Sumber gambar instagram.com/brwnpaperbag

Ola, 24 tahun, adalah gadis cantik yang ingin terkenal dan dikenal orang banyak. Kecantikan Ola sudah terlihat sejak kecil. Banyak sekali orang tua yang mengagumi kecantikannya. Dan tidak heran, saat usia remaja banyak lawan jenis yang suka dengan Ola. Sadar akan kecantikannya, Ola terobsesi menjadi seorang model. Paras cantik, tubuh ramping, dan memiliki kaki jenjang adalah syarat umum untuk menjadi model. Sayangnya Ola hanya memiliki paras dan tubuh ramping, tapi tidak kaki jenjang.

“Enggak ngerti lagi deh gue, Ris. Lo tahu kan gue cantik, ramping, masa cuma karena tinggi badan yang kurang beberapa senti gue gak lolos?” Ola melampiaskan kekesalan kepada sahabatnya, Riris.

“Tapi itu kan memang syaratnya, La.”

“Gue tuh udah usaha, Ris. Gue berenang, main basket, tapi tinggi gue cuma segini. Gue harus gimana lagi?”

“Keluarga lo kan emang gak ada yang tinggi, La. Itu faktor hormonal.”

“Iya, gue tahu, tapi kan, Ris.” Ola terlihat sedih karena setuju akan Riris bahwa faktor hormonal yang membuat dia tidak memiliki kaki jenjang bak seorang model.

“Tunggu deh, Ris. Elo kan dokter, emang gak ada gitu obat yang bisa bikin gue tambah tinggi?”

Riris pun berlalu meninggalkan sahabatnya karena tidak mengerti lagi mengapa sahabatnya itu selalu menanyakan tentang obat yang bisa membuatnya tinggi.

 

***

 

“La, lihat deh! Ini bajunya bagus ya? Kira-kira gue cocok gak, pakai baju ini?” Riris menyodorkan telepon genggamnya kepada Ola yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makan siangnya karena masih memikirkan cara agar cepat tinggi.

“La! Lo mikirin apa sih? Itu makanan udah gak karuan bentuknya. Mending lo lihat deh foto baju ini.”

Ola pun mengambil alih handphone Riris dan memandang foto baju yang ditanyakan Riris.

“Bagus banget, Ris! Tapi kayaknya gak cocok deh buat lo. Gak matching sama wajah lo!” Ola tertawa terpingkal terlebih melihat wajah Riris yang tidak terima akan kata-kata sahabatnya tersebut.

“Ini tuh cocoknya gue yang pake. Terus gue make up total ala-ala model.”

“Wait!” Riris memotong ucapan Ola.

“Gimana kalau lo beli baju ini, terus lo make up yang lo bilang ala-ala model itu, dan lo foto deh. Nanti fotonya lo taro di instagram lo yang gak penting itu. Siapa tahu banyak yang like terus follower lo nambah, dan lo bisa jadi selebgram.”

Ola terdiam, memikirkan setiap kata demi kata yang keluar dari bibir sahabatnya.

“Heh! Malah ngelamun. Setuju gak lo?” Riris mulai marah melihat Ola yang seakan tak mendengarnya bicara.

Ola pun menjatuhkan kecupan ke pipi Riris dan memeluk sahabatnya erat.

“Thanks ya, Ris! Gue suka banget ide lo! Ayo kita beli baju itu dan lakuin semua yang lo bilang.”

Ola dan Riris pun meninggalkan kafe tempat mereka makan siang untuk membeli baju tersebut.

*

Terlahir sebagai keluarga berada membuat Ola sangat ringan tangan untuk membeli pakaian-pakaian yang sedang hits. Saran dari sahabatnya terus menerus dia terapkan demi menjadi terkenal walau dia tak bisa berjalan di atas catwalk sebagai model profesional. Banyak yang menyukai foto-foto Ola di instagram dan follower Ola pun semakin hari semakin bertambah. Ola sangat bahagia bisa lebih dikenal orang. Menjawab komentar-komentar positif yang ada pada setiap foto yang ia posting. Walau terkadang ada saja komentar negatif yang mampir ke foto Ola yang dianggap pakaian Ola terlalu terbuka.

 

Karena Ola merasa dirinya semakin popular, sikapnya pun mulai berubah. Dia selalu ingin terlihat cantik dalam keadaan apa pun. Bahkan Ola sering kali mengomentari orang-orang di sekitarnya yang dia rasa sangat tidak fashionable. Tanpa sadar Ola mulai menyakiti teman-temannya karena Ola tak ingin ada yang lebih cantik dan terkenal dari dirinya.

 

Sampai pada suatu hari, Ola mulai membenci Kasih, gadis yang usianya lebih darinya dan memiliki banyak prestasi sehingga lebih dikenal dibanding Ola. Instagram Kasih yang berisi puisi-puisi indah karyanya membuat Ola merasa tersaingi dan membuat akun khusus puisi miliknya yang isinya tidak seperti puisi yang sebenarnya. Di mata Ola, Kasih hanyalah batu sandungan. Bahkan usia Kasih yang lebih darinya tidak membuat Ola lebih menghargainya, seakan apa pun yang Kasih lakukan salah di matanya. Saat Ola berulang-tahun pun Ola seolah tak menghargai hadiah pemberian Kasih, walau sebenarnya Ola sangat menyukai dress pemberian Kasih dan selalu memakainya dalam berbagai kesempatan.

 

Ola sebenarnya tahu, Kasih memang tak kalah ย darinya karena Kasih sudah lama terjun di dunia seni dibanding Ola. Bahkan Kasih mengenal banyak artis dan bisa berbincang santai, sedangkan Ola hanya bisa tersenyum dengan bibir bergetar. Tapi karena obsesinya menjadi terkenal dan dikenal banyak orang telah membutakan dirinya sehingga tidak menghargai orang-orang di sekitarnya yang bisa saja menjadi jalan untuk dia lebih terkenal.

 

Andai saja Ola tidak membenci kasih, mungkin saja Kasih bisa membantu Ola bagaimana menulis puisi yang benar. Kasih juga bisa membantu Ola untuk bertemu dan berbincang dengan artis idolanya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, rasa bencinya kepada Kasih sudah mendaging. Kini Ola hanya puas dengan prestasi yang sebenarnya bisa lebih dari itu. Bahkan sahabat yang memberi saran kepada Ola tidak lagi bersamanya karena lelah akan sikap Ola.

4 KOMENTAR