Sumber gambar @Peacockoffie

Syukurnya dia memutuskan ambil cuti panjang. Sudah beberapa kali kami membuat janji, tetapi tidak ada konkretisasi. Aku memang sedikit mendesak, “Ini urgent sekali, Team! Coba deh dipikir lagi.” Teknologi digital memang memberi kemudahan dalam komunikasi. Bukan berarti pertemuan nyata diabaikan. Apalagi sudah diskusi bab visi dan misi, bagiku tidak cukup hanya lewat telepon genggam.

“Gimana, Team? Ada yang bisa aku bantu?” Kami memang jarang bertemu. Terlebih saat aku sudah memutuskan hengkang dari Jakarta balik ke Semarang. Sedang dia masih berusaha bertahan dan berjuang menaklukkan Ibu Kota. Peacockoffie menjadi tempat pulangnya ide-ide keren yang gentayangan. Tepatnya, menjadi saksi pertemuan pemikiran kami berdua.

Sore itu gontok-gontokan pendapat sudah seperti debat kandidat. Dia cukup menjadi oposisi yang hebat. Tanpa basa-basi, kenapa dan kenapa? Adalah pertanyaan yang harus kujawab dengan jelas dan tuntas. Aku tahu, semua itu untuk menyamakan pemahaman dan tujuan. Bukan adu gengsi untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Kalau dia benar aku tidak segan untuk mengiyakan, begitu pun sebaliknya.

Outdoor teras belakang menjadi tempat favorit. Hanya ada satu meja dan kursi panjang. Kalau sudah ada yang mengisi, pengunjung biasanya sungkan ikut gabung. Apalagi lihat tampang kami yang serius otot-ototan adu pendapat. Aku yakin mereka tidak akan kuat untuk berlama-lama duduk bersebelahan. Oh ya, di Peacockoffie kamu harus mandiri. Tidak mungkin pesanan sampai di meja tanpa kamu ambil sendiri.

“Belajar dari kesalahan itu mudah yang sulit adalah mengulang kesuksesan” katanya sembari menjelaskan apa yang harus dilakukan ke depan. Konsepnya sederhana, ulang kesuksesan yang pernah tercetak. Ingat kembali siapa saja yang terlibat, bagaimana cara kerjanya, tinggal kita perlebar spektrumnya. Manusia terkadang lebih mudah mengingat kegagalan. Soalnya, waktu sukses cenderung mulai lengah dan lupa.

“Kamu tahu Peacockoffie dulu bagaimana dan sekarang?”

“Setahuku sih sudah punya 3 cabang di Semarang” jawabku.

Aku cukup paham apa yang dia maksud, menganalisa masa lalu untuk di produksi ulang dengan bentuk yang lebih baik. Kalau dulu saja bisa, kenapa sekarang tidak? Harusnya lebih mudah. Meski keadaan tidak sama tapi itu bukanlah satu-satunya alasan. Bahkan Peacockoffie sudah membuktikan masih mampu bertahan sampai sekarang. Meskipun kafe sudah banyak berdiri di kota Semarang.

Mulai saat itulah, kami berkomitmen untuk membagi tugas. Jika arah dan tujuan sudah disepakati, jarak sudah tidak lagi menjadi soal. Adapun pertemuan selanjutnya adalah analisa dari apa yang sudah dikerjakan. Aktivitas harus dibentuk untuk mencapai produktivitas. Sekiranya hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Itu berarti ada kesalahan dengan aktivitas yang dilakukan. Jangan sampai jatuh pada lubang yang sama, kalau memang merasa benar-benar manusia.

Peacockoffie menjadi tempat lahirnya pemikiran baru, sekaligus menjadi contoh bahwa kesuksesan itu nyata bukan kegaiban.

15 KOMENTAR