sumber: dok. pribadi

Lihatlah, alam menyambutmu dengan hangat. Masihkah kau akan melanjutkan tidurmu?

Hai. Jika sebelumnya aku mengajakmu rafting di Pemalang, kali ini aku akan mengajakmu ke kotaku sendiri. Yap, si Kota Tembakau: Temanggung.

Mungkin kamu sudah sering mendengar soal Pasar Papringan. Atau sudah sering ke sana? Jangan. Denganku, kamu tak boleh bosan. Karena selain berwisata di sini, kita juga akan belajar. Mumpung ini Minggu Wage, kita harus bergegas ke sana.

Ah ya. Minggu Pon lalu, kamu sudah pernah kuajak ke sini. Tapi barangkali kamu lupa, Pasar Papringan ini merupakan pasar tradisional yang terletak di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Sesuai namanya, pasar ini dinaungi pepohonan bambu yang rimbun.

Pasar yang bernuansa alam ini menjajakan makanan-makanan tradisional khas Jawa, minuman tradisional, hasil pertanian dan peternakan warga, juga kerajinan tangan.

Aku tahu, bahwa kamu mungkin sudah tak tertarik lagi berselfie dengan uang pring yang tergeletak hening di genggaman tanganmu ini. Aku juga tahu bahwa kamu mungkin belum merasa lapar karena sepagi ini, bahkan arlojimu belum menunjukkan pukul 7 sudah kuajak kau ke sini.

Memasuki jalanan Kedu – Jumo (sumber: dok. pribadi)

Naik motor melewati jalanan Kedu yang masih sepi. Hanya menyisakan semilir angin yang membuatmu merapatkan jaket kuat-kuat. Ah sayangnya, yang kamu pakai bukan jaket, tapi sweter.

Memasuki Jalan Kedu – Jumo, kita sudah disambut oleh hamparan sawah yang luas di kanan kiri. Padi-padi yang belum menguning mengiringi deru motor kita yang melaju dengan kecepatan sedang.

Matahari pagi menyambut dengan hangat (sumber: dok. pribadi)

Kamu heran ya tak menyaksikan tembakau? Musim tanam tembakau sudah habis, diganti oleh padi dan sayur-sayuran.

Lihat, meski ini hari Minggu, para petani tetap saja berbondong ke sawah. Mereka bukan bekerja. Mereka sedang merawat padi dan sayuran seperti anak sendiri. Di sawah yang seolah menjadi rumah kedua.

Tunggu. Ketika kamu menoleh ke arah barat daya, maka kamu akan takjub dengan Gunung Sumbing yang perkasa memakai topi putih dari awan. Lalu ketika kamu menengok ke timur, Gunung Sindoro sudah menyambutmu diiringi sinar mentari yang hangat.

Gunung Sumbing (sumber: dok. pribadi)

Lihat saja lebih jauh lagi. Puncak Gunung Merapi tampak menyembul di balik awan. Masihkah kau ingin melanjutkan tidurmu?

Sebentar lagi, kita akan berpindah dari jalanan aspal sempit, menuju jalanan desa yang terdiri dari 5 jajaran. Semen, tanah, semen, tanah, lalu semen lagi.

Jalanan semen, tanah, semen, tanah, semen lagi. Hehe (sumber: dok. pribadi)

Penduduk sekitar pun mulai tersenyum dan mengangguk takzim pada kita meski mereka tak tahu siapa dan dari mana asal kita.

Tukang parkir menyambut untuk memberikan tiket. Tentu saja, harus kita tukar dengan uang 2000Β rupiah. Itu tidaklah mahal, karena kamu juga mendapat bonus senyuman ramah sekaligus motor yang diparkirkan dengan rapi.

Parkiran sudah ramai (sumber: dok. pribadi)

Rupanya tempat parkir sudah ramai. Tanah warga yang mendadak menjelma menjadi parkiran, sudah dipenuhi oleh mobil-mobil yang sebagian besar berplat nomor luar kota.

Yuk, kita harus bergegas sebelum kehabisan jajanan pasar. Memasuki Pasar Papringan, kamu tampak takjub melihat pepohonan rimbun mengapit jalanan gula kacang alias tanah dengan bebatuan.

Uang pring (sumber: dok. pribadi)

Begitu memasuki kawasan pasar, kamu langsung kuajak mengantre untuk menukar uang rupiah kita dengan uang pring.Β Seikat uang pring berisi 10 keping sama saja bernilai 20.000. Sudah kau genggam kuat-kuat di tanganmu. Meski pernah ke sini, kamu tetap saja terpesona dengan mata uang berbentuk persegi panjang itu.

Lihatlah, pedagang jajanan pasar sedang melayani pembeli dengan senyuman ramah. Penjual lesah (itu lho, yang mirip soto tapi kuahnya bersantan) dengan cekatan mengambil kuah dari atas kuali, tetap tersenyum pada pembeli.

Para pedagang memakai baju lurik (sumber: dok. pribadi)

Si penjual gorengan, tak peduli dahinya sudah meneteskan keringat karena sedari tadi duduk di depan tungku. Lalu seorang bapak-bapak tua tua tampak menikmati waktu sambil menganyam bambu menjadi sebuah tas.

Dan yang pasti, semua penjual tersebut memakai pakaian yang sama. Kadang memakai pakaian lurik khas Jawa, juga kadang memakai batik.

Jajanan (sumber: dok. pribadi)

Baiklah. Katamu, kamu ingin melihat-lihat dulu. Yuk, kuantar. Setelah kita menemukan makanan atau minuman yang ingin kita beli, kita akan belajar bersama mengenai konsep Pasar Papringan yang mengagumkan.

_Bersambung_

Mohon maaf gambar-gambarnya difoto dengan amatir

20 KOMENTAR

  1. Baca ini dari kemarin yang ada di kepalaku adalah sebuah negeri antah-berantah. Berasa kayak baca cernak di majalah Bobo. Itu loh penggunaan mata uangnya. Wkwkwk. Ah, ternyata masih ada tradisi katak gini, ya? Ini semacam pasar kaget gitu, ya?πŸ˜±πŸ˜‰