembari menunggu pesanan datang, sore ini aku duduk sendiri, nggak sendiri sebenarnya, tapi dia sedang melaksanakan ibadah wajib untuk laki-laki di hari Jum’at. Dia mengajakku ke sini sebelum pergi mencari masjid terdekat. Beruntung rasanya bisa mengenal banyak teman baik dan lingkungan yang positif.

“Mbak, makan siangnya dimasak nanti saja kalau temanku kembali,” ucapku pada pramusaji yang menurunkan secangkir kopi.

Hari ini, mungkin terakhir kalinya aku bertandang ke panti sosial. Mungkin, belum tentu nggak akan lagi. Tetapi entahlah, aku juga tidak tahu di kemudian hari akan ada urusan ke sana lagi atau tidak. Sembari mendengarkan rekaman wawancara, aku mengetik tulisan ini.

Kamu percaya nggak, mendengarkan rekaman orang berulang kali itu bisa mengidentifikasi seberapa besar tingkat kejujurannya. Selain itu, air muka dan bahasa tubuh juga sangat menentukan, pernyataan yang diberikan adalah sesuatu yang benar atau bohong.

Di tulisan sebelum ini, aku sudah bercerita tentang riset yang kudalami demi mendapatkn info dan data yang valid. Meski, aslinya nggak semua bisa dimasukkan ke dalam cerita. Mungkin hanya beberapa yang sifatnya realis dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu kata pepatah lama. Pun, yang penting dari riset ini adalah pelajaran yang nggak kudapatkan ketika duduk di bangku pendidikan.

Jejak demi jejak lajuku ke ibukota provinsi Jawa Tengah, terekam jelas. Menyenangkan, nambah lagi teman-teman baru rasa saudara. Kadang, ada rasa bersalah ketika nggak bisa menyambangi salah satu dan mementingkan salah satu. Sebab, aku nggak punya banyak waktu untuk tinggal di sini.

“Heiii … ngetik apa?” panggilan serta tepukan punggung mengejutkanku.

“Catatan aja, Kak. Ada yang kurang rasanya kalau enggak ditulis hehe ….”

Aku meringis, menatap padanya yang duduk lesehan di sebelah kananku.

“Kamu sudah lama kenal sama cewek tadi, siapa namanya? Okta?”

“Iya, panggilannya sih Okta. Aku juga nggak tahu nama panjangnya, kami kenal dari dunia oren sih, Kak. Baru tadi bisa ketemu, padahal aku udah beberapa kali ke sini. Anaknya baik,” kataku bercerita.

Tadi aku sempat bertemu salah satu teman yang awalnya kenal virtual, alhamdullilah dapat kesempatan bertemu jua. Sama seperti pertemuan dengan Feni, Ratih, juga Nugi pas acara di Jogja waktu itu. Aku dan mereka langsung akrab, seolah bertemu dengan kawan lama. Haru menyentuh relung hati terdalam.

“Kamu sudah pesan makanan?” tanyanya.

“Sudah, nanti juga datang. Tadi aku bilang dimasaknya nunggu Kakak dulu.”

“Oh, setelah ini langsung pulang?”

“Iya, Kak Nug mau ke mana lagi? nggak pulang?”

“Ya pulang. Nanti bareng, aku antar sampaai perbatasan Purwodadi ya,”

“Dikira aku nggak berani pulang sendiri,” sindirku.

“Mau nggak?”

“Nggak usaaah. Aku bisa sendiri.”

Lupa belum mematikan laptop. Aku melanjutkan ketikan ini, haha … dilihatin Kak Nug percakapan absurdnya denganku kutulis juga.

“Yuk, setelah ini. Maksudnya, boleh nggak misal ketemu untuk sekadar ngobrol. Di luar riset yang udah kelar.”

“Boleh banget, Kak,” jawabku sembari menahan tawa. “Last research isn’t last meet up. Iya kan?”

Kak Nugraha tersenyum, manis. Untungnya dia nggak GR aku ketik kata manis. Lalu kubilang padanya, “Kakak bakal kehilangan orang paling cerewet dan suka ngebantah di muka bumi ini misal kita putus kontak. Hehe …,” kelakarku garing.

“I think so.”

Dih dia malah setuju aja, kirain bakal ngeyel atau merespon yang gimana gitu.

“Yuk, jangan lupa kabar-kabar main ke Semarang,” ucapnya.

“Untuk apa?”

“Aku begal dulu kalau lewat Gubug.” Kak Nug tertawa.

My Kopi, tempat ini jadi saksi terjalinnya satu ikatan baru atas nama teman, antara aku dan Kak Nugraha. Lokasinya luas, ada pilihan tempat ngobrol, bisa lesehan seperti aku sekarang atau duduk di atas. Untuk yang ketemu dengan banyak teman, lesehan jadi pilihan paling oke. Suasananya modern dan klasik dalam satu frame. Rekomendasi buat kamu yang kapan-kapan terdampar di Semarang sepertiku.

Dan aku harus menyudahi tulisan ini karena makan siang sudah datang. Hanya ingin ucapkan satu kalimat sebagai penutup yang manis, bahagia itu tergantung cara kita memaknai setiap peristiwa.

13.20

My Kopi,Jl. Soekarno Hatta No.71, Pedurungan, Semarang.

Memory of yesterday

Yuke Neza

7 KOMENTAR