sumber: dok. pribadi

Sebelum membaca tulisan ini, lebih baik berkunjung dulu ke sini. Hehe.

_

Kita masih berada di Pasar Papringan. Setelah berkeliling melihat-lihat para penjual makanan beserta jajanan yang menarik dan tradisional, kamu tampak menatap satu sisi yang ada tulisan “KOPI”.

Kamu rupanya tertarik dengan penjual kopi. Baiklah, mari kita ke sana. Dua orang peracik kopi sudah berdiri dikerumuni para pembeli. Ah, kusebut peracik kopi tak apa, ya? Karena barista terlalu modern untuk kusebutkan di sini.

Dua jenis kopi asli yang tumbuh di Temanggung: robusta dan arabika, diletakkan pada toples besar yang biasanya digunakan untuk meletakkan kerupuk. Kedua kopi bubuk kasar tersebut harumnya sudah menyeruak ketika kita menghampiri.

“Robustanya satu, Mas.” Seorang pembeli memesan kopi sambil menyerahkan 4 pring.

“Tubruk, ya?”

“Iya, Mas.”

Rupanya kalau yang v60 alias saring, harganya 6 pring. Hei, lihatlah. Peralatan untuk meracik kopi memang tidak selengkap di kafe-kafe perkotaan. Yang menyediakan tempat ber-AC, wifi, dengan kopi yang harganya selangit.

sumber: dok. pribadi

Kalau ini, peralatan hanya cukup penyaring, timbangan digital, teko leher angsa, dan juga gelas seng khas pedesaan.

Kamu memesan kopi robusta tubruk rupanya. Kamu lebih suka kopi yang beraroma kuat, dengan kadar kafein yang lebih tinggi.

Ah ya. Aku baru tahu bahwa kopi arabika dan robusta memiliki rasa dan aroma yang berbeda. Meski bagiku sama saja, namun bagimu, ada kenikmatan khas di antara keduanya yang tidak dimiliki satu sama lain. Jelas saja, kopi robusta di Temanggung sebagian besar tumbuh di kecamatan-kecamatan dengan ketinggian 600-an mdpl.

Sementara kopi arabika tumbuh di tempat yang lebih tinggi lagi, sekitar 800-an mdpl. Yang paling membuat kekhasannya tak tertandingi, tanaman kopi arabika Temanggung biasanya ditanam di tengah-tengah tanaman tembakau.

Kamu menyarankanku memesan arabika. Katamu, kopi ini asam, tidak terlalu pahit, dengan kadar kafein yang lebih rendah. Rupanya kamu tahu, aku mudah ndredek kalau minum kopi. Selain itu, kopi arabika ini katamu lebih spesial. Para petani harus memanennya sebelum biji kopi jatuh ke tanah. Sehingga rasanya lebih spektakuler dan tidak tercampur aroma tanah.

Setelah memesan kopi, kamu memintaku menemanimu membeli jajanan pasar bernama bajingan. Kamu bilang namanya unik, sehingga kamu penasaran. Baiklah.

sumber: dok. pribadi

Kita lalu memilih duduk di bawah pohon pring, di atas bebatuan yang menancap pada tanah. Ditemani bajingan (makanan khas dari olahan singkong campur gula jawa), kita menikmati kopi bersama. Perpaduan otentik antara daun pisang yang membungkus bajingan dan gelas seng yang mewadahi kopi, membuat kita serasa disambut alam lebih hangat.

Angin dingin perlahan menghilang seiring kopi yang kamu teguk pelan. Aroma kafein memasuki rongga pernapasan, mengalir ke otak dan mendamaikan hati. Kopi hitam tanpa gula ternyata tidak pahit jika kita menikmatinya. Mereka hanya sederhana, apa adanya.

Arabikaku memberi rasa asam yang tertinggal di mulutku. Asam yang nikmat. Lalu katamu, angin Papringan berhasil membawa aroma kopi memasuki seluruh aliran darahmu. Mengusir kantukmu jauh-jauh.

Slurrrpppp! Seolah mendapat kenikmatan tiada tara, setelah itu kamu mengucapkan “Ah!”

Ueenaaak!” katamu kemudian.

Aku hanya tertawa. Kita lalu mulai menikmati bajingan yang kita tusuk dengan biting alias potongan lidi.

“Manis, kayak kamu,” katamu.

“Jadi, aku bajingan maksudmu?” protesku tidak terima.

Kamu terpingkal-pingkal. “Beneran deh, manis. Singkong, dipotong-potong, direbus dengan gula jawa dan santan sampai mengental. Saat bajingan meletup-letup di dalam panci tanah liat, aromanya … Beuhhh. Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

Aku menatapmu heran. “Kok kamu tahu cara membuat bajingan?”

“Tadi aku tanya sama penjualnya.”

Betul katamu. Apalah arti sebuah nama jika sebetulnya isinya melelehkan lidah, menghangatkan perut, hingga melunakkan hati?

Bajingan terbuat dari singkong, namun bukan singkong yang tumbuh di tanah liat melainkan dari tanah gembur. Sebenarnya, nama bajingan ini diambil dari istilah sopir gerobak sapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hidangan ini dianggap identik menjadi suguhan mewah para sopir gerobak sapi di Temanggung.

Potongan demi potongan bajingan kamu habiskan hingga tetesan kuah kental terakhir. Tak lupa, kamu jilat kuah bajingan yang tersisa di daun pisang.

Setelah itu, kamu seruput lagi kopi robustamu. Seperti sebelumnya, kamu hirup dulu harumnya. Tersenyum, lalu lagi-lagi, “Slurrppp.”

“Huahhh! Segerrrr!”

Syukurlah, kamu bahagia menikmati perjalanan denganku.

24 KOMENTAR

  1. Makanan dengan nama “sekeren” itu ternyata bahan dasarnya singkong. Wakakak. Indonesia-ku kaya akan budaya. Sayangnya, aku cuma suka getuk yang dikasih gula cair serta kelapa parut. Kalau hari Minggu, adikku suka beli itu kalau lewat pasar.😋😋