Dari awal keluar info Challenge Time, aku bingung mau pilih tema yang mana, antara The Experiment atau Horrorscope. Namun dalam renungan yang panjang, terpilihlah tema Horrorscope. Di situ, aku masih saja terhenti, apa yang harus aku tulis dengan tema tersebut. Puisi, Essay, Cerpen atau Novel, semuanya sungguh membuatku pusing.

Hingga akhirnya aku membaca unggahan Rin Muna yang menuliskan tentang POV. Dari situ semacam ada dorongan untuk menuliskan sebuah cerita dengan menggunakan POV2. Di mana sudah dijelaskan, penulis berperan sebagai narasumber yang tak pernah terjun langsung di dalam cerita tersebut.

Dengan cerita yang aku tulis di bawah ini, adalah upaya aku belajar dan mencoba memahami bagaimana POV2. So, kalau salah mohon maaf.

 

Pukul delapan pagi, kamu bangun dari tidurmu dengan rasa gelisah. Bukan karena mimpi, tapi seharusnya kamu bangun pukul tujuh untuk sebuah janji dengan klien. Kamu pun bergegas mandi, tanpa prosesi seperti biasanya untuk menyingkat waktu.

Kamu pacu sepeda motor bututmu agar cepat sampai di tempat tujuan, sesuai perjanjian tadi malam. Tepat di Traffic Light yang sedang menyala merah, tanpa sengaja kamu melihat mantan yang sedang asyik bercengkerama dengan seorang lelaki di dalam mobil Jazz. Panas mentari yang mulai meninggi kini kalah panasnya dengan pemandangan yang baru kamu lihat. Rasa panas itu membakar hingga ke hatimu.

Traffic Light menyala hijau, dengan sekuat tenaga, kamu putar gas berharap bisa segera pergi dari pemandangan tersebut.

Meski terlambat dari perjanjian, akhirnya kamu sampai di Warung Pohon. Rasa bersalah yang tadi singgah di hatimu kini sirna ketika kamu tak melihat klien berada di sana. “Kupikir aku yang telat, ternyata dia lebih telat,” ucapmu lega sambil memesan segelas minuman.

Setengah jam berlalu, klien tak juga datang. Dengan rasa penasaran, kamu mencoba kroscek pesan WA tadi malam. Alangkah terkejutnya kamu mendapati nama tempat yang tertera di pesan WA itu. Kedai Pohon, bukan Warung Pohon. Segera kamu habiskan minuman yang baru saja datang lalu pergi membayar. Alangkah sialnya, kamu tak menemukan dompet di saku celana. Jelas kamu melupakan dompet di kamarmu. Dengan gelisah kamu berusaha mencari uang di dalam tasmu.

“Kenapa? Lupa bawa uang, ya?”

Suara itu mampu membuatmu berhenti merogoh tas dan mampu membuat jantungmu berdetak kencang. Sebab kamu begitu hafal dengan suara yang sudah kamu dengar selama tiga tahun.

“Sudah biar aku saja yang bayarin,” ucap wanita itu.

Dalam laju detak jantungmu, dalam kobar api di hatimu, dalam nanar tatapanmu, kamu justru teringat sebuah ramalan bintang yang kamu baca tiga hari lalu. Sebuah ramalan bintang yang tertulis,

 

TAURUS
Umum : Sebuah masalah yang lama akan terus mengejarmu.
Asmara : Mantan itu akan hadir di saat yang tak tepat.
Bisnis : Kacau
Keuangan : Hati-hati akan ada hal yang memalukan
Hari keberuntungan : Tidak ada

 

Di rumah lantas kamu membakar majalah yang di dalamnya terdapat ramalan bintang tersebut.

“Bangsat! Ini namanya hororskop!” umpatmu kesal.

14 KOMENTAR