Sumber gambar ; pixabay.com

Pendar siluet senja terlukis pada pelupuk mata bak atraksi menawar senyum. Kepak camar juga desau angin barat pelengkap sebuah dejavu. Tak ada aroma kenangan yang pantas untuk tersuguh pada bingkai ingatan. Musnah bersama tergugu menatap semburat yang kian menghilang.

Tak pantaskah terkenang bagimu, jua? Picikkah pikirmu bila artikan kesedihan ini sebagai ciri khas seorang aku yang merelief kata rapuh? Apa salah jika rinduku pada lalu masih sedemikian megah bertahta pada harap hampaku? Kau tak punya hati, Lelaki! Kau tak pantas memang untuk kukenang.

Selembar kertas bernoktah hitam tanpa pias tertatap di hari itu. Berjibaku diri merapal kalimat penguat. Tak ada yang mampu terucap selain isak yang enggan tertahan serta luruh bening yang berarak. Cukup sudah mengeja kesendirian dengan imbalan 2 purnama mengenyam pilu. Dia sudah bebas berkoar untuk kemenangan ini.

Ku sajakkan kebebasan ini, wahai lelaki. Kuramu kata demi kata ungkapkan kepergianmu dahulu. Tak menyesal diri merajut hari denganmu meski separuh waktu habis dalam kepedihan. Pongahmu pada jejeran selir hati terpampang jelas. Aku tak kecewa. Tidak. Tidak dengan perpisahan ini aku melarik kata kecewa, tetapi, pada pertemuan itu aku terpaksa harus berkata. Aku menyesal mencintaimu dengan tulusku sementara kau sedikitpun tak menghargai itu.

Senja kian merangkak, kemegahannya yang sesaat membius ribuan tatap. Malam siap bergerak, kegelapannya menjadi tamu paling hakiki di rimba belantara sana. Nyanyian serangga malam kembali berorkestra, ditimpali seruling anak gembala memanggil ternak kembali pulang ke kandang. Merindu sang pujangga pada barisan gurindam lama, ada kesunyian bergayut pada larik petuah itu. Rindukan masa lalu meski masa kini kian semarak merajam kata.

Sempurnakan saja kepergianmu pada lain raga, Lelaki. Tak ada tersisa hingga beserta restannya pula. Jika bahagia adalah harga paling mahal untuk sebuah kesetiaan, sudikah kau bayar aku dengan kerelaan melepasku pada setiap jengkal ingatanmu? Kau boleh tertawa atas kekalahanku, tetapi kau tak mampu menepis kenyataan bahwa akulah yang mampu membuatmu bertekuk lutut saat aku mengucap sebaris kalimat,

“Kau, lelaki yang tak mampu membuatku menjadi wanita seutuhnya.”

Celebes, 030219

6 KOMENTAR

  1. Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahah ( kau boleh tertawa atas kekalahan ku, Icha ngakak dulu jadinya . Ngobrol-ngobrol, wanita seutuhnya itu seperti apa kak Dika ? Icha butuh penjelasan karena Icha wanita yang sedang jatuh cinta..Halah!)