Exif_JPEG_420

“Samin adalah sufi-nya Jawa.” — Soesilo Toer

Minggu, 5 Mei 2019

Kala waktu menunjukkan pukul setengah dua siang yang masih terik, aku bertolak dari rumah. Yang kutuju ialah perpustakaan Pataba yang sekaligus kantor Pataba Press, salah satu ruang sastra yang ada di kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Berawal dari pertanyaan tentang letak perpustakaan ini, yang membuatku penasaran juga di mana keberadaannya. Terlebih lagi setelah aku membaca buku Dunia Samin karya Bapak Soesilo Toer. Pulang acara personal branding class, kuputuskan mengirim DM Via Instagram ke akun @patabablora6, syukurlah mendapat respon yang baik dan ramah. Admin akun tersebut, ternyata Mas Benee Santoso, anak tunggal Bapak Soesilo Toer sendiri. Dia tak lupa memberikan nomer kontak, agar lebih mudah berkomunikasi.

Aku dan Mas Benee mengobrol tentang kegiatan Bapak Soesilo Toer yang masih berada di luar kota, sampai akhirnya hari ini disepakati sebagai hari janji temu.

Sampai di tempat tujuan, aku disambut ramah oleh beliau, Bapak Soesilo.

Selepas aku mengisi buku tamu, kami mengobrol ringan. Beliau bertanya aku berasal dari mana dan ada tujuan apa.

Kujawab, “Saya mewakili Penakata, ingin berkunjung dan mengenal sosok yang menulis buku ini.”

Aku mengeluarkan buku Dunia Samin yang kubawa.

Beliau tertawa, lantas berujar, “Buku ini memang paling laris di pasaran. Kalau boleh saya tahu, Penakata itu komunitas atau apa?”

Aku agak ragu menjawab, tepatnya takut salah jawab. Setelah otakku berpikir kritis beberapa detik. Aku buka suara, *maaf kalau jawabanku kurang tepat.

“Penakata adalah sebuah website atau platform kepenulisan, tapi Penakata ingin mengeksplorasi dan terus berkreasi, agar sebuah tulisan bisa diimplementasikan dalam bentuk lain. Misal, cerpen ke naskah lakon, atau prosa menjadi sebuah lagu. Tujuannya tidak lain untuk merangkul pencinta seni dan sastra tanpa terbatas oleh jenis karya tertentu.”

“Ide dan langkah yang menarik. Jaman sekarang, kalau membicarakan sastra pasti akan cepat bosan, tapi perlu diketahui, dari sebuah kalimat bisa jadi karya yang luar biasa. Tergantung pelaku sastra itu sendiri.”

Aku mengangguk sebagai tanda mengiyakan.

Berawal dari sini, obrolan mengalir begitu saja. Beliau bercerita banyak tentang sejarah sastra, pendidikan, sampai terbentuknya Sekolah Taman Siswa yang belum kuketahui atau mungkin tidak ada di pelajaran sekolah.

Sesekali beliau menyinggung politik dan fenomena anak muda jaman sekarang, aku sudah menumpahkan semua isi gelas sebelum mengetuk pintu masuk, dengan mudahnya kepala yang kosong ini mencoba paham bagaimana sudut pandang beliau yang begitu luas. Karena usia beliau sudah lebih dari delapan puluh tahun, barang pasti melintasi banyak generasi bangsa. Tentu ada banyak sisi-sisi yang tidak terjamah oleh pengetahuanku yang usianya baru seperempat abad ini.

Yang paling menarik, ialah pengalaman beliau bersekolah di Uni Soviet (Sekarang Rusia) juga pertemanan beliau dengan beberapa tokoh pahlawan nasional, termasuk Bapak Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Aku senang sekali mendengarkan cerita beliau, pembawaannya ceria dan kadang diselingi canda tawa.

Kami duduk bersebelahan, layaknya cucu yang mendengarkan dongeng yang diceritakan kakeknya. Sebagai cucu yang tidak pernah merasakan kehangatan nasihat kakek, terbetik rasa emosional yang sulit kudefinisikan.

Di tengah obrolan, tiba-tiba beliau bertanya lagi, apa ada maksud lain dari kedatanganku. Tentu saja ada, tapi aku mencoba berhati-hati menyampaikannya pada beliau. Aku bertanya tentang seluk beluk penerbitan, juga riset tentang Buku Dunia Samin.

Beliau menjelaskan dengan gamblang, dan menyarankan padaku untuk tidak datang sendiri misal ingin pergi ke Desa Samin. Beliau bilang, medan jalannya jauh dari pemukiman, dulu masih jalan batu, tidak tahu sekarang. Juga di sana ada orang-orang Samin yang masih awam peradaban dan teknologi, dalam kata lain jika ada orang berkunjung suka jadi tontonan. Tidak mengenakannya lagi, beliau sendiri tidak tahu orang-orang Samin tersebut mendiami sebelah mananya desa.

Aku manggut-manggut, mendengarkan. Baiklah, agenda riset ke sana harus digarisbawahi merah dengan catatan, enggak bisa pergi sendiri.

Bukan dengan tanpa tujuan aku bertanya tentang Suku Samin. Karena, beberapa kali ada obrolan, rencana dan ide untuk mengangkat latar belakang suku Samin menjadi sebuah karya tulis berupa novel. Novel kolab, insya Allah kalau jadi. Kearifan lokal perlu dilestarikan dan diperkenalkan pada generasi sekarang agar tidak punah. Jangan sampai di masa depan menjadi pelajaran sejarah semata, sayang sekali bukan?

Terlebih menurutku pribadi, nilai-nilai yang dianut suku Samin itu adalah pemahaman mendasar manusia terhadap kehidupan. Oleh sebab itu aku setuju dengan ucapan beliau, “Suku Samin adalah sufi-nya Jawa.”

Melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul empat, aku segera pamit. Kusampaikan juga pada beliau, Insya Allah, aku akan datang lagi bersama teman.

Tak lupa aku menyampaikan harapan, mungkin satu kesempatan nanti beliau berkenan hadir sebagai tamu atau pengisi sebuah acara yang Penakata adakan.

Beliau menjawab, “Kalau saya masih sehat, tentu saja bersedia. Hubungi saja Mas Benee, jangan sungkan. Literasi kita harus terus bersemi.”

Benar memang, kalau bukan kita yang bermulai bergerak, lalu siapa? Tidak ada akhir indah tanpa awal dibalut perjuangan.

Aku meminta tanda tangan untuk Buku Samin yang kubawa, lalu kami berfoto. Ketika tas sudah kuselempangkan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan beliau.

“Boleh saya lihat telapak tangan Anda?” tanya beliau waktu itu.

Aku urung beranjak. Ragu-ragu kubuka kedua telapak tangan. Beliau menarik jari telunjuk kiriku, dilihatnya telapak tanganku lebih dekat.

“Ini diramal atau apa?” batinku bingung.

“Rejeki Anda lumayan, semakin bagus seiring tambah usia. Usia Anda berapa sekarang, 22 atau 23? Masih kuliah atau sudah lulus?”

Hiyah, aku senyum-senyum sendiri. Berasa GR, ditaksir usiaku lebih muda dari aslinya.

“Sudah bukan mahasiswi, Pak,” jawabku masih dengan senyum mengembang.

“Anda tidak pernah sakit?” tanya beliau lagi.

“Kadang-kadang,” jawabku lirih. Ragu-ragu.

“Pilek dan kecapekan, tidak termasuk sakit, Mbak,” sela beliau.

Aku langsung menutup mulut dengan tangan kanan. Ketawa. Baiklah, pilek itu tidak termasuk sakit, kucatat. Aku memang tidak punya riwayat sakit.

“Urusan jodoh mau saya beritahu tidak?”

Aku meringis. Kenapa ada pertanyaan pengen tahu atau tidak? tentu saja mau tahu. Aku mengangguk saja sebagai jawaban.

“Jodoh itu urusan Anda sebenarnya, tapi tampaknya yang terlihat di sini (telapak tanganku) cukup rumit.”

Bukan lagi, rumit pakai embuhlah.

“Banyak cabang … atau memang Anda punya banyak pacar?” tanya beliau sembari tertawa.

Aku menggeleng. Ya ampun. Seketika itu, aku langsung pengen kabur. Tetapi, telapak tanganku masih diamati beliau.

“Terlihat dari mana, Pak?” Aku mengalihkan obrolan. Rasanya tidak tepat kalau mesti bahas pacar. Jangan deh, tidak usah dibahas lagi.

“Dari gambar garis tangan ini, kalimat yang Anda ucapkan pertama kali dan obrolan panjang tadi. Anda mau tahu apa kesan saya?”

“Boleh,” kataku datar.

Padahal, aku mulai worry kalau Bapak Soesilo bisa meramal beneran, atau semacam Roy. K yang bisa tahu masa lalu. Bukannya percaya dengan hal yang seperti itu, tapi aku paranoid jadinya.

“Menarik,” tutur beliau singkat.

“Syukurlah kalau begitu,” kataku sebelum beranjak lalu pamit sekali lagi.

Sudahlah, sudah. Rejeki, jodoh dan maut sudah tertulis dalam garis takdir-Nya. Kalau dibahas lebih lanjut, nanti aku tidak jadi pulang.

Sembari beliau mengantarkan aku ke luar pagar, kamu berbincang seputar perpustakaan yang tidak terawat.

Tutur beliau, ada wacana revitalisasi tapi belum terlaksana. Pun, perpustakaan Pataba belum terdaftar resmi, terkendala izin yang sempat tersendat. Ada cerita kurang baik beredar terkait pihak yang memberi izin. Tetapi, tanpa atau dengan campur tangan pemerintah, Bapak Soesilo Toer beserta keluarga akan terus merawat perpustakaan tersebut sebagai warisan budaya juga aset negara.

“Silakan ajak siapa saja datang, kami buka 25 jam dalam satu hari. Tetapi beginilah perpustakaan Pataba, self service dan tempatnya sederhana.”

Kalimat terakhir beliau terus terngiang sampai sekarang. Juga beberapa kalimat lain yang terekam jelas dalam memori kepalaku.

“Setinggi apapun gelar pendidikan Anda, tetaplah tidak bermanfaat jika tidak memahami makna karya sastra.”

“Cinta itu perlu, agar manusia tahu kita tidak bisa hidup sendiri.”

“Semua orang yang pulang dari sini, saya berharap, bisa bertemu lagi dan dia menjadi seseorang yang berbeda juga lebih baik lagi.”

“Sebuah karya tidak hanya untuk dibaca tapi dipahami. Untuk bisa dipahami, niatkan saja semoga bermanfaat.”

Pulang dari perpustakaan sekaligus kantor Pataba Press, aku mendapat banyak pelajaran berharga, tentang sastra, sejarah, dan kisah hidup Bapak Soesilo Toer.

Jika ada yang belum tahu siapa beliau, sini kuberi tahu, Soesilo Toer adalah adik bungsu Pramoedya Ananta Toer. Beliau yang sekarang mendiami rumah masa kecil keluarga besar Toer bersaudara. Bapak Soesilo Toer adalah satu-satunya saudara yang menapaki jejak sang kakak di dunia sastra.

Menurut cerita beliau, perpustakaan Pataba sudah didatangi tamu dari berbagai benua. Ada yang datang untuk sekadar bertamu, berkenalan, ada pula yang jauh-jauh datang dari Eropa untuk riset, bahkan sampai menginap berhari-hari.

Semoga lain waktu, teman-teman yang kebetulan lewat Blora bisa mampir ke perpustakaan bersejarah ini.

Sebagai penutup, ada satu kalimat beliau yang menjadi favoritku. “Manusia bisa saja mati, tapi karyanya akan tetap abadi.”

Sekian catatan perjalananku.
Ditulis hari ini, 13 Mei 2019

10 KOMENTAR

    • Hiyaaah bikin acara apa, Kak? Belum kepikiran, masih perlu banyak belajar, terlebih tentang konsep. *Pun ada hal lain yang kukejar dulu. 😄😄😆😆

      Kata-katanya simpan aja, Kak. Kalau lewat mampir, dan ngobrol sama beliau. 😃