Pixabay.com

Aku terlahir untuk bersaing dengan diriku sendiri bukan dengan orang lain, dan mencintai semesta bukan hanya pada diri sendiri

Berawal dari melarikan diri, karna lupa pasword akun medsos yang sudah aku close. Membuat akun baru dengan niat tanpa berteman, no friends, hanya untuk membaca belaka menyukai halaman atau bergabung pada sebuah grup. Sekali lagi, no friends.

Aku hanya ingin membaca kata dan kalimat bijak yang indah tanpa terhalang postingan yang tidak penting menurutku, yang tidak jelas dan kurang informatif, mode bosan membaca seperti itu.

Bertemulah dengan grup belajar menulis, setelah stalking di sana dan klik bergabung karna ingin membaca gratisan (istilahnya, padahal bisa membuka sosmed beli kuota he he)

Singkat cerita berkat informasi dan ajakan teman bergabung dalam wadah kepenulisan yang sekarang masih tenggelam ah sayang, dari sana aku mulai mengenal para pujangga, penyair atau penulis.

Membaca karya mereka semakin tertarik untuk belajar merangkai kata, ketagihan dalam menuangkan ide atau keresahan. Padahal tulisanku jauh dari indah ah embuh kah. Mulai gerilya, ikut menulis di sana sini.

Menulislah, karna menulis adalah rekreasi ringan, bisa mengurangi beban keresahan dalam hati

Aku mulai dari puisi yang menurutku paling mudah, dengan alasan dari TK suka deklamasi (ealah). Mengikuti tawaran teman yang baru aku kenal membuat buku kumpulan puisi bertajuk SUWUNG dan harus lolos seleksi (hmm gak lolos gak masalah). Ternyata membuat puisi juga tak mudah.

Bagaimana mengkeret melihat karya teman di buku itu amazing sekali. Ternyata mengkeret ku hanya beberapa jam saja, ke PD an merasa bisa, dan puisiku ternyata jauh dari indah (Ada yang mengkritik). Tulisanpun garing dan tak jelas.

Belajar tanpa batas dari semesta yang luas

Akhirnya sebelum pos sebuah karya aku tunjukkan dahulu untuk direview, aku ganggu terus beliau untuk mengajari membuat diksi yang indah, sambil mepet ke teman lain mencontoh cara membuat bacaan yang menarik. Beliau bilang “pantas tulisanku jelek karna masih berfikir” beliau menyarankan tulis saja dan tulis dengan rasa.

Belajar dari rasa menulis dengan rasa dan membaca dengan rasa. Begitu kah kawan?

 

 

Tasikmadu, 14.03.2019

15 KOMENTAR

  1. Menulislah tanpa ada tekanan. True story ku juga sama kak. Aku minder dan merasa tidak mampu justru. Bahkan sangking pesimisnya siapa yang sudi baca tulisan dan celotehku 😊😊✌️✌️,

    Yuk semangat bersama-sama kak aliz. Kita pasti bisa dan mampu. Okay kak πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  2. Kalau aku awal menulis karena dari kecil suka membaca sehingga mulailah mencoba merangkai kata. Awalnya juga bikin puisi waktu SD dan dimuat di majalah Bobo serta dapat buku tulis (kalau enggak salah 5 deh). Kebetulan waktu SD aku langganan majalah Bobo. πŸ˜„

    Setelah remaja mulai tertarik menulis artikel ringan dan cerpen. Semakin suka karena aku mendapat honor yang lebih dari lumayan dan bisa punya tabungan khusus hasil dari menulis itu. Lebih dari lumayan untuk membeli segala perlengkapan menulisku. Namun, aku enggak pernah tertarik masuk komunitas apa pun. Mulai kenal platform sejak gabung di Pm. Ternyata, menulis menyenangkan dan melelahkan juga . Wkwkwk. Ah, jadi curcol deh. Tetap semangat menulis.😘