sumber: pixabay.com/composita

Hai goodwriters. Apa kabar? Lama tidak bersua.

Langsung saja, tulisan ini bermaksud untuk kuikutkan dalam challenge #marketerforwriter Penakata feat Bang Eno. Semoga masuk. Ya, meskipun nantinya tulisan ini terposting melebihi deadline, tapi tetap akan aku teruskan hingga selesai. Hehe.

Lama tidak menulis, tangan ini agaknya kaku-kaku kelu karena lama tidak mengepal. Mengepal bisa berarti apa saja, ya. Dan aku pun tak akan menyalahkan apa yang teman-teman pikirkan. Nggak jelas, ya?

Langsung, yuk!

Kolaborasi

Well. Kita semua pasti punya mimpi. Sesederhana atau setinggi apa pun itu. Mimpi ya tetap mimpi. Kita saja yang kadang meremehkan atau terlalu meninggikan mimpi yang sebenarnya menyulitkan diri.

Mimpi orang bermacam-macam, juga memiliki pola, tujuan, bahkan latar belakang yang juga heterogen. Ya enggak lucu juga sih kalau setiap orang di dunia ini memiliki mimpi yang sama. Mmm tapi, tolong konteks ini jangan dikaitkan ke agama atau spiritual terlebih dahulu. Aku sedang membicarakan soal mimpi kita di dunia.

Omong-omong soal dunia, tetiba aku teringat dengan kata “kerja”. Kerja menjadi alasan seseorang untuk mendapatkan uang demi bertahan hidup di dunia yang sungguh keras ini. Seperti di tulisan Kak Sundari Mueeza, kita ini mitra kerja, bukan pekerja.

Termasuk dalam memperjuangkan mimpi. Jika kita bermitra, mengapa harus berjalan sendiri-sendiri dan bersaing? Kalau bisa berkolaborasi, kenapa harus saingan?

Itulah salah satu jalan Penakata dalam meraih mimpi. Kolaborasi. Bukankah karya-karya hebat yang berbeda, akan membentuk suatu great masterpiece jika karya-karya tersebut dikolaborasikan dengan baik?

Tidak usah sok menutup diri dengan kolaborasi. Lha wong kita bisa makan sebutir nasi saja membutuhkan kolaborasi dari banyak orang. Urutkan sendiri deh siapa saja orang-orang tersebut.

Kalau mengutip lagu A Million Dreams OST The Greatest Showman, ayo berkolaborasi meraih mimpi. Tak peduli sebesar apa mimpi kita.

However big, however small
Let me be part of it all
Share your dreams with me
You may be right, you may be wrong
But say that you’ll bring me along
To the world you see

Materialistis Bukan Alasan

Mimpi, jangan serta merta selalu dikaitkan dengan kepentingan materialistis. Misalnya saja tempat kita saat ini. Penakata.

Ya, kita cuma user memang. Teman-teman pun juga, bukan? Intinya, kita adalah penghuni. Penghuni rumah kita sendiri. Lebih baik di sini. Tiba-tiba lagu “Rumah Kita” terngiang di kepala.

Lanjut. Aku yakin kita di rumah ini adalah orang-orang yang memiliki mimpi kurang lebih sama. Ya, kalau beda jauh, pasti teman-teman tidak akan bertahan.

Alih-alih membicarakan mimpi teman-teman, coba yuk mimpi bareng Penakata. Lagi-lagi meneruskan dari tulisan Kak Sundari Mueeza (namanya juga terinspirasi, terinspirasi is really different with plagiating, ok? hehe) Penakata tidak mencari keuntungan apapun dari para user.

Ya, jujur saja. Penakata masih bayi. Belum punya uang sendiri. Penakata hanya menawarkan mimpi-mimpi bersama untuk merangkul para user yang dengan ikhlas menulis di rumah ini. Bukan begitu, Penakata?

Ya, barangkali teman-teman penasaran, atau bahkan curiga. Aku hanya menjelaskan sedikit yang kuketahui. Terkadang mimpi itu lahir dari minat atau ketertarikan seseorang terhadap sesuatu. Sebut saja passion. Tapi ada yang lebih dalam lagi dari sekadar passion. Ikigai. (akan kujelaskan dalam postingan yang berbeda, hehe)

Setidaknya ikigai inilah alasan seseorang bertahan pada mimpi. Ya seperti inilah Penakata, yang bagaimanapun akan berjuang meraih mimpi. Bersama teman-teman semua.

KerasΒ Kepala

Bukankah keras kepala adalah hal yang kita butuhkan? Sebagaimana kolesterol. Jangan dibenci dulu, tubuh kita ini perlu sekali kolesterol. Hanya saja, jika terlalu banyak kolesterol buruk (kolesterol LDL) menumpuk, maka akan berdampak tidak baik. Karena Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu jika tidak ada gunanya.

Termasuk menciptakan kepala berisi otak dengan tengkorak pelindungnya yang sekuat baja ini. Supaya kita “keras kepala”.

Nah, keras kepala ini akan menjadi baik jika ditempatkan sebagaimana mestinya. Misalnya dalam meraih mimpi.

Mengapa harus keras kepala? Mimpi itu nggak asik kalau mudah dicapai, ya nggak? Mimpi pun rasanya belum greget kalau belum ditertawakan orang. Betul?

Itulah mengapa. Kepala kita harus keras. Tahan banting untuk berpikir, tahan banting untuk mengatur rangsangan berupa rintangan dan cemoohan dari luar. Jika tidak keras kepala, mimpi bukankah hanya sekadar angan-angan? Mimpi ya harus ditantang.

Masih mengutip lagu A Million Dreams,Β keras kepala saja meski orang-orang menganggap kita gila akan mimpi.

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say I’ve lost my mind
I don’t care, I don’t care, so call me crazy
We can live in a world that we design

Ayo mulai Kepalkan Tangan! Keras Kepalakan Diri untuk Menantang Impian.

Akhir kata, tulisan ini selesai sebelum deadline. Cukup sekian.

6 KOMENTAR

  1. Persaingan itu sebenarnya tidak negatif. Dengan persaingan seseorang akan terpacu unuk maraih mimpinya dan itu wajar karena selalu ada yang harus diprioritaskan. Sebab, setiap kepala punya mimpi yang berbeda.πŸ˜‰

    Menjadi tidak sehat bila dalam sebuah kolaborasi tidak dibarengi dengan ketulusan dan punya tujuan tertentu yang tidak sesuai dengan makna kolaborasi itu. Aku rasa ketika seseorang bergabung dalam suatu komunitas, ia sudah tahu tempat seperti apa yang ia masuki. Itu aku loh, yang lain bebas. πŸ˜‰πŸ˜‰

    ** Ah, mendadak ingin es kepal.πŸ˜‹πŸ˜‹

  2. Aku suka bersaing, dalam artian kalau mereka bisa kenapa aku enggak? Aku harus belajar, berusaha, latihan dan aku yakin bisa. Hehee

    Soal niat dan tujuan bergabung, cukup diri sendiri dulu yang tahu. Untuk sementara. Eh, ada juga seseorang yang tahu ding. Aku lupa udah pernah cerita wkwkwkwk 🀣

  3. Masih dengan topik keras kepala. Ambisius ingin mendapatkan sesuatu yang belum tercapai 😁. Sesuatu tidak melulu diukur dengan materi. Meskipun materi untuk kita bertahan hidup wkwkkk. Balance aja. Healthy inside fresh outside πŸ˜‚