Sumber gambar: boys life fiction

Selamat malam, Goodwriters Penakata. Sebelumnya daku minta maaf karena mengikuti challenge ini bukan challenge #marketerforwriter hihii. Honestly, I have no idea untuk challenge-nya Penakata feat Bang Eno. Semoga Goodwriters yang lain tetap semangka eh semangat untuk mengikuti kedua challenge yang kece pisan. Aura kece nya bahkan bisa mengalahkan owner-nya Penakata. Padahal gue enggak tahu siapa owner-nya, tapi kenalan boleh kali ya!

Ketimbang makin ngelantur, langsung saja saya akan membahas sebuah novel yang notabene aku belom pernah baca semuanya dan waktu itu aku pun meminjam dari teman.Β But, jangan salah kalau sekuel filmnya sudah aku tonton berulang-ulang dan bagiku film ini sangat luar biasa. Apakah Goodwriters berani menonton film ini bersamaku? Yuk, ah kapan-kapan nonton bareng. Novel yang aku baca adalah The Lord of the Rings yakni sebuah novel kisah fantasi epik oleh J.R.R Tolkien.

Sebetulnya novel ini diterbitkan dalam 3 jilid atau trilogi pada kurun waktu tahun 1954 dan 1955. Novel jilid pertamanya diberi judul The Fellowship of the Ring, yang kedua The Two Towers dan jilid ketiga adalah The Return of the King. Menurut sumber wikipedia kisah yang ditulis oleh si penulis dari tahun 1937 hingga 1949 menjadi salah satu karya sastra di abad ke-20 an yang sangat populer dan berhasil diterjemahkan ke dalam 38 bahasa.
Berhubung yang aku baca Β jilid 1 dan itu pun minjem, aku tetap antusias untuk mengulasnya buat kalian.

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings

Di buku jilid 1 ini bercerita tentang makhluk yang jadi inti cerita yaitu Hobbit. Menurut wikipedia Hobbit dikenal juga dengan nama “Halfling” dan nama elvish nya adalah Perianath. Hobbit adalah orang-orang yang berukuran kecil, memiliki kaki yang tebal dan keras serta berbulu. Hobbit dalam cerita ini bernama Frodo, Bilbo, Pippin dan Merry yang berasal dari Shire. Wah, jangan salfok dengan nama Merry ya! Iam not hobbit, Iam totally human.

Nah, suatu hari Bilbo Baggins ini berulang tahun dan dia kedatangan sahabat lamanya seorang penyihir yaitu Gandalf the Grey. Gandalf curiga cincin yang dipakai oleh Bilbo Hobbit ini adalah cincin jahat milik penguasa kegelapan (Sauron). Yang memaksa Bilbo untuk mewariskan cincin itu untuk dimiliki Frodo Baggins, keponakannya. Gandalf dari kaum penyihir menyuruh Frodo untuk membawa cincin itu ke tempat yang aman di Rivendell, sebuah tempat kediaman kaum peri yang dipimpin Elrond yaitu pemimpin peri yang bijaksana.

Dari sinilah petualangan Frodo dimulai. Ia bersama temannya Samwise Gamgee atau Sam, Meriadoc Brandybuck atau dipanggil Merry, dan Peregrin Took atau Pippin yang konyol, mereka menempuh perjalanan berbahaya menuju Rivendell.
Kedatangan mereka di Rivendell justru menimbulkan perselisihan di komite antar-ras mengenai apa yang harus dilakukan terhadap cincin tersebut. Frodo yang melihat akan ada benih perpecahan, akhirnya berkeinginan untuk membasa cincin tersebut untuk dihancurkan di Mount Doom di Mordor.

Elrond merasa khawatir kepada Frodo sehingga menugaskan 8 orang yaitu Gandalf, Sam, Pippin, Merry, Aragorn dan Borromir dari ras manusia, Legolas dari kaum peri serta Gimli dari bangsa kurcaci. Orang-orang ini dinamakan persaudaraan pembawa cincin. Perjalanan pun dimulai, hingga buku jilid 1 selesai dengan perpecahan persaudaraan akibat kematian Borromir dan hilangnya Gandalf si penyihir.

 

12 KOMENTAR

  1. Aku belum baca bukunya. Aku lebih suka nonton filmnya. Lagi pula, harganya lumayan juga tuh. Wkwkwk.πŸ‘»πŸ‘»

    Ibbon, foto hamster kamu lucu-lucu. Ish, pengen banget meluk dia. Hahahaha. 😍😍😍

    Pagi, Ibbon. Di kotaku cerah, perasaanku juga … ah kurasa biasa saja. Enggak ada yang istimewa. Rasanya menjemukan dan membosankan sekali hidup ini. Hhheeeeeehhhh. Mendadak pengen sesuatu yang tidak aku tahu. Hahahaha. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

  2. Keren Bon. Tapi alangkah lebih bagus tambahi kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut, Mbon.

    Misal dari sisi kepenulisan atau mungkin alur yang gimana gitu. Atau menurutmu bagusan versi novelnya atau filmnya. Wahaha. Kadang kan gitu film yang diadaptasi dari novel jarang feelnya sesuai dengan bukunya.

    Tapi yowes. Lain kali yo. Wihihi.. πŸ˜„Syemangat.