Image by pexels/ Irina Iriser

Basah kuyub oleh rapuh
Mungkin cintaku memang anyir
Sudi dibuang mati terkapar
Darah merana rona

“Hei, gadis bodoh! Kenapa masih di sana saja? Kau tahu rumah itu takkan mungkin terbuka lagi untukmu. Pergilah!”

Aku melihat kearah suara itu sambil masih duduk merangkul kedua lututku. Sudah yakin itu pasti dia.

Dasar Waska! Dia tidak tahu dan mengerti sudah seberapa air mata ini tumpah jadi nanah demi terbukanya rumah itu dan aku bisa masuk sampai ke tempat terdalamnya. Meski sekarang aku di luar meradang tersengat matahari, hujan, angin puting beliung, suara malam dan batu terik menepuk-nepuk telapakku. Melepuh.

Aku masih mengikat diri ini
Di sini
Dengan tali ini
Tali yang kau beri
Meski sakit, aku tak peduli

“Kaulah yang pergi!” balasku penuh nada amarah.

Dia bersungut, “Sudahlah. Tidak ada alasan penting lagi untuk menemuimu. Kau pikir dirimu itu siapa baginya? Heh, pemilik sehelai rambutnya pun kau tak pantas.”

Aku terperanjat. Sadar. Memandangnya nanar. Kejamnya, pikirku.

“Pergilah! Atau sendal ini akan kulempar padamu, Waska.” hardikku geram

Hahahaaa. Dia terbahak. Apa dia pikir aksiku ini lucu?

“Kasian sekali dirimu, wahai Nona. Sadarlah. Pintu itu akan terbuka jika dia sendiri yang membutuhkanmu. Jadi, tunggu saja di rumahmu. Haha.”

Emosiku semakin tersulut. Dia benar-benar meremehkanku.

“Kau tak pernah tahu kesenangan apa yang ia punya dibalik tembok pintu tinggi menjulang itu. Hahaha. Sudahlah, sudah. Menyerahlah. Dia bahagia, dia bahagia … tanpamu!!!” pekiknya terus menerus padaku.

Hahahaha. Sambil terus terbahak ia pun lantas menghilang. Meninggalkanku … sendiri.

Kali ini aku tak sanggup melawan. Karena nasihatnya sungguh membakarku dan habis.

_______
Panggung Senin, Kumala 130519

6 KOMENTAR

  1. Wah, ngga bagus itu. Jangan termakan omongan orang, lakukan saja kalau memang yakin.

    Ini komentarku, nyambung nggak sih? Wkwkwk

    Koreksi dikit. Untuk dialog yang diikuti dialog tag seperti kata hardik, sebelum tanda petik penutup tidak boleh pakai titik.

    β€œPergilah! Atau sendal ini akan kulempar padamu, Waska,” hardikku geram.

    Yang benar pakai koma dan setelah ‘geram’ jangan lupa kasih titik.

    Over all, cermin aka cerita mininya bagus.

  2. Hehe. Iya ini sebenarnya puisi dua bait kak. Niatnya menginterpretasikan ke bentuk cerita. πŸ˜„ Agak ngawur koyok e yo.

    Pergolakan batin antara gadis bernama Kumala dan sosok Waska. Nama “Waska” itu sebenarnya bisa jadi kunci terbukanya maksud cerita ini kalau pembaca ngerti. *halah gayaku πŸ˜ŒπŸ˜‚

    Hahaa, iya aku kalau buat dialog tag kok jadi pasti ingat kamu, kak. Kukira udah bener ingatanku. Okeh, kuketik ulang biar lebih ingat

    “Pergilah! Atau sendal ini akan kulempar padamu, Waska,” hardikku geram.

    Pakai koma dan sebelum kata “geram” kudu pakek titik. Asyiaap. Maacii akak udah dikoreksi πŸ’›