Edit by Mimin

Reviewer and Author by Muhammad Syufinur

Judul Buku : TITIK NOL
Penulis       : Agustinus Wibowo
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Februari 2013
Jumlah Halaman : 552 Halaman

“Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu”

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyambung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian.

Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Catatan perjalanan seorang Agustinus Wibowo tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan.

Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenang-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya.

Baginya nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan seberapa jauh perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan.

Melalui tulisannya, Agustinus tidak hanya berhasil mengingatkan dirinya pada kenyataan dalam perjalanannya sendiri, tapi ia juga membantu pembaca merasa ikut terhubung dengan orang-orang di negeri-negeri jauh di sana yang dalam kenyataannya tak pernah mereka temui (Lam Li).

Agustinus Wibowo si penembus garis batas dari Lumajang adalah seorang anak rumahan yang bercita-cita menjadi seorang turis saat kelas  6 SD.

Perjalanannya pertama kali dimulai pada awal tahun 2000-an untuk menempuh pendidikan di Universitas Tsinghua, China.

Saat sedang liburan semester di tahun 2006 dia memutuskan pergi backpacking ke Negara tetangga yang terjangkau olehnya yaitu Afghanistan. Pengalaman itu membuat Agustinus bertekad melakukan perjalanan menuju Afrika Selatan melalui jalan darat dari China. Setelah menyelesaikan studinya perjalanannya dimulai.

Buku ini dibuka dengan tulisan dari sahabatnya Lam Li berjudul memberi arti pada perjalanan. Kemudian dilanjutkan dengan penantian, safarnama, senandung pengembara, surga Himalaya, kitab tanpa aksara, mengejar batas cakrawala, dalam nama Tuhan, di balik selimut debu, pulang, dan akhir sebuah jalan.

Mengisahkan perjalanan di berbagai negara dari sudut pandang berbeda, yang selama ini tidak banyak diangkat ke media.

Buku ini menceritakan perjalanannya menyeberangi Tibet, menaklukan pegunungan Himalaya, melanjutkan perjalanan ke India, Pakistan, dan Afghanistan.

Bahkan di perjalanannya penulis juga menemukan seorang sahabat asal Malaysia, sosok yang baginya sangat berharga sehingga membuat tulisan ini mempunyai kisah tersendiri.

Yang paling menarik dari buku ini adalah sang penulis memiliki kamus kata yang sangat kaya. Ia benar-benar menggunakan pilihan kata yang sangat tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan.

Penulis juga memiliki cukup banyak analogi untuk menggambarkan keadaan yang ada, sehingga pembaca dapat merasakan apa yang dialami penulis. Penulis juga tidak hanya menjual pemandangan dan eksotisme saja.

Dalam setiap perjalanannya dia menceritakan proses bertumbuh sebagai manusia. Hingga pada akhirnya sang musafir terpaksa pulang dan meninggalkan impiannya.

Dari perjalanan berkelana yang begitu jauh, akhirnya ia menyadari apa yang selama ini hilang ternyata berada di rumah, ketika ia mendapati sang ibu yang sedang menderita sakit keras  hanya terbaring di tempat tidurnya.

Hingga akhirnya ia bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan. Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat kedalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan.

Berikut adalah beberapa kutipan favorit saya dari puluhan kutipan menarik seorang Agustinus Wibowo :

• Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang

• Dalam hidup manusia, memang ada orang-orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat. Mengajarkan sesuatu lalu lenyap sama sekali. Kehilangan justru membuka mata lebih lebar, kehilangan adalah untuk menemukan. Ada menemukan, ada kehilangan. Tiada kehilangan, tiada pula menemukan

• Mengintip dunia, hanya itu yang kubisa. Buat aku yang tinggal di desa, bahkan naik pesawat pun adalah mimpi yang terlalu muluk.  Lagi pula, mereka bilang, dunia luar itu muram dan seram, bahaya selalu mengincar. Tapi aku ingin melihat dunia

• Ruang kosong, perhentian dalam perjalanan adalah saatnya untuk memberi arti baru terhadap makna perjalanan itu sendiri.  Di zaman sekarang, manusia melangkah lebih cepat, menjelajah lebih jauh, melihat lebih banyak, mengenal lebih luas, bermimpi lebih tinggi lagi, tapi impresi justru sebenarnya semakin tipis, rasa pun lebih cepat memudar

•Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan.  Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak.

_______
Nahh sekian review buku dari saya yang berjudul Titik Nol. Buku ini sangat recommended bagi kalian pecinta petualangan, pejalan, atau para perantau yang saat ini jauh dari rumah.

Menemukan pentingnya arti rumah dan keluarga lewat sudut pandang seorang Agustinus Wibowo. Karena tiada awal tiada akhir, yang ada adalah lingkaran sempurna, tanpa sudut, tanpa batas. Kita jauh melangkah sesungguhnya hanya untuk kembali, kepada “Titik Nol” kita