@dudukbelakang

“Tiap tahun Bayek selalu pulang kampung tapi kali ini berbeda. Kali ini dia tidak pulang untuk liburan. Bayek pulang, untuk pulang.”

Judul buku: Ibuk

Penulis: Iwan Setyawan

Genre: Novel/fiksi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Cetakan pertama Juni 2012 – Cetakan kelima Desember 2017

Jumlah halaman: 293 halaman

Harga: Rp78.000 (Pulau Jawa)

Wara/blurb

 Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

Ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan.

Sinopis

 Di bawah kaki Gunung Panderman terdapatlah sebuah keluarga yang kaya dengan kesederhanaannya, rumah di ujung gang buntu di salah satu sudut Kota Batu. Ibuk, bapak, dan kelima orang anaknya: Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira.

Ibuk dan bapak, dua pahlawan di kapal kehidupan keluarga tersebut. Tidak pernah runtuh dan luluh mengarungi samudera penuh badai. Bapak sang supir angkot sudah bangun jam 4 subuh, menyisir jalanan menggunakan angkot bekasnya yang sering mogok. Ibuk, pahlawan di balik kokohnya tiang rumah sederhana mereka, tak pernah memandang hidup sebagai penderitaan, karena hidup adalah perjuangan.

Cinta, berbekal cintalah mereka bisa tegak dengan perkasa. Memang tak pernah terucap janji, tapi hati mereka sudah sepasang dan searah, sudah tahu hendak ke mana.

Ibuk dan bapak berjuang sekuat-kuatnya, itulah yang memberikan kesadaran secara tidak langsung kepada kelima anaknya. Semangat dan tekad itu turun secara alami tanpa dipaksa sedikitpun. Menjadikan jiwa anak-anak polos itu jernih, disiplin, cerdas dan tekun. Syarat lengkap menuju kesuksesan mereka masing-masing. Mengubah kehidupan keluarga yang serba susah itu, kelak menjadi keluarga yang panen senyuman.

Cukup aku saja yang tidak lulus SD, kata Ibuk. Tahun demi tahun berlalu, anak-anaknya yang telah menyaksikan hidup dari sisi yang dipenuhi perjuangan itu kini satu per satu menemukan jalan masing-masing.

Sekolah, SMA, kuliah, kerja dan sejahtera. Bayek kerja di New York. Anak lelaki satu-satunya itu menjadi poros kebahagiaan keluarga Ibuk. Anak kebanggaan bapak yang waktu kecil dulu sering dibawa keliling kota dengan angkot butut, kini telah mewujud lelaki tangguh dengan misi-misi kehidupan yang satu per satu mulai diselesaikan.

Perjalanan memenuhi janji. Menyelesaikan misi. Membahagiakan keluarga. Demi Ibuk dan Bapak.

Ulasan

 Dua hal yang paling disorot penulis untuk kita adalah makna keindahan keluarga dan kesederhanaan kampung halaman. Pembaca diajak mendefiniskan ulang seperti apa semestinya keluarga itu. Bagaimana seharusnya mata kita memandang Ibuk, menghormati bapak, dan mencintai kampung halaman.

Cerita yang terus mengalir, momen satu ke momen lainnya, kita diajarkan bahwa sesusah apa pun, serumit apa pun, bekal terbesar sebelum menghadapi itu semua adalah rasa ikhlas, sabar, pantang menyerah dengan disertai sebongkah penuh rasa cinta.

Di buku ini tidak ada pembagian bab, cerita terus berjalan ke depan dan sesekali menengok ke belakang untuk mengenang masa-masa anak Ibu saat masih kecil.

Ringan sekali, karena cerita dan topik-topik yang disuguhkan adalah fenomena-fenomena kampung halaman. Suatu hal yang sering dan lumrah, ditambah dengan harmoni budaya Jawa, membuat kita menemukan keindahan baru diantara keindahan-keindahan lama yang biasa kita temui.

Hampir tidak ditemui kesalah tik di dalam buku. Secara keseluruhan alur mudah dicerna dan tidak pernah membuat bosan. Meski pada  beberapa kesempatan kita akan mengulang sebuah kalimat satu atau dua kali supaya bisa memahami betul gagasan apa yang disampaikan.

Membaca buku ini tidak akan membuat jantung berdegup kencang akibat adegan-adegan tragis, karena memang tidak ada. Tidak pula membuat tangis mengharu-biru akibat peristiwa-peristiwa sarat penuh duka. Semua terbagi adil. Menurut saya, buku ini mengajarkan bahwa kekayaan sebenarnya tidak akan ditemukan dalam kemewahan, kekayaan itu bersemayam dalam kesederhanaan, pada rasa cukup, dan cinta. Hingga hanya mereka yang berhati jernihlah yang mampu menemukan kekayaan itu.

Buku yang sangat cocok untuk kita yang sedang rindu kehangatan keluarga, atau kita yang sedang lupa dengan kehangatan keluarga namun sulit hendak dari mana akan memulai kehangatan itu kembali. Cocok untuk kita yang kerap tidak bersyukur, berniat menata hati, butuh dorongan. Agar tidak memandang hidup dari sisi kelam, agar hidup penuh warna.

6 KOMENTAR