Sumber gambar pixabay.com/pixel2013

Aku tersenyum setelah membaca balasan pesan darinya. Menurutku, dia laki-laki yang sangat terbuka, apa adanya. Tidak sungkan bercerita banyak hal padaku, sekalipun itu masalah personal.

Jujur, aku pribadi masih sedikit keheranan. Kenapa dia terkesan ‘nyaman’ berbagi denganku? Seolah aku yang bukan siapa-siapa ini, berhak tahu semua tentangnya. Bukan berarti aku tidak mau tahu, atau lebih mengenal, bukan! Aku hanya merasa belum saatnya mengetahui banyak hal tentang dia. Sebab percakapan intens antara kami baru terjadi beberapa hari terakhir.

Pasti, orang lain pun tak akan percaya jika kubilang, kita baru kenal. Tetapi, kenyataannya memang begitu. Aku dan dia baru kenal, sungguh.

Lihatlah, dia mengetikkan sebuah lirik lagu. Oh, ini lucu. Lagu untuk orang lain, tapi dia kirimkan padaku. Anehnya.

Aku tertawa pelan menatap layar smartphone, entah apa yang kutertawakan? Dia atau diriku sendiri. Aku pun tak tahu.

Kubalas lirik lagu darinya dengan lagu lain, diikuti kalimat sindiran.

“Kok aku jadi laper.” plesetan baper yes.

“Laper makan Sis, kamu jangan terbawa suasana.”

“Jelas, aku terbawa suasana ingin tidur. Ini udah malem.

Siapa yang bilang ini pagi?

“Whatever.”

Kuakhiri interaksi kami berbalas pesan, lalu matikan ponsel sebelum bersiap tidur.

Ada keanehan lain yang tidak biasa terjadi? Setelah bebersih dan rutinitas sebelum tidur, aku malah duduk memangku laptop. Belum ada tanda-tanda kantuk menyapaku, kala waktu menunjukkan pukul 00.25 dini hari. Kebiasaan ngalong yang tidak patut ditiru ya teman-teman.

Kutekan turn on dan mulai mengetik. Entah disebut apa tulisanku ini, cerpen curhatan barangkali? Bodo amatlah, nama tulisanku tidak lebih penting dari apa yang ingin kuceritakan.

Intinya, aku menceritakan awal pertemuanku dengan dia. Seseorang yang baru saja berbalas pesan denganku.

Jadi begini, kami punya ketertarikan yang sama yaitu literasi. Aku beberapa kali, melihat dia hadir dalam acara keanggotaan komunitas yang kuikuti. Hanya melihat dan tak bertegur sapa. Ayolah, mana ada perempuan mengajak kenalan lebih dulu. Itu tidak ada dalam kamusku.

Pernah sekali ada kejadian lucu, saat namaku dipanggil ketika absensi rutin. Dan kulihat dia terhenyak saat aku berdiri.

“Kenapa orang itu terkejut saat melihatku?” benakku kala itu.

Dia tersenyum menatapku ketika aku sudah kembali duduk.

“Mbak Arifiya Yukeneyza, betul?” tanya dia yang saat itu belum kutahu siapa namanya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul.

“Salam kenal, saya Radit.”

“Iya sama-sama, anda pasti sudah tahu nama saya,” jawabku berusaha mengimbangi sikap formalnya.

“Iya, sebelumnya saya pikir pemilik nama itu laki-laki, maaf,” ucapnya.

“Tidak apa, banyak yang mengira seperti itu.”

“Silakan dilanjut ngobrol, saya ada keperluan lain,” tuturnya sebelum pergi menjauh dari mejaku.

“Jadi itu sebab dia nampak terkejut saat aku berdiri tadi. Dia mengira aku ini laki-laki,” anganku terjawab sudah.

Setelah itu, tidak ada sapaan ataupun kalimat basa-basi sama sekali antara kami. Sudah. Berakhir. Layaknya orang asing dalam satu ruangan yang sama. Aku pun tidak merasa tertarik untuk menghampiri Radit. Dia nampak begitu sibuk mengurus acara keanggotaan atau seminar yang diadakan. Aku hanya menikmati keseruan obrolan menjadi anggota, seperti kebanyakan orang yang datang ke aula besar tempatku berada.

Sekitar sepuluh hari yang lalu, Radit meminta anggota komunitas untuk men-share rekomendasi cerita yang bersetting tahun 90 sampai 2000an. Lalu aku mengirim naskah yang kurekomendasikan ke sosial media yang Radit minta. Selang satu hari dia mengirim pesan padaku,

“Hm itu tulisan kamu?

Aku kaget pas baca isi pesan pertamanya itu.

“Iya, ada yang salah? Maaf, kupikir settingnya sesuai dengan apa yang kamu minta.”

Kubalas pesan darinya dengan sopan.

“Tidak ada yang salah, tapi ….

Lah, dia menggantung kalimat dan berakhir “tapi”

“Tapi apa? Maaf, jika isi tulisannya tidak sesuai dengan ekspektasimu.”

Aku jadi malu karena mengirim naskahku sendiri. Ah, harusnya aku tidak terlalu percaya diri untuk menunjukkannya pada orang lain.

“Oh bukan. Bukan begitu, hanya lucu saja.”

“Maksudnya?

Di mana lucunya coba? Lucu karena tulisanku masih acakkadul apa ya?

“Baca tulisan orang lain rasanya biasa aja. Tapi kalau baca tulisan orang atau temen yang udah kenal suka senyam-senyum sendiri.”

Ya Robb. Dia menertawakan tulisanku apa akunya yang nggak tahu diri? Aduh aku malu.

“Mohon dimaklumi jika kurang bagus, saya masih awam sekali.”

“Sudah lumayan kok, saya tidak bilang tulisan kamu buruk.”

“Memang tidak, tapi saya sadar diri.”

Kami pun mulai mengobrol di forum grup, bisa dikatakan tempat umum yang bisa dibaca banyak orang. Sampai akhirnya ada bahasan spesifik yang harus beralih ke Personal Chat.

Sejak saat itu, dia sering mengajak sharing tentang dunia kepenulisan. Bukan sharing deh, aku yang lebih banyak nanya. Dari skala 1-10 ilmu yang kukuasai baru sekitar 3, masih payah.

Dari sharing akhirnya melenceng bahas topik lain, tiba-tiba saja kami akrab.

Tapi tunggu, mungkin cuma aku yang merasa akrab. Radit mungkin tidak beranggapan sama denganku. Bisa jadi, baginya aku hanya kenalan biasa, bukan teman akrab. Tapi tak apa, aku tak butuh pengakuan akrab atau tidak.

Satu lagi, saat aku dan Radit akan bertukar nomer ponsel. Lucu, ini obrolan sopan yang cukup manis. Bukan dengan cara meminta, tapi menawarkan dan memberi pilihan. Anak muda nggak bakal tahu tingkat kesopanan yang seperti ini.

“Komunikasi di sini apakah cukup efektif?”

Kukirim pesan padanya seperti itu. Bukan apa-apa, sebab dia punya gagasan yang cukup menarik. Aku pun jadi penasaran untuk berkomunikasi lebih banyak lagi.

“Baiknya bagaimana?

“Aku jarang daring di sosmed.”

Kukasih lampu hijau, hm gimana respon Radit?

“Bisa di akun lain kalau mau?’

Dia sangat berhati-hati rupanya.

“Aku punya akun bisnis, rasanya juga tak apa jika kita lanjutkan mengobrol di sana.”

“Boleh, aku tidak keberatan. Itupun kalau kamunya mau?

“Bisa.”

“Boleh kutahu berapa nomermu?

“Silakan add ….”

Sekarang kami malah jarang bertukar pesan di sosmed. Lebih sering chatting di nomer telepon pribadi. Obrolan menarik tentang gagasan dia, mengenai satu rencana. Dia mengajakku turut serta.

With my pleasure dude, I’m in.

Aku juga nggak nyangka, kalau Radit itu seru dan nyambung diajak ngobrol apa aja. Awalnya, dulu kukira dia itu orang yang kaku. Maksudnya, orang yang sangat membatasi topik obrolan. Ternyata, aku salah besar. Radit ramah dan suka candaan receh, ada sedikit kesamaan visi antara aku dan dia. Tentang sudut pandang mengenai kehidupan sosial yang terjadi akhir-akhir ini. Mungkin karena usia kami yang sudah cukup dewasa.

Ngomong-ngomong, aku belum tahu berapa usia Radit sebenarnya? Aneh ya. Kenapa aku nggak nanya atau nyari tahu coba? Em nanti aku tanya deh sama orangnya.

Satu kemiripan antara aku dan Radit, kita tuh suka pilih-pilih teman. Dalam artian, siapa orang yang perlu dikenal lebih jauh. Tapi, kalau sudah ketemu teman yang cocok, kita bisa jadi orang yang paling seru, menyenangkan kemana saja arus pembicaraan.

Buat kamu, siapa saja di luar sana, silakan sapa aku lebih dulu. Jangan berpikir aku orang yang galak, enggak kok. Yakin deh.

Pasti akan kujabat tanganmu seraya mengukir senyum terbaik.

Salam kenal.

5 KOMENTAR