Sumber gambar dok. pribadi

Hai! Dinda yang ada di belahan bumi sana. EntahΒ  alasan apa? Menjadikan aku teringat dengan semua itu. Ada beberapa hal yang luput aku sampaikan padamu. Terlebih angin sudah dulu membawanya pergi. Mengarak dan menguap begitu saja. Karena alasan gerogi dan lupa tidak membuatku keren di depanmu. Lebih baik ku salahkan matahari yang membuatku silau.

Begitu sendiri rasanya meski kopi setia menemani. Iya kisah antara kita selalu ada secangkir kopi. Saat ini dia tertawa melihatku terpaku dan termenung seorang diri. Tertawanya keras dan menendang gendang telingaku. “cie yang lagi rindu,” katanya sambil memasamkan diri. Benar sekali. Kopi itu mendadak masam dan pahit. Untuk apa juga kuladeni. Biarlah dia merayakan kebahagiaan di atas kemuramanku.

Aku melamun di balik pangkuan kursi yang sudah mulai bosan. Tempat duduk ini adalah kisah kata yang terbungkam. Perasaan yang tidak mampu kuutarakan. Walaupun diam-diam ada tanya yang belum terjawab. Mungkin saat inilah waktu yang tepat, lebih benarnya siap. Meski sebelumnya ada kesempatan. Bagiku yang masih ragu itu bukanlah peluang. Ya, ku biarkan lewat begitu saja dengan rasa penyesalan.

Kliri Caffe Semarang
Sumber ganbar @kliri.coffee

Entah berapa lama kita berdiam. Setelah pesan dari bawah lalu naik ke atas rooftop. Niatnya sih mau pamer pemandangan malam hari kota Semarang. Tapi sepertinya keadaan lagi tidak mendukung. Kita malah sibuk mainan Hp dan membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Kamu juga membisu dan malu-malu mau.

Berbeda sekali saat kita menikmati kopi sore hari. Di sebuah kafe yang sekarang buka sampai 24 jam.

Caffeine Semarang
Sumber gambar @caffeine_coffeeshop

Sambil menunggu malam hilang dari lalu-lalang. Membahas apa saja yang tidak penting. Tapi itulah keterbukaan dan kepercayaan. Tidak mudah mendapatkan manusia sekeren kamu. Apalagi di zaman orang-orang yang sudah mulai apatis. Mau kalau memang menguntungkan (enggak salah sih). Mau kalau memang menurutnya bisa menghasilkan (enggak apa-apa juga). Tapi denganmu semua itu musnah. Kamu berbeda dan sangat istimewa.

Pernah kamu tanyakan tentang masa depan. Pertanyaan yang membuatku sedikit canggung dan kaget. Meski aku juga tidak bisa menjawab secara gamblang. Hanya sedikit diam dan berusaha mengalihkan dengan yang lain. Tapi semua itu gagal saat kau ucapkan “masa depan adalah apa yang ada di depanku saat ini.”

Wow! Aku tambah binggung harus menjawab apa. Takutnya itu hanya receh dan membuatku GR. Hemm, sayangnya semua itu kubiarkan menguap. Maafkan aku yang pengecut.

Jika saja saat ini kamu ada di depanku. Tentu akan kuutarakan semuanya. Akan kuminta kamu duduk dan aku yang pesan menu untukmu. Tetap red velvet dan aku tetap kopi hitam tubruk. Lalu aku akan membuat sebuah ungkapan tentang selama ini. Perasaan yang masih aku simpan.

Red velvet pun datang dengan tertutup. Ya memang sengaja aku tutup agar kamu tidak melihat gambar I ❣️ U di dalamnya. Berlahan aku cerita bahwa kita saling dekat dan percaya. Aku yakin kamu merasakan hal yang sama. Lalu kuberikan pilihan padamu. Kalau mau tahu alasanku, cobalah buka penutup red velvet. Kalau tidak mau tahu, silahkan biarkan saja dan pesan yang lain.

5 KOMENTAR

    • Sudah ganti jadi Babang dan Yayang, Bon. Wkwkwk. Dasamuka panggil Dinda karena nama mantan, eh ceweknya Dinda kok, Bon. Pasangannya Dinda kan Kanda. Jadinya biar mesra mereka saling memanggil gitu. Sungguh, aku enggak bohong. πŸ‘»βœŒWkwkwk. πŸ˜‚πŸ˜‚

      Ah, Ibbon kok enggak tahu. Kenapa aku tahu, ya? Nanti aku semedi dulu. Hahahaha. Duh, sakit nih perut gara-gara makan dua mangkuk bakso berikut mangkuknya.πŸ˜…πŸ˜‰