(Saya, bang Rizal, bang Indra) Sumber : Dok. Pribadi

Boleh dibaca juga >>> Cerita Dibalik Proses Luar Biasa  Papringan Story

“Za, kamu kan bisa nyiptain lagu. Coba buat lagu untuk Papringan, Za.” celetuk bang Text tiba-tiba
“Eh, iya. Bener juga tuh” sambut kak Rin
“Iya kak Muza. Buat gih!” Vera ikutan dukung.
Saya, sok bengong.

(Tidak ada bunyi tuut tuut..)


Obrolan berempat malam itu. Tiba-tiba kepikiran membuat soundtrack untuk cerita Papringan. Otak bang Textra memang tidak boleh disepelekan. Cerdas banget memang abang yang satu ini kalau masalah ide. Dipancing dikit ngobroli sesuatu, sudah ada saja ide lain yang keluar. Pastinya eksekusi idenya juga gak kalah mantab. #bagi yang bersangkutan, mohon stay cool.

Saya yang diamanahkan jadi kepikiran terus setelah itu. Buat lagu seperti apa coba? Toh, label bisa menciptakan lagu pun bukannya seperti musisi-musisi handal di luar sana. Main alat musik saja kagak bisa. Bisa si bisa kalau belajar. Tapi niat belajarnya yang kurang.

• Awal Iseng Menciptakan Lagu Sendiri

Seingat saya, dulu awal waktu kelas tiga SMA pas lagi galau. Ada 2 lagu. Sekarang hanya tersisa tulisan liriknya saja karena nadanya hanya bermodal feeling dan direkam lewat handphone jadul yang berakhir dengan kerusakan karena sudah expired. Intinya lupa.

Berawal dari satu lagu yang sempat saya tulis di april 2018 kemarin –masih sama dengan modal feeling–yang aransemen musiknya digarap oleh salah satu teman, urang Bandung, yang saya panggil A’ Yudi aka Yudi Setiadi (pengguna platform PM mungkin kenal beliau), dari sanalah banyak yang tahu kalau saya bisa membuat lagu sendiri. Bisa doang. Bukan pakar.

•Akhirnya Buat Lagu Untuk Papringan

Kembali ke Papringan. Saat itu malam hari. Saya masih ingat kondisi lagi ngambek tapi malah kepikiran membuat lagu untuk Papringan. Nadanya ceria pula.

Bahkan merekam lirik dan nadanya sambil ngemil keripik pisang. Serius. Soalnya lagi usaha mengembalikan mood booster yang lagi down dengan cara ngemil.

Oh ya, lagu ini judulnya, “PAPRINGAN, Suatu Sore Bersamamu“. Seperti yang saya bilang tadi. Lagunya bernada ceria. Karena menceritakan sepasang suami isteri yang sedang liburan ke pasar Papringan.

Sebenarnya lagu tersebut sempat saya usulkan ke beberapa teman termasuk A’ Yudi. Namun mungkin karena kesibukan kerja masing-masing pihak yang harus  dimaklumi, saya pun tidak bisa memaksa.

Melihat kondisi seperti itu, si abang pun bertindak gercep untuk segera mencari alternatif hingga akhirnya proyek lagu Papringan digarap oleh mas Gilang, salah satu teman Bang Textra bagian dari anak Teater Kaplink dibantu teman-teman dari Stereoland Recording Studio.

Photo by instagram/Stereoland Recording Studio

•Akhirnya Lagu Papringan Mulai Diproses

Kalau tidak salah februari yang lalu sudah mulai proses. Karena kesibukan juga, kami pun sangat memaklumi proses pembuatan musiknya pasti akan memakan waktu panjang. Namun tetap apresiasi tinggi untuk mas Gilang dkk, karena telah konsisten membantu proyek lagu ini walau harus mengorbankan waktu-waktu luang mereka, sampai selesai.

Belum lagi beberapa nada aneh yang terkandung di dalam lagu “ngarang” saya yang katanya sempat gak dapat-dapat kuncinya. Duh, mohon maaf.

•Kendala Mencari Studio Rekaman di Medan

Mencari studio rekaman di kota Medan cukup sulit bagi saya yang kurang gaul dengan teman-teman musisi setelah tamat dari SMA. Apalagi proyek ini cukup low budget ya. Jadi mau gak mau biayanya harus cari yang low juga dong. Hihi. Sayangnya saya dapat yang cukup mahal.

Lagi-lagi si abang bertindak gercep.
Alhamdulillah bang Text mempunyai kawan lama di Medan. Namanya Rizal. Saya memanggilnya, bang Rizal. Beliau sangat baik. Bahkan selain ikut serta mengawasi dan mengarahkan proses take vocal-nya, beliau juga bersedia menjadi donatur alias penanggung biaya recording-nya kemarin. Hehe.

Kami sangat berterimakasih atas kebaikan-kebaikanmu, Bang. Sukses terus dan murah rezeki. Aamiin. Segera kami kabari jika lagunya sudah selesai. Kamu punya andil juga di sini.

•Cerita Sebelum Proses Take Vocal

Singkat cerita, setelah sempat rencana ini  dan itu, sampailah diskusi berempat malam sebelum hari H,  akhirnya nemu tempat recording-nya di kota Binjai, tetangga kota Medan. Perjalanan kesana sekitar setengah jam naik kereta.

Mengingat Ramadan sudah di depan mata saat itu, kami sepakat segera menentukan  pertemuan di esok harinya. Hari Ahad tanggal 05 Mei kemarin, tepatnya satu hari sebelum Ramadan. Sengaja mengejar waktu sebelum itu supaya puasanya tidak terganggu.

•Ketemu Bang Rizal dan Proses Recording Pertama Kali

Akhirnya saya sampai di kota yang dijulukin kota rambutan ini beberapa menit setelah dzuhur. Sempat sholat dulu sebelumnya. Setelah itu kami langsung pergi ke studio rekaman rekomendasi dari beliau yaitu Garasi Record.

Tiba di tujuan saya sempat bingung. Ini studio, kafe atau tempat manggung? Ternyata tempat ini bernama Garasi Indie. Ruang gerak bebas untuk peminat musik dan seni. Perpaduan konsep antara kafe cozy dengan studio rekaman plus lengkap dengan mini panggungnya, saya yakin ini tempat ngumpul nongkrong asyik bagi para musisi indie Binjai mungkin pun Medan.

Photo by instagram/indiekopibinjai

Proses take vocal berjalan cukup singkat. Sempat agak grogi karena perdana recording beneran dan sepertinya jadi sedikit banyak berpengaruh pada suara saya. Tapi karena kata mas Gilang aman, ya semoga memang aman ya. Walau tetap merasa masih belum maksimal mengusahakan suara terbaik saya. Hiks.

Dimulai dari pukul 2 siang dan selesai beberapa menit sebelum waktu ashar. Pukul 4 sore saya sudah tiba di stasiun kereta untuk kembali lagi ke kota Medan.  Setengah jam perjalanan akhirnya sampai.

(Bang Indra, saya, bang Rizal)
Sumber : Dok. Pribadi

Take vokal pun selesai sesuai target deadline. Ramadan dan selanjutnya tinggal proses editing. Untuk kapan selesainya semoga bisa ba’da lebaran. Apapun itu kami percaya dan serahkan selebihnya ke mas Gilang dkk selaku Arrangers dari lagu Papringan.

•Sedikit Kisah Dramatis yang Mengikuti

Dramatisnya pergi pulang dari take vocal ini adalah di pagi harinya keluarga kakak kandung saya kecelakaan. Alhamdulillah terselamatkan meski ponakan perempuan, kakinya harus dijahit karena terluka cukup parah. Sempat menjenguknya sebelum pergi di siang hari karena sudah terlanjur janji dan mau kapan lagi. Syukurlah keluarga pun memaklumi karena mereka juga mendukung proyek ini.

Pulang dari take vocal, pesan whatsapp masuk mengabarkan bahwa anak dari sepupu terdekat saya yang baru beberapa hari lahir akhirnya meninggal dunia. Saya sadar semua itu memang takdir yang sudah digariskan Allah. Maka bagaimanapun harus mengikhlaskannya. Walau tetap sedih pastinya.

Esoknya melihat pengumuman bahwa True Story yang terinspirasi dari kisah masa lalu keluarga kakak kandung saya yang kecelakaan tadi ( kisah meninggalnya salah satu dari anaknya) terpilih pada challenge MusicforWriter dari Penakata. Sangat terharu karena cerita itu ditulis dengan air mata mengenang.

Kakak senang mendengar kabar itu. Bahkan ia jadi ikutan tak sabar juga ingin segera mendengar lagu yang akan diciptakan bang Dimec begitupun lagu Papringan pastinya. Yasudahlah, kok curcol-nya jadi kepanjangan.

Okeh, itulah tadi cerita-ceriti proses dibalik lagu Papringan dan ini beberapa bagian liriknya sebagai gambaran, saya persembahkan untuk kalian. Wajib ditunggu real song-nya. Saya yakin dua tiga kali bahkan mungkin pertama kali mendengarkan, kalian langsung bisa mengikuti nadanya.

PAPRINGAN, Suatu Sore Bersamamu
___
Kulangkahkan kaki di suatu sore
Bersama denganmu
Kita berjanji pergi berdua
Nikmati sore hari

Tertawa bersama, nikmati indahnya kisah kita
Kemana ku kau bawa
Katamu tempat yang pasti … kusuka

Di Papringan, oh Papringan..
_____
Udah ah sampai situ saja dulu ya. Penasaran gak selanjutnya apa? Sabar ya? Lagi proses editing. Nanti dengarkan saja langsung di waktu rilisnya. Saya saja gak sabar lihat hasilnya. Kita tunggu bareng-bareng. See you next time.

8 KOMENTAR

  1. Mue, baca ini aku malah bukan fokus ke cerita kamu, tetapi ke foto kamu. Lain kali kalau kamu keberatan wajah kamu dilihat dan dinikmati warganet yang enggak semuanya juga punya pikiran jelek dan jahat, jangan kamu unggah deh. Rasanya berdosa juga saat Tuhan kasih kamu wajah, tapi kamu rusak dengan emoji kayak gitu. Kalau enggak mau dilihat warganet, ya jangan kamu unggah yang ada wajah kamulah. Kalau mau kamu unggah, ya lebih baik pakai masker pas kmau berfoto. Jadi, hanya mata saja yang terlihat. 😒

    Oya, kalau nanti promo buku kayak dulu di Pm, wajah kamu pasti enggak pakai emoji, ya? Mau jualan buku soalnya. Otakku yang dangkal ini jadi punya pikiran jelek. Kayaknya aku brengsek banget sampai punya pikiran kayak gini. Duh! *Ini isi kepalaku, yang lain bebas.😶

    ** Ini beneran ganggu mata banget. Sampai segitunya. *Tuhan, aku janji enggak bakalan melakukan hal kayak gini. 😇✌😇

    • Hehee iya kak maaf yoo buat gak nyaman. Segala sesuatunya punya maksud dan tujuan kok. 😄 Mohon fokus di tulisan aja ya. Aku yang bukan apa2 ini abaikan saja. Cukup wajahku aja yang jelek, jangan pikiranmu. 😊💛

      Sensi mulu sih kak sama aku? 😄
      Mohon maaf lahir batin ya kak
      😊

      Itu pun fotonya sesempatnya. Kalau gak diingatkan aku juga lupa foto pasti.

      Iya nanti di buku eksis kok. Tenang aja. Itu pun kalau nyantumin foto ya.

      Nyanyi aja yok kak, “Di Papringan … Oh Papringan” 😄💛

  2. Wah, aku sensi sama kamu, ya? Kalau begitu habis dobg waktuku tersita untuk kamu. Baiklah, aku enggak bakalan lagi. Berharap untuk selamanya deh. Mau komen seperlunya saja. 😮

    Maaf lahir batin juga, ya. Selagi sempat. Hehehe. 😄

    • Duh. Jangan gitu dong kakanda An. Dinda Mue kan tak bermaksud. 😊

      Tuh kan, aku jadi rindu dipanggil Dinda lagi. Sudah lama tak kubaca 😄

      Kuharap malam di pulau J mu tidak hujan. Di pulau S ku bunyi2 aja langitnya. Hhaha 😄