sumber: pixabay.com/StockSnap

Sebuah cerita perjalanan yang tak penting apalagi menarik, tapi tak terlupakan bagiku

_

Agen Travel yang Seenaknya pada Arus Balik

Mendapat panggilan interview sehabis melamar pekerjaan memang tantangan yang juga menyenangkan bagiku. Menyenangkan, apalagi kalau harus ke luar kota. Hitung-hitung eksplorasi kota baru.

Sayangnya, belum punya SIM membuatku harus ke sana ke mari menggunakan kendaraan umum. Enaknya, tidak usah repot-repot memikirkan kendaraan sendiri. Juga tentunya tidak menambah polusi. Tidak enaknya, selain harus berdesak-desakan dengan orang lain, bisa kehabisan kendaraan kalau sudah larut malam.

Apalagi kalau musim lebaran begini. Jadwal interview-ku bertepatan dengan arus balik orang-orang yang mudik. Jadi, naik travel saja tempat duduknya dipaksakan. Harusnya 3 kursi untuk 3 orang, jadi untuk 4 orang.

sumber: pixabay.com/Free-Photos

Sialnya, travel datang pukul 16.35, padahal di tiket tertulis pukul 14.00. Aku memakluminya, karena memang jalanan macet ketika arus balik.

Di barisan tempatku duduk, mulai dari sebelah kanan adalah seorang ibu-ibu yang menggendong anak, lalu mas-mas berbadan kekar, aku, dan sebelahnya adalah mas-mas yang sepanjang jalan mendengarkan musik dengan earphone-nya.

Travel yang kutumpangi ini mulai menembus jalanan yang penuh dengan barisan kendaraan. Tujuan akhirnya adalah Solo, via Yogyakarta.

Sekitar satu jam perjalanan, mas-mas berbadan kekar di sebelahku mulai mengeluh sambil menelepon temannya. “Masa tempat duduk buat 3 orang, dipaksa untuk 4 orang. Bayangin, kakiku sepegel apa,” katanya pada lawan bicaranya di telepon.

“Mana travel katanya lewat tol, jadi kan cepet. Eh ini ternyata lewat mana,” lanjutnya. Tak peduli Pak Sopir yang tak jauh di depan kami mendengarkan atau tidak.

Setelah menutup telepon, aku tertarik mengajaknya mengobrol untuk mengatasi rasa bosanku. Hei, badanku juga pegal-pegal kali. Duduk di perbatasan dua kursi yang tidak seimbang posisinya membuat badanku tinggi sebelah. Mau sandaran, sandarannya juga rendah sebelah. Ah serba salah.

“Senderan aja, Mas. Saya maju aja duduknya.” Aku menawarkan Si Mas Berbadan Kekar untuk bersandar. Tidak tega juga.

“Pegel ya, Mbak?” tanyanya.

Aku hanya terkekeh.

“Bayangkan, saya udah di travel dari jam 12 siang,” ceritanya.

“Wow, dari mana emang?”

“Pekalongan.”

“Ooh, mau ke Solo?”

“Iya. Katanya lewat tol, makanya saya mau naik travel.”

“Ooh, saya juga ke Solo,” ceritaku kemudian.

“Biasanya berapa jam?”

“Mmm kurang tahu. Saya jarang ke Solo. Tapi pernahnya lewat Bawen, Semarang.”

“Ooh, belum pernah lewat Jogja ya?”

“Belum Mas, hehe.”

Pembicaraan terhenti. Hingga mas-mas sebelah kiriku yang sedari tadi mendengarkan musik mulai pindah ke kursi belakang seiring dengan beberapa penumpang di belakang yang sudah turun.

Biasanya, ketika naik kendaraan aku akan langsung tertidur supaya tidak mual-mual. Tapi ini, susah sekali. Sementara mas-mas berbadan kekar memandangiku sambil bernapas lega. “Akhirnya senderan Mbak.”

“Hahaha, iya.”

sumber: pixabay.com/tookapic

Ada satu hal yang bisa kucontoh dari mas-mas berbadan kekar ini. Ia begitu peka. Sepanjang jalan, ia tak cuma diam. Kadang mengajak ngobrol ibu-ibu yang menggendong anak tadi, menghibur si anak supaya tak bosan, atau sibuk melihat kondisi si ibu maupun aku apabila duduk kami tidak nyaman. Lalu, sebisa mungkin ia akan mengalah bagaimana pun caranya supaya kami nyaman.

Aku tidak tega melihat ibu-ibu tadi. Kalau aku sih masih muda. Sementara beliau, berangkat dari Brebes sudah dari jam 9 pagi. Kebayang bagaimana pegalnya duduk berdesak-desakan dalam travel sambil menggendong anak? Ah, lebaran memang begini ya.

Perjalanan ke Solo yang harusnya kutempuh 3,5 jam, menjadi susah diperkirakan. Hari mulai malam. Tiga setengah jam perjalanan, kami baru sampai Yogyakarta. Itu pun jalanan macet.

“Mbaknya pakai instagram?” Tiba-tiba mas berbadan kekar bertanya padaku.

“Pakai, Mas.”

“Namanya?”

sumber: pixabay.com/terimakasih0

Lalu kuberi tahu username instagramku. Ah, jangan berpikir macam-macam dulu. Bagiku, menambah teman itu penting. Apalagi kalau pergi sendirian ke kota asing. Lumayan, teman baru bisa kita tanya-tanya sesuatu. Rekomendasi tempat makan, misalnya.

Sampai Klaten, penumpang sudah tinggal sedikit. Tersisa aku dan beberapa orang yang sama-sama bertujuan ke Solo.

_

Bertemu Orang yang Baiknya Nggak Tanggung-Tanggung

Seiring berjalannya waktu, aku mulai bertanya pada Pak Sopir apakah melewati jalan tempat tujuanku atau tidak. Sebagai cewek yang pergi sendiri, aku harus pintar-pintar mencari cara aman untuk sampai tempat tujuan. Ah, rupanya Pak Sopir kurang tahu menahu jalan di Solo, kecuali jalanan yang biasa dilewati bus.

“Coba tanya mas-mas belakang, Mbak. Dia orang Solo.”

Aku mulai bingung. Mas-mas berbadan kekar tadi rupanya juga belum lama tinggal di Solo.

“Mau ke mana Mbak?” Seorang mas-mas yang duduk di kursi belakangku dengan tubuh agak berisi dan memakai kacamata menanyaiku.

Aku menjelaskan tujuanku. “Mending turun terminal aja, Mbak.”

“Nggak sepi kan, Mas?” tanyaku. Sebenarnya kupikir Solo adalah tempat yang aman. Namun, Emak sudah rewel mengirimiku sms untuk tidak turun di tempat yang sepi.

“Nggak. Saya juga turun Terminal Tirtonadi kok, Mbak.”

“Okeee, sip Mas.”

sumber: instagram.com/gedearga (via @explore.solo) pp

Memasuki Solo, mas-mas berbadan kekar mulai turun. Kalau kutebak dari postur tubuhnya, masnya ini seorang atlet. Dan dugaanku benar ketika kulirik instagramnya setelah mengikuti akunku. Atlet sepak bola rupanya.

Dia juga ternyata menekan like pada beberapa fotoku yang paling terbaru. Padahal foto-foto terakhirku tahun 2017. Duh, malu.

Beberapa lama kemudian, sampailah aku di seberang Terminal Tirtonadi. Lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang. Aku mulai ragu untuk memesan ojek online. Hei, kalau ada yang menculikku lalu aku dijual bagaimana? Belum lagi kalau seumpama organ-organ tubuhku seperti ginjal, mata, jantung, diambil bagaimana?

“Mau bareng saya aja apa Mbak? Saya bawa motor, parkir di sebelah sana.”

Suara mas-mas berkaca mata yang turun bersamaku itu membuyarkan lamunan liarku.

“Emang Masnya ke mana?”

“Saya juga searah sama Mbaknya. Biar sekalian gitu. Atau mau saya tungguin mesen ojek online?”

Aku berpikir panjang. Entah mengapa rasanya mudah sekali untuk mempercayai orang yang menurutku baik ini. Daripada harus naik ojek online. Kalau drivernya menculikku bagaimana?

“Ngrepoti nggak, Mas?”

“Santai aja, Mbak.”

Kami pun berjalan menuju penitipan motor. Jadilah aku menebengnya menuju kos tempatku menginap. Sepanjang jalan, masnya bercerita bahwa ia baru saja dari Pekalongan mengantar pacarnya melamar pekerjaan. Dari Pekalongan sudah pukul 12 siang. Nyaris jam 11 malam ini baru sampai Solo.

Aku hanya bergumam dalam hati. Andai punya pasangan sebaik mas-masnya ini.

sumber: pixabay.com/Free-Photos

Beruntung sekali aku bertemu mas kacamata ini. Tunggu. Aku hanya terkesima dengan kebaikannya, ya. Tak bermaksud berniat hal lain.

Ada satu hal hebat yang kupelajari dari mas-mas berkacamata, bahwa menolong orang tidak usah tanggung-tanggung. Siapa pun yang membutuhkan, asal kita mampu, mengapa enggak?

_

Terkunci di Luar Kos dan Teman Baru

Kamu harus tahu. Ada-adaaa saja yang terjadi hari ini. Hari sudah gelap. Langit Solo mulai agak mencekam. Angit malam yang dingin mulai bertiup, meski tak sedingin Temanggung. Sekitarku hanya bangunan rumah-rumah yang penduduknya sebagian besar sepertinya sudah beristirahat melepas lelah.

Daaan satu lagi. Kos temanku tempatku menginap, pintu utamanya sudah dikunci dari dalam. Gawat, kan? Gawat banget! Soalnya sesungguhnya temanku sedang pulang kampung. Aku memang diberi kunci kamarnya, tapi disimpan di bawah keset persis depan pintu kamar. Kalau pintu utama saja terkunci, bagaimana aku bisa masuk?

Aku langsung menelepon temanku. Ah, tidak kunjung diangkat. Dia sudah tidur.

Ya, jalanan gang semakin sepi. Semakin membuatku panik. Ah ya, kata salah satu temanku, ketenangan itu penting dalam menghadapi masalah. Lantas aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba terus menelepon temanku.

Syukurlah, telepon diangkat. Ia lalu menelepon teman satu kosnya supaya membukakanku pintu. Jadilah kami juga berkenalan. Rupanya temannya temanku ini juga bekerja di sekitar sini. Huaaah, baru saja aku bisa bernapas lega ketika ponselku berbunyi tanda DM (Direct Message) masuk di instagram.

sumber: pixabay.com/Erik_Lucatero

“Assalamualaikum. Sudah sampai?”

Dari mas-mas berbadan kekar tadi. Aku tersenyum. Senangnyaaa dapat teman baru.

Sungguh perjalanan yang amat lucu.

Enam setengah jam perjalanan Parakan-Solo, 9 Juni 2019

1 KOMENTAR