Kuletakkan hadiah ulang tahun yang terbungkus kotak kecil, di meja kerjanya. Tangan bergetar, suara pun tertahan di kerongkongan.

Aku bisa bersikap biasa saja. Ya, biasa saja. Setidaknya aku harus mengatakan sesuatu sebelum beranjak dari sini.

“Ke, terima kasih sudah mau datang ke mari,” ucap laki-laki yang duduk di depanku, sembari memangku seorang putri kecil yang manis.

“Tidak perlu berterima kasih. Ngomong-ngomong selamat ulang tahun, Pak Tian,” ucapku lirih. Mungkin aku terdengar seperti orang sakit yang kesulitan bicara.

Tetapi, aku memang sakit. Hanya saja fisikku terlihat baik-baik saja. Sedangkan di dalam sana, hati yang remuk redam, porak poranda, habis tak berbentuk. Ketika kutatap wajah perempuan yang berdiri di samping Tian, kakiku semakin lemas. Perempuan berperawakan tinggi, dengan rambut lurus sebahu itu tersenyum padaku penuh arti. Sedang aku, bibir ini tak mampu lagi mengekspresikan perihnya rasa yang kutahan.

Tian berdiri, menurunkan putri kecil yang dia pangku, mendudukkannya di atas meja kerja. Anak itu merengek minta turun. Ocehan khas anak-anak.

Perempuan yang sedari tadi sibuk mengurus kue ulang tahun, berbentuk hati dengan tulisan Septian Rahadi di hiasannya, memotong sedikit kue, lantas menyodorkan sepotong irisan padaku.

Aku mematung. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Berbalik badan dan pergi dari sini menjadi pilihan. Namun, kakiku berkhianat. Aku tak kunjung melangkah kemanapun, diam di tempat.

“Terimalah,” pintanya.

Aku masih diam. Tanganku tak berdaya untuk meraih apa yang perempuan itu berikan.

“Inneke,” panggil Tian.

Aku sontak memandang wajah laki-laki yang kusayangi dengan mata berembun. Pandanganku buram. Sekali lagi aku berkedip. Bulir bening yang kutahan, tak akan mampu lagi bisa bertahan.

“Terimalah, kue ulang tahun buatan Lisa. Oh ya Lisa, ini Inneke. Cerpenis kece, yang sekarang jadi penulis tetap di kantor pusat. Dan Inneke kenalkan, ini Lisa. Dia istriku,” terang Tian.

Laki-laki itu menatap wajahku, sudah pasti dia tahu apa yang kurasa saat ini. Kecewa.

“Terima kasih tawarannya, tapi saya tidak bisa lama-lama,” tolakku.

Aku tersenyum tipis pada mereka lantas menundukkan kepala. “Permisi, saya harus pergi.”

Aku memutar badan, masih dengan wajah tertunduk. Air mataku lolos. Dalam hati terperih aku merutuk, “Jadi, selama ini aku menjalin hubungan dengan suami orang?”

Bersambung ke bagian satu ….

 

Somewhere

18.12

14 Peb 2019

 

Prolog ditulis oleh Yuke

17 KOMENTAR

  1. Hai, aku Ana. Salam kenal untuk Inneke, Tian dan Lisa. Selamat datang di dunia Penakata.πŸ’

    * kemari (dirangkai)
    * namun (kata penghubung antarkalimat) biasakan dipakai di awal kalimat, sedangkan untuk ”tetapi” adalah kata penghubung intrakalimat. Yang bakunya adalah “tetapi”, bukan “tapi”. πŸ˜‚ (sayangnya, aku pun sering saltik tuh dan melakukan kesalahan wkwkwk)πŸ™ˆ
    * ke mana (dipisah)