Sharing is caring menjadi semangat penakata.com yang membuat saya tergugah untuk ikut berbagi. Tapi jangan dipikir saya akan bagi-bagi uang. Sebut saja mini writing tips, sebagai teknik dasar menulis cerpen dan novel. Baiklah, pada kesempatan ini saya mau membahas tentang,

Ragam kata yang termasuk dialog tag, sebenarnya ada banyak. Namun, seringkali penulis hanya menggunakan kata itu-itu saja. Kurang bervariasi. Lebih mudahnya, bisa dibedakan menjadi dua jenis, dialog tag ‘datar’ dan dialog tag yang menunjukkan ‘emosi’. Saya beri contoh:

~Ragam dialog tag datar:ย ucap, tutur, imbuh, timpal, celetuk, anjur, balas, batin, bisik, cakap, canda, sanjung, sapa.

~Beberapa dialog tag yang menunjukkan emosi:ย bentak, cerca, caci, keluh, gertak, hardik, geram, gerutu, teriak, sentak, sindir, tuduh, cela, raung, protes, sorak.

~Dialog tag selalu diikuti nama subyek atau kata ganti subyek. Contoh subyek dan kata ganti selain nama orang; -mu, -nya, dia, ia.

~Kalimat dialog yang diikuti dialog tag tidak boleh diakhiri dengan tanda titik di akhir kalimat. Contohnya begini:

“Dia sudah pergi,” kata Lisa.
“Kapan kamu pulang?” tanyaku.
“Sini cepat!” panggil Tian.
Kesimpulan dari contoh di atas, boleh menggunakan tanda apa saja sebelum tanda petik penutup, kecuali tanda titik. Lalu diikuti dialog tag.

~Tanda titik hanya digunakan jika setelah dialog langsung adalah kalimat baru.ย 

Contoh:
“Kamu nggak perlu ke sini.” Dia berlalu pergi.

‘Dia berlalu pergi’ adalah kalimat baru. Bukan dialog tag. Bisa dipisahkan dengan dialog langsung. Jadi menggunakan tanda titik di akhir dialog, “Kamu nggak perlu datang ke sini.”

Teknik mendasar ini perlu dipelajari dengan baik, bagi siapa saja yang ingin belajar menulis. Karya tulis apapun itu.

Penggunaan dialog tag, sebenarnya juga dipengaruhi oleh pengambilan sudut pandang atau yang biasa disebut Person of View/PoV.

~Untuk cerita yang menggunakan POV satu, kata yang bisa digunakan memang terbatas. Karena, tokoh yang berperan sebagai ‘aku’ tidak bisa membaca pikiran orang lain. Misalnya begini, kata ‘dalih’ tidak tepat digunakan, kalau si tokoh tidak punya bukti konkret sebelum dialog itu diucapkan. Contoh; “Semalam, aku pergi. Tapi tidak untuk bertemu dengannya,” dalih laki-laki yang kini berstatus sebagai pacarku.
Contoh di atas sudah pasti salah menggunakan dialog tag.

Si ‘aku’ tidak bisa ditulis mengetahui pacarnya berdalih, kalau pertanyaan atau pernyataan yang dia lontarkan sebelumnya, hanyalah praduga tanpa bukti. Beda lagi kalau si ‘aku’ memang sudah tahu ke mana si pacar pergi. Boleh dan sah kata ‘dalih’ digunakan sebagai dialog tag.

~Keterbatasan penggunaan dialog tag juga berlaku untuk sudut pandang orang kedua. Karena narator hanya berperan sebagai pengamat.

~Untuk cerita yang menggunakan sudut pandang orang ketiga alias POV tiga. Penulis bebas menggunakan dialog tag apa saja karena narator serba tahu.

Narator tahu apa isi pikiran setiap tokoh, bagaimana perasaan setiap tokoh. Juga latar belakang yang semuanya diketahui oleh narator. Sudut pandang ini lebih sering digunakan dalam menulis cerita. Lebih luwes dan lebih mudah digunakan. Apalagi untuk yang baru belajar menulis cerpen atau novel.

Sampai di sini, sudah terlalu panjang juga uraian saya. Semoga bermanfaat dan mari kita sama-sama belajar. Untuk meramaikan Dunia Literasi.

Blora
20 Januari 2019

–Yuke–

6 KOMENTAR