sumber: instagram.com/hayyathemovie

Akhirnya saya bisa menyaksikan film Hayya pada tayangan hari pertama di bioskop. Di tanggal cantik yang harinya sangat cantik untuk dinikmati yaitu pada hari Kamis, 19 September 2019 lalu. Meski rencananya sudah dari siang tapi baru kesampean di malam hari, tetap rasanya sangat puas.

Ini bukan sekadar rekomendasi basa-basi hanya karena film ini mengangkat kisah dari negeri yang terberkahi yaitu Palestina. Walau salah satunya mau tidak mau hal itu adalah bagian dari misi besar kita bersama dalam membantu Palestina, tapi di samping itu ada banyak hal lain yang membuat saya jadi sangat merekomendasikan film ini kepada kalian semua yang masih belum juga memutuskan menjaga Hayya di bioskop sampai sekarang.

Film yang dibuat dengan usaha, doa, serta ketulusan dan perjuangan begitupun dengan biaya yang tidak main-main banyaknya, sudah dipastikan totalitas bagi semua yang terlibat sangat terlihat di film ini.

Sebelumnya, saya sarankan menontonnya harus benar-benar mempersiapkan hati yang besar untuk Palestina. Agar tidak sia-sia 101 menit waktu yang kamu luangkan untuk menonton film ini. Kita juga harus paham setidaknya sedikit tentang konflik Palestina dengan dunia serta bagaimana atmosfer sesungguhnya terkhusus bagi anak-anak yang bertahan di sana dengan berbagai macam serangan brutal dari sang musuh biadab. Zionis Israel.

Dok Pribadi

Film ini adalah sekuel dari film The Power of Love 1 yang masih tetap digarap oleh salah seorang sutradara berbakat bernama Jastis Arimba. Film yang menceritakan tentang seorang lelaki keras kepala bernama Rahmat yang terobsesi dengan perjalanan hijrahnya. Ia ingin menjadi orang baik dan rela melakukan apapun hal yang baik demi menebus dosa-dosanya di masa lalu. Tanpa mau sedikit pun mempertimbangkan konsekuensi  yang terkandung di dalam kebaikan yang ia obsesikan itu.

Dengan berdasarkan perasaan itu, Rahmat memiliki keberanian yang besar untuk melakukan apapun kebaikan tanpa mengenal risiko dan kondisi, salah satunya pergi ke negeri konflik Palestina sebagai jurnalis sekaligus relawan di perbatasan camp pengungsian. Sampai akhirnya tiba pada momen saat ia menyelamatkan seorang gadis kecil Palestina yang menjadi korban penyerangan hingga kemudian dari sinilah ceritanya bersama Hayya, sang gadis kecil Palestina itu dimulai.

Di awal penayangan saya sudah tertarik dengan sosok Adin yang meski penampilannya terlihat seram namun ternyata lucu, narsis tapi tetap bisa cool dan santai. Tokoh yang diperankan oleh Adhin Abdul Hakim itu berhasil menjadi bumbu-bumbu kocak di tiap banyak bagian film. Ditambah lagi dengan tingkah kocak-nya Ria Ricis sang ratu Youtuber yang berperan sebagai Baby Sitter-nya Hayya menambah komedi di film ini semakin gurih dan terlihat sangat tulus dan tidak dibuat-buat. Perpaduan dari komedi dan drama tersebut berhasil mengaduk-aduk antara pikiran, hati dan perut para penonton. Bagian komedi yang paling saya suka adalah audisi Baby Sitter dan tragedi batu giok. Haha. Kalau kamu yang mana?

Untuk akting para pemain menurut saya sudah luwes dan berusaha untuk totalitas. Walaupun untuk peran Rahmat sendiri yang diperankan oleh Fauzi Baadillah masih terkesan kaku  untuk dikatakan sebagai seseorang yang memiliki sifat posesif dan sangat sayang terhadap Hayya.

Ditambah lagi ada bagian di mana saat Rahmat mendadak mengajak Adin, Ricis dan Hayya untuk segera pulang ke kampungnya. Acara yang ada di rumah Abahnya Rahmat terlihat seperti kebetulan yang tidak pas. Sampai di bagian itu saya mulai berani menilai bahwa film memang tidak pernah ada yang sempurna, termasuk film Hayya ini. Mungkin saja untuk menghemat waktu atau apa, tapi menurut saya jadi kesannya kok kurang srek saja gitu.

Ada lagi masalah tentang pemain figurannya. Entah kenapa ya kalau saya menonton film sering banget merasa terusik ketika pemain figuran tidak dibuat sedemikian rupa niatnya sama halnya dengan para pemain utama.

Contohnya masih pada bagian  ketika acara di rumah abahnya Rahmat, akting para pemain figuran sejenak merusak suasana hati saya. Apalagi kalau logikanya, masa baru heboh abahnya pingsan orang-orang pada santai saja di teras rumah. Pas waktu pulangnya juga teratur banget.  Kenapa tidak dibuat sealami mungkin? Pokoknya kebanyakan film begitu dan bukan hanya di film ini saja. Ya kurang memperhatikan bagian-bagian yang seperti saya contohkan tadi. Entah saya saja yang lebay merasa seperti itu, ya tidak tahu juga. Tapi intinya itu semua menurut penilaian pribadi saja sih. Yang lain mah bebas. Hehe

Tapi terlepas dari itu semua, saya beri nilai film Hayya di angka 98 dari 100. Mulai dari sinematografi dan backsound-nya yang dari awal sudah sangat mampu menampilkan misi besar yang wahh dalam film ini. Totalitas menyulap Indonesia berasa menjadi tanah perbatasan dan pengungsian di Palestina, itu sungguh sangat mengesankan bagi saya. Soundtrack-nya pun keren-keren banget.

Akting menangis pemeran Hayya juga berhasil membuat saya mewek berkali-kali. Pesan –pesan yang disampaikan dapat dan ngenak banget tanpa terdengar kaku atau mengada-ada dan masih banyak hal menarik lagi yang bisa kamu temui saat menonton film Hayya.

Namun yang paling terpenting, jika film ini dianggap hanya menjual nama Palestina saja, saya sangat tidak setuju. Karena kualitas hidangan film yang disuguhkan bukan hanya mengedukasi tentang kepalestinaan saja,  tapi juga sangat layak untuk dibayar mahal dan dinikmati banyak orang.

So Gaes, masih mikir tujuh keliling untuk tunda-menunda terus menonton film Hayya? Harga satu tiket menonton film Hayya adalah bagian dari infak kita terhadap Palestina dan mendukung terus maju dan berkembangnnya film-film islami juga kemanusiaan yang berkualitas Indonesia.

Dari Maimunah binti Sa’ad ra, isteri nabi Saw, berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, wahai Rasulullah! Fatwakan kepada kami tentang Baitu Maqdis? Beliau menjawab, “ Ia adalah negeri mahsyar( perkumpulan) dan masyar (penebaran). Datanglah kalian dan shalatlah kalian di sana, karena satu kali shalat di sana sama dengan seribu kali shalat di tempat lain”. Aku bertanya lagi, “ Bagaimana jika aku tidak mampu mendatanginya?” Beliau menjawab, “ Kirimkan minyak untuk menyalakan lampu yang ada di dalamnya. Siapa yang melakukan hal itu maka ia seperti telah mendatanginya.”

_______

Ref : Buku Hadis Arbain Maqdisiyah karya Dr. Murawae Mosa Naser Nassar