Pixabay/StockSnap

Sejak awal memang salah. Seharusnya tidak kubiarkan hatiku bermain-main di hatinya.

Akhirnya, hari yang kami nantikan tiba juga. Aku melihat pijar hidup di mata Genta yang sangat kukagumi sekaligus kubenci karena melihatnya selalu membuat dadaku sesak.

“Leah sudah ngabarin kamu, ‘kan? Minggu depan dia balik,” ujar Genta dengan senyum kecil terlukis di bibir dan matanya.

“Ya,” aku menggangguk kecil. Meski kaku, aku berusaha menarik sudut bibirku. Genta tidak boleh tahu, seberapa besar bongkahan cemburu yang bersarang di hatiku.

Aku tidak tahu pasti, kapan perasaan asing ini mulai hadir. Setiap kali kucoba meneliti hatiku, aku mendapati hatiku telah jatuh cinta padanya. Mungkin karena situasi yang membuat kami sering bertemu dan bersama. Mungkin sejak kami saling mengisi dan berbagi banyak hal. Mungkin karena sikap Genta yang perhatian dan selalu terbuka. Mungkin sejak aku masuk dalam siklus kehidupannya.

Ya, mungkin karena semua itu yang membuat aku jadi tergantung padanya. Membuat perasaanku berbunga-bunga karena menjadi bagian dari hidupnya. Seiring dengan perasaan telah mengenal Genta lebih dari siapa pun yang membungkus hangat hatiku.

“Aku titip Genta. Cuma kamu yang kupercaya,” bisik Leah saat aku mengantar kepergiannya.

“Percayakan saja padaku. Aku akan melakukannya untukmu, Leah. Pesanku, jangan sampai kecantol bule,” aku masih sempat berseloroh. Malu juga kalau ketahuan mewek di depan keluarganya walau sebenarnya dadaku sesak harus melepasnya pergi. Untukku, Leah sudah seperti saudara dekat.

“Jaga dia baik-baik untukku.”

Aku menjawab dengan anggukan mantap.

Itu setahun lalu, saat Leah, sahabatku sejak SMP melanjutkan kuliahnya ke London. Saat itu, aku menyanggupinya dengan ringan hati. Saat itu, aku menganggap semuanya akan baik-baik saja. Saat itu, ikatan di antara kami seperti saat itu. Sejak SMA kami bertiga telah menjalin pertemanan. Tepatnya, aku yang sahabat Leah dengan mudah masuk ke dalam hubungan cinta mereka.

Mungkin, aku salah menempatkan diriku dalam hidup Genta. Mungkin, aku salah selalu menyediakan waktuku untuk berbagi cerita dan keluh kesah. Menemaninya melewati saat-saat terburuknya. Kesendirian dan kerinduannya. Mungkin, aku salah terlalu jauh mencampuri kehidupan cintanya (padahal aku selalu tersiksa setiap kali mendengar cerita cintanya).

Celakanya, aku sendiri tidak bisa menjaga hatiku. Mengatur perasaanku. Mengendalikan sel-sel di hatiku yang selalu kocar-kacir saat bersamanya. Seiring dengan keinginan untuk selalu berada di dekatnya, menjaga dan membuatnya selalu merasa nyaman, semakin tumbuh dan berakar kuat di hatiku. Tanpa kusadari, aku telah menabung asa padanya.

“Aku sering iri, beruntungnya Leah punya kamu, Ben.”

“Kamu kira aku juga enggak iri melihat ikatan di antara kalian yang terjalin kuat dan manis,” tukasku. Sekuat daya kusembunyikan getar halus pada suaraku.

Genta tertawa tanpa suara. Menatapku hangat. Sejujurnya, aku menyukai tatapannya. Tulus; melumpuhkan hati.

“Terima kasih karena selalu ada untuk aku dan Leah serta tidak pernah lelah menjadi sahabat kami.”

Dadaku berdesir halus. Dalam hati, aku berharap waktu bermurah hati berhenti berputar. Genta tidak pernah tahu, terlalu sering kalimat pengandaian menyerbu kepalaku. Ya, andai saja aku mampu memalingkan hati dan perasaannya dari Leah. Keinginan liar yang seharusnya tidak kubiarkan tumbuh dan berakar kuat di hatiku dan memenuhi kepalaku.

Andai saja waktu bisa aku putar kembali dan hidup punya cetakan kedua, aku tidak akan merelakan Genta untuk Leah. Andai saja aku punya keberanian untuk merebutnya dari Leah. Andai … ah, apa aku berani dan tega melakukan? Ini tentang hati. Perasaan. Lalu, bagaimana perasaan Genta padaku? Bagaimana dia memandang aku selama ini? Yakin, bahwa Genta pun memiliki perasaan yang sama? Yakin, aku bisa membuat Genta bahagia? Selalu, hanya desahan berat dan putus asa jawabannya.

“Halooo … Benaya! Kamu kok nggak senang Leah pulangg sih?” suara Genta mengembalikan aku pada realita.

“Siapa bilang? Perlu, ya teriak-teriak ke semua orang kalau sobat terbaikku akan pulang? Bisa-bisa aku dikira gila. Pantasnya juga kamu yang begitu,” aku mencibir.

“Nah, gitu dong! Ini baru Benaya yang kukenal. Penuh semangat dan teman yang menyenangkan,” seloroh Genta seraya menepuk halus bahuku. Sehalus perasaan yang berdesir di hatiku.

“Kamu pasti bahagia,” ujarku sesaat kemudian. Dalam waktu yang bersamaan pula dadaku menyesak seketika.

“Tentu saja. Bukankah cinta itu alasan banyak orang untuk bertahan hidup? Karena itu, kamu harus punya seseorang, Ben. Kamu sih, selaluuu … saja menolak setiap cowok yang mendekatimu.”

Alih-alih menjawab, kepalaku malah tertunduk. Aku sudah punya seseorang, Genta, tapi kalimat itu hanya sampai tenggorokanku saja. Bibirku terkatup rapat, meski batinku berteriak.

“Kalau aku punya seseorang, siapa yang akan menjaga dan menemani kamu kalau Leah balik lagi?” kilahku.

“Alasan. Tentu saja Leah akan selalu ada untukku. Di sini, di hatiku,” Genta menempelkan telunjuknya di dada.

Kembali, aku kehilangan kata-kata. Ah, mungkin bagi Genta aku adalah sosok tersembunyi di tempat gelap. Sementara ruang kosong di hatiku sudah dipenuhi oleh dirinya dan perasaan cintaku. Kembali aku mendesah. Nelangsa dan terluka.

Aku tidak bisa melepas mataku dari Leah. Selama tujuh tahun pertemanan kami, baru sekarang aku tersiksa oleh perasaan iri dan amarah dengan semua yang dia miliki. Tidak bisa dipungkiri, Leah memang menarik, memiliki wajah yang nyaris sempurna serta alis dan bibir yang menawan. Pembawaannya pun tenang. Aku yakin, sikap terakhirnya itu yang membuat cowok-cowok menyukainya. Tidak terkecuali Genta.

Sikap tenangnya itu seperti dalamnya laut yang tidak bisa diselami hingga membuat siapa pun ingin menyelam sampai ke dasarnya. Plusnya lagi, Leah bukan tipe cewek pemberi harapan palsu dan janji. Pokoknya, Leah tidak suka main hati. Cowok mana yang tidak akan tergila-gila padanya? Apalagi dia tajir. Ralat, orang tuanya seorang pengusaha tekstil dan garmen sukses. Cowok mana pun pasti histeris ketiban cintanya. Klepekklepek mendapat perhatian darinya.

Sedangkan aku?! Ah, sampai saat ini aku masih belum percaya menjadi bagian dari hari-harinya. Teman terkaribnya. Masuk dalam kehidupan cintanya. Sesuatu yang–mungkin–kini agak kusesali.

“Hai, Ben, kamu banyak berubah. Kamu lebih pendiam.”

Aku tersentak lalu meringis. Tepukan tangan Leah mendarat pelan di bahuku, membawaku kembali pada realita.

“Gimana kabar London? Kamu sudah nengok cucu Pangeran Charles?”

“Sulit, Ben. Yang ngantri bejibun,” Leah membalas selorohku, membuat kami tertawa. Seperti kembali ke masa lalu. Saat belum ada ganjalan di hatiku. Saat pertemanan terjalin tulus, dariku. Saat belum ada orang ketiga di hatiku. Desahan berat terlepas dari mulutku.

“Terima kasih, Ben. Kamu sudah menjaga Genta buatku.”

Aku hanya mampu mengangguk, kelu. Batinku berkecamuk seiring perasaan tak nyaman yang menyerbu tiba-tiba.

“Bagaimana denganmu? Genta bilang kamu selalu menolak cowok yang mendekatimu, Ben.”

Tubuhku seperti membatu. Kubuang tatap ke kejauhan. Tak akan kuizinkan Leah membaca mataku; mengetahui hati dan isi kepalaku.

“Ada seseorang? Apa … jangan bilang kamu jatuh cinta dengan Genta, Ben,” Leah terkekeh.

Jantungku serasa meloncat ke luar. Aku tahu dia bercanda. Namun, ada rasa was-was bahwa Leah tahu perasaanku, curiga dengan sikapku. Aku mendadak gelisah.

“Ben ….”

“Ada, deh. Rahasia,” sahutku, merasa tersudut.

“Lain kali, kita bisa double date, dong?”

Jawabanku hanya senyum getir. Tidak lepas dan penuh sandiwara. Sekarang, aku memang pandai berakting. Sesungguhnya, aku merasa seperti benalu. Sejak Genta kubiarkan masuk dalam kehidupanku, aku telah menumpang bahagia di dalam kebahagiaan mereka. Selama itu pun cintaku tumbuh diam-diam di dalam taman cinta mereka.

Bukannya aku tidak berusaha membunuh perasaan ini. Namun, sekuat apa pun aku berusaha, sekuat itu pula keinginanku untuk memilikinya. Walaupun hanya dalam hati dan anganku saja. Bagiku, Genta seperti api yang menyala. Membakar, namun tak menghanguskan. Begitu dekat, namun tak terjangkau. Yang lebih menyakitkan, kenyataan bahwa kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Rasanya, ….

“Apakah aku mengenalnya?” Leah menatapku cukup lama.

Kepalaku menggeleng. Sekarang, aku juga suka berbohong di depannya.

“Dia enggak tahu perasaanku,” aku berujar lirih.

Sekilas, kulihat pijar simpati di matanya. Tulus. Andai dia tahu, masih maukah dia berteman denganku? Masih maukah memercayakan cowoknya padaku? Membayangkan dia membenciku pun aku tak sanggup. Apalagi harus menjauh dari Genta. Aku merasa tak berdaya karena cinta yang kumiliki dan tumbuh seiring waktu hanyalah milikku sendiri.

“Kamu harus berani mengungkapkannya, Ben. Bukan zamannya harus cowok duluan yang memulai. Kalau dia memang layak untuk kamu perjuangkan, jangan menyerah,” Leah menepuk halus bahuku.

Rahangku mendadak kaku. Menelan ludah pun rasanya sulit.

“O ya, nanti malam kita jalan seperti dulu lagi, ya? Kita bertiga.”

Seketika, oksigen di sekitarku entah menguap ke mana. Sanggupkah aku melihat kemesraan mereka? Bahasa tubuh mereka yang membuatku sulit bernapas? Perasaanku sekarang tidak sama lagi. Hatiku pun sudah berubah. Masih bisakah aku tersenyum tulus di hadapan mereka? Terutama di depan Leah? Terlalu menyedihkan bila harus menyaksikan seseorang yang aku harapkan menjadi kebahagiaanku berbahagia dengan orang lain. Sahabatku sendiri. Aku yakin, hatiku tidak setegar batu karang atau sekuat baja.

Mengapa sesulit ini menjaga dan menata hati? Betapa menyiksanya mencintai seseorang yang telah memilih di mana hatinya berlabuh. Inilah sakit pertama yang aku rasakan karena menyukai seseorang.

“Nanti kami jemput, Ben. O ya, soal cinta terpendammu itu, jangan menyerah. Apalah arti mencintai tanpa memiliki,” Leah mengedipkan matanya sebelum berlalu.

Mulutku terkunci. Ada pisau yang menggores hatiku. Perihnya tak tertahankan. Belum pernah aku terluka sedalam dan sesakit ini.**

15 KOMENTAR