sumber: pixabay.com/Papafox

“La familia lo es to do.”

Hari ini mendung. Pagi-pagi sudah gerimis kecil. Gerimis sebentar-sebentar turun, lalu berhenti. Membuatku ingin terus menelungkupkan diri di balik selimut kalau saja tidak ada yang harus kulakukan.

Pagi ini, aku baru saja mengambil sepiring sarapan kemudian duduk di ruang tengah. Niatnya makan sambil menonton televisi. Sudah ada simbah yang menonton duluan ditemani secangkir besar kopi encer yang banyak gula itu. Hari ini kebetulan simbah berlibur jualan di pasar karena kelelahan.

“Mbah … Mbah … kopi apa sirup?” ledekku. Sengaja tak kutawari sarapan karena beliau sudah sarapan.

“Tapi doyan, to?”

Pertanyaan simbah langsung membuatku skakmat. Iya juga sih. Meskipun aku komentar, tetap saja sedikit-sedikit ikut menyeruput kopi manis itu. Tak lama kemudian beliau tampak kesusahan memencet remote untuk membesarkan volume televisi.

Iki mbok tulung digedekke suarane.” (Ini tolong digedein suaranya.)

Aku meraih remote dari tangannya. Lalu setelah kupencet tombol tambah volume, suara TV masih segitu-segitu saja, bukannya semakin keras. Sepertinya baterai remote habis.

“Kok susah, Mbah?”

Simbah mengambil alih remote itu kembali lalu angka volume televisi di layar terlihat semakin tinggi. “Weladalah Nduk, cah sekolah kok ra iso nganggo remot.” (Weladalah Nduk, anak sekolah kok nggak bisa pakai remote.)

Seketika aku melongo. Lalu tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya remote TV sedang tidak kompromi denganku. Selain itu, untung beliau Mbahku, kalau teman sudah kujitak!

Tak lama setelah itu, kakak sepupuku yang hendak menikah kebetulan datang ke rumah. Meletakkan kunci motor, lalu duduk di kursi dekat meja makan. Tak jauh dengan tempatku dan Simbah duduk.

“Berita, Mbah?” tanyanya.

Iyo, kiye. Cah cilik mosok ngrampok! Walah … Iki lho, tak uduhi.” (Iya nih. Anak kecil masa ngerampok! Walah … ini lho, lihat.)

Ibuku yang sedang membuat kue langsung menyembulkan kepala di balik pintu dapur. “Cah cilik ngerampok? Nengdi kuwi?” tanyanya. (Anak kecil ngrampok? Di mana itu?)

Sambil mengunyah sarapanku, aku mengedip-ngedipkan mata menatap layar televisi. Memastikan penglihatanku benar kalau di sana tertulis, “Anak kecil ini berhasil menangkap perampok.”

“Bukan, Mbah. Itu anak kecilnya yang nangkep rampok. Makanya kalau baca sampai selesai,” ralat sepupuku sambil terpingkal. Aku ikut tertawa.

Mbahmu kakehan micin,” celetuk ibuku dari dapur. (Mbahmu kebanyakan micin.)

Setelah berita tersebut berlalu, Simbah mengalihkan pandangan ke sepupuku. “Arep nengdi? Iki lho, dikei jam karo Adimu. Ono gambarmu.” (Mau ke mana? Ini lho, dikasih jam sama Adikmu. Ada gambarmu.)

Aku langsung menatap Simbah dengan muka protes. Apa-apaan ini. Baru kemarin aku bercerita pada Simbah dan ibuku soal niatku memberi kado jam dinding yang ada desain karikatur foto mas sepupuku beserta istrinya sebagai kado pernikahan esok hari.

Jam opo, Mbah?” tanya sepupuku penasaran.

“Waaah … parah! Kenapa dikasih tau to, Mbah? Nggak asik ah! Kado kan kejutan. Nggak serprais dong!” protesku sambil berlalu membawa piring kotorku ke tempat cuci piring.

Ibuku dan mas sepupuku tertawa terpingkal-pingkal.

“Makanya jangan cerita sama Mbahmu. Ember itu,” celetuk ibuku.

“Parah, waaah. Udah dibungkus rapi-rapi jugaaa …”

Mbahku hanya memasang muka tak bersalah sambil menyesap kopinya. Mbah … mbah …

Selepas tawa kami mereda, terdengar seseorang mengetuk pintu rumah kami. Ternyata tetangga sebelah yang membagikan makanan syukuran untuk puputan anaknya yang baru lahir. Puputan ini semacam sebuah tradisi saat anak diberikan nama.

Bersama kardus makanan tersebut juga terdapat kertas bertuliskan nama panjang anak si tetangga. Namanya betul-betul panjang, ada 5 kata.

“Walah, dowo men jenenge,” komentar ibuku. (Walah, panjang bener namanya.)

Mbahku yang kepo lalu ikut membaca. “Anake sopo, to? Walah-walah, jenengan koyo sepur. Mbok jenengi Slamet wae lak penak sing ngundang,” komentarnya. (Anaknya siapa sih? Walah-walah, nama kok kaya kereta. Diberi nama Slamet aja kan enak yang manggil.)

“Iya ya, Mbah? Kasihan kalo ujian nanti buletin lembar jawabnya capek,” tambahku.

Mas sepupuku langsung menambahkan, “Dasar para netijen!”

Opo? Wijen? Ndak ra sing ning onde-onde kae?” tanya Mbahku. (Apa? Wijen? Bukannya yang di onde-onde itu, ya?)

Embuh, Mbah. Embuh,” jawabku, ibuku, dan sepupuku bersamaan.

***

Selamat hari kasih sayang. Semoga setiap hari selalu menjadi hari kasih sayang, terutama untuk keluarga. La familia lo es to do.

8 KOMENTAR