Judul : Mengukir Peradaban
Penulis : Khoirul Fahmi & Zahratul Iftikar Jadna Masyida
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : xl 204 halaman ; 19 cm
Reviewer : Putri Hayani Devayanta

Written by Putri Hayani Devayanta

Baiklah cikal bakal kenapa saya me-review buku “Mengukir Peradaban” karya pasutri muda yang sama-sama berprofesi sebagai dokter, adalah dari judulnya yang cukup menarik.

Hal yang pertama sekali saya bayangkan ketika mendapat amanah untuk menuntaskan membaca buku ini dalam kurun waktu sepekan seharusnya sudah selesai karena bahasanya yang ringan dan mudah dicerna bagi readers. Tapi harus molor hampir 3 pekan berhubung karena urusan pekerjaan di luar.

Nah, yang membuat saya lebih penasaran lagi adalah buku ini dikemas berdasarkan proses kedua pasutri mas Fahmi dan mbak Zahra. Berawal dari postingan seorang teman yang meminjamkan buku ini kepada saya siapa sosok mas Fahmi dan mbak Zahra sebenarnya, awalnya saya cuma mem-follow saja akun Instagramnya yaitu khoir.al.fahmi.

Seiringnya waktu, lalu membaca isi blogger milik pasutri muda ini yaitu fahmizahranotes.com. Belum selesai semua tapi dari banyaknya isi coretan blog mereka yang paling membuat saya terbesit adalah ”Menjadi Ahli Shalat”.

Di sini mas Fahmi mencoba menggambarkan sosok ayah beliau yang amat tegas dalam hal shalat bahkan shalat sunnah sekalipun. Berhubung yang akan kita review isi buku milik keduanya, jadi saya hanya memberikan gambaran sedikit tentang blog mereka sebagai tambahan bahan bacaan anda.

Di awal sebelum masuk ke tahap isi yang sebenarnya sudah pasti yang disuguhkan adalah kata pengantar atau ucapan salam dari penulis sebagai pembuka. Dalam hal ini, keduanya mencoba menjelaskan bahwa tujuan ditulisnya buku ini sebagai salah satu catatan kecil dari deretan panjang perjalanan hidup mereka sebagaimana keduanya mencoba menjadikan karya ini sebagai pengingat dan harapannya pembaca dapat terinspirasi dari apa yang mereka tulis.

Dan dilanjutkan ke halaman selanjutnya adalah prolog dari keduanya, bagaimana awal mereka bertemu hingga proses menuju proses ta’aruf.

Duh kalau baca ini kalian akan membayangkan bagaimana posisinya mas Fahmi dan mbak Zahra yang berusaha menjadikan setiap kejadian dari hidup mereka adalah takdir Allaah yang sama sekali tidak dapat disangka-sangka. Sosok yang saling minder antara keduanya menjadikan Allaah ridho untuk mereka menjadi pasangan hidup.

Dalam menuju proses untuk “Mengukir Peradaban” adalah paradigma dan niat menikah. Keduanya mencoba untuk flashback dengan fase di mana mereka diharuskan membuat plan hidup dengan paparan yang amat rinci hingga akhirnya dari proses itu menjadikan mereka saling memiliki plan hidupnya dalam lembaran-lembaran proposal taaruf cukup menakjubkan.

Seorang mas Fahmi membuat lembaran proposal ta’aruf 27 halaman saya berpikir itu apa saja yang ditulis sebegitu banyaknya buat lembaran proposal taaruf melebihi proposal skripsi, huft.

Begitupun mbak Zahra yang membalas dengan 21 halaman isi biodata proposal ta’aruf-nya, dan alhasil saya mulai paham ternyata di bagian itu mereka menjelaskan data pribadi mereka dengan rincian baby plan yang akan menjadi modal mereka dalam membangun paradigma rumah tangga. Sudah pasti niat menikah juga mereka paparkan, visi misi yang jelas serta gambaran mau membangun keluarga seperti apa setelah menikah nanti.

Persiapan menikah juga hal yang harus diperhatikan mulai dari persiapan ilmu, finansial, dan amal.

Persiapan finansial juga digambarkan dengan rincian yang jelas di buku ini dari mulai berapa kebutuhan untuk acara resepsi dan sebagainya, cukup menarik mungkin bisa menjadi referesensi anda jika ingin mencoba hitungan yang dijelaskan di buku ini dalam persiapan finansial menuju menikah.

Keduanya juga saling memaparkan persiapan seperti apa yang akan mereka siapkan sebelum menuju peradaban yang telah mereka rancang dari masing-masing life goal dan life plan.

Dan bagaimana cara membuat life plan smart yang pasti bersamaan dengan hambatanya, jadi setelah menikah mas Fahmi dan mbak Zahra saling menggabungkan kedua plan yang telah mereka rancang dengan mendiskusikan mana yang lebih urgen untuk didahulukan dan mana yang masih bisa ditunda.

Buku ini juga memaparkan bagaimana mas Fahmi dan mbak Zahra mengelola aktivitas mereka dengan selalu melibatkan Allaah, dengan membuat grup yang hanya mereka berdua isinya bagi saya cukup seru ketika membaca bagian ini, kenapa?

Nah, mereka membuat setidaknya ada empat grup yang isinya mereka berdua dan diberi nama masing-masing sesuai dengan tujuan grup yang mereka buat ada “Ruang Ibadah” isinya adalah mutaba’ah yaumiyah (ibadah harian) yang dibuat untuk mengevaluasi setiap amalan yaumiyah mereka serunya setiap pekan mereka evaluasi dan memberi reward bagi yang lebih banyak amalannya.

Selanjutnya “Ruang Keluarga” yang digunakan untuk berkomunikasi secara personal, “Ruang Aktivitas” yang digunakan untuk to do list, dan terakhir “Ruang Ngaji” digunakan untuk setor hapalan dan muraja’ah jika dalam keadaan berjauhan.

Manajemen keuangan juga dipaparkan oleh keduanya dengan membagi kebutuhan apa saja baik biaya belanja bulanan, pendidikan, infaq dan semacamnya harus sudah dipikirkan untuk mengelola keuangan agar lebih kondusif untuk keluarga. Dan baiknya membuat pemasukan dan pengeluaran dan bantuan sebuah aplikasi juga membantu kita dalam mencatat kemana saja uang yang sudah keluar dan masuk ke dalam saldo rekening miliki kita.

Secara keseluruhan karena buku ini adalah catatan perjalanan hidup pasangan muda yang menikah dengan usia yang cukup muda tapi tidaklah telalu mudah juga. Keduanya memiliki masa depan yang jelas dalam proses mengukir peradaban, referensinya langsung mereka ambil dari Al-Quran dan Hadist Rasulullah Saw.

Sudah pasti isinya juga lebih banyak menceritakan bagaimana mereka dalam menjalankan setiap perjalanan pernikahan sebagai bentuk ibadah dan bertugas menyiapkan generasi seperti apa yang akan mereka bentuk. Buku ini hanya direkomendasi untuk dibaca sebagai motivasi diri, tapi bukan berarti dijadikan referensi sebagai bahan penelitian ya, Sobat.

Untuk kekurangan mungkin bagi saya hanya satu yaitu sebaiknya menambahkan footnote jika mengambil isi dari Al-Quran dan Hadist menggunakan tafsir, catatan ke berapa, halaman berapa seperti pada buku kebanyakan. Walau ini hanya bagian dari kategori buku experienced or planning tapi sedikit banyaknya reader juga ingin mencari sumber dari referensinya langsung. Terima kasih.