sumber: pixabay.com/congerdesign

Wisuda memang menjadi momentum yang membahagiakan. Euforia sejenak karena beban tugas kuliah selesai. Satu tahap perjuangan telah selesai. Meski aku tahu bahwa selanjutnya adalah fase yang lebih menyulitkan, fase menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

Namun, meninggalkan satu anak tangga untuk melangkah ke anak tangga berikutnya membuat hati lebih tertantang. Seolah ingin berkata, “selamat tinggal anak tangga sebelumnya.”

Euforia tak hanya dirasakan oleh kita-kita yang melaksanakan wisuda. Ada orang tua yang tersenyum bangga, teman yang turut bahagia membawakan banyak hadiah, dan dosen yang turut lega melepas satu anak bimbing, meskipun ia tahu akan ada anak bimbing berikutnya.

Ya, euforia. Bagi mereka yang merasakan.

Kecuali aku. Yang tergugu sendu di pojok kamar kos-kosan. Menyendiri. Biarlah teman-teman menganggapku antisosial. Biar saja mereka tak melihat kedatanganku di upacara wisuda mereka. Tak akan ada yang menyadari, bahwa aku di sini, ingin menangis sekencang-kencangnya.

Drrrt drrrttt

Aku menyadari bahwa ponselku dari tadi sudah berdering berkali-kali. Nina, sahabatku rupanya mencariku. Aku memandangi rangkaian bunga dari kain perca yang tergeletak melas di lantai kamar persis di hadapanku duduk meringkuk. Bunga yang kurangkai sendiri selama dua hari dua malam. Untuk Nina, sahabatku yang bagaimanapun lebih hebat dariku.

Nina yang pandai dan rajin, tak sepertiku. Nina yang baik hati dan selalu membantuku menyelesaikan tugas akhir, tak sepertiku yang egois. Nina yang banyak prestasi, tak sepertiku yang hanya figurannya. Tak terlihat, apalagi menonjol. Pergi saja, Nin. Aku mana pantas jadi sahabatmu?

Lagi-lagi ponselku terus berdering dan kuabaikan. Membuat rangkaian bunga indah berwarna pastel itu tampak menyedihkan.

Hai bunga … Mengapa aku tak bisa seperti Nina? Mengapa aku tak bisa semembanggakan Nina?

Aku bisa merangkaimu dengan indah, tapi mengapa merangkai diriku sendiri, aku tak bisa?

Aku … benar-benar jauh tertinggal. Sendiri dan tak berguna.

Benar kata mereka di luar sana. Aku adalah pemalas, meski pada kenyataannya aku berjuang mati-matian. Mereka pikir aku hanya tidur dan leha-leha di kamar, tanpa tahu, aku sibuk berperang dengan diri sendiri. Tanpa tahu, aku terus terjaga setiap hari.

Mereka pun benar, bahwa aku bodoh. Meskipun aku mati-matian belajar, membaca buku dan referensi hingga muak. Nyatanya aku tetap bodoh.

Dan lagi-lagi mereka benar, bahwa aku tak pernah berdoa. Meski di kesendirian, aku sibuk mengeluh pada Penciptaku. Hancur, hingga air mata membasahi sajadah ketika mereka tertidur. Tetap saja, bagi mereka aku adalah hamba yang lupa pada Tuhan.

Tok tok tok …

Kudengar suara pintu kamar diketuk oleh seseorang. Aku tetap terdiam. Semakin menyembunyikan wajah pada kedua lututku. Siapapun, tolong jangan ganggu aku!

Ketukan itu makin keras. “Bunga … buka dong!” Kali ini disertai suara yang amat kukenal.

Nina. Mengapa dia di sini?

“Bung … kamu nggak apa-apa, ‘kan?”

Pergilah, Nin! Aku sedang tak ingin bertemu denganmu.

Pintu terbuka. Aku baru ingat sedari tadi pintu kamar tak kukunci. Kudengar derap langkah kaki semakin mendekat. Sosok itu membungkuk, lantas membelai rambutku.

“Bunga … kamu nggak pa-pa?” tanyanya lembut.

Mau tak mau, aku menengadahkan kepala. Benar Nina. Ia tampak anggun sekali memakai toga dan kebaya abu-abu. Tetap manis meski make-up nya sedikit luntur oleh air mata.

Air mataku lalu tumpah di pelukannya.

“Aku sedih kamu nggak dateng,” katanya kemudian.

“Udah kuduga, kamu pasti juga sedang sedih,” lanjutnya.

“Kamu harus semangat. Bagaimana pun, kamu sahabatku paling hebat.”

Aku hanya menangis membiarkan Nina yang bergumam dengan kata-katanya.

“Yang hebat, bukanlah yang cepat sampai garis finish. Kita bukan lomba lari, Bunga. Yang hebat adalah ia yang pandai bangkit lagi kalau jatuh. Ia yang tetap berusaha yang terbaik meski orang lain tak menganggapnya hebat. Dan juga, ia yang selalu pandai menolong orang lain. Dan itu … kamu.”

Aku melepas pelukan Nina. Menghadapnya yang terus berusaha menenangkanku.

“Jelek ah, kalau nangis terus. Yuk, kita belum foto.”

Aku menggeleng kuat-kuat ketika Nina mengangkat ponsel dan bersiap selfie denganku.

“Jangan, aku jelek, Nin!” Aku lalu menutup wajahku.

“Nggak pa-pa, nggak aku upload kok. Kenang-kenangan, hehehe.”

Aku mejewer telinganya dengan sebal.

“Oh ya, makasih ya, bunganya,” katanya kemudian.

***

Cerpen ini spesial kutujukan untuk sahabat-sahabatku yang sedang berjuang dan merasa insecure dengan dirinya sendiri. Meski kalian tak membaca ceritaku, tetap semangat. Doaku selalu untuk kalian …

13 KOMENTAR