Revolusi industri 1.0 ditandai dengan ditemukannya mesin. Tenaga manusia dan hewan digantikan mesin.

Revolusi industri 2.0 ditandai dengan merebaknya pabrik. Mesin diproduksi massal untuk meningkatkan produktivitas.

Revolusi industri 3.0 ditandai dengan kemajuan teknologi informasi. Mengubah pola komunikasi dan relasi. Memperluas pasar. Produksi dan distribusi berkembang pesat.

Sekarang revolusi industri sudah hampir mencapai 4.0. Embrionya adalah pengembangan robot dan AI  (artifisial intelegence) untuk menggantikan banyak tugas manusia secara lebih canggih. Produksi cepat dan masal, pasar sangat luas, distribusi cepat dan masal.

Percepatan menjadi tak terbendung. Bahkan, jika manusia tidak siap ia akan terlindas apa yang diprakarsainya sendiri.

Ketika pertama kali revolusi industri bergulir manusia belum sadar bahwa apa yang terjadi dapat merubah banyak tatanan sosial, ekonomi, bahkan sampai kebudayaan.

Paling tidak, setelah terjadi dua kali titik perubahan besar (revolusi industri 1.0 dan 2.0) gejala – gejala akan adanya titik perubahan besar berikutnya dapat diketahui. Oleh karenanya, revolusi industri bisa digunakan sebagai penanda zaman yang berfungsi sebagai semacam alarm untuk persiapan – persiapan menghadapi perubahan zaman.

Sebelum revolusi industri 4.0 mencapai puncaknya banyak kekhawatiran muncul. Terutama tentang akan tergantikannya banyak tugas manusia dengan robot, atau pun AI. Manusia terlihat begitu tidak berdaya dan menjadi tidak berguna. Kalah dengan mesin, robot, AI dalam berbagai hal.

Apakah kekhawatiran tersebut sepenuhnya akan terjadi ?

Bisa jadi. Namun, agaknya kita harus membicarakan posisi dan fungsi manusia terlebih dahulu.

Gamang kepercayaan kepada Tuhan melahirkan asumsi utopis. Tentang Tuhan juga tentang banyak hal lain tentang kehidupan. Paling tidak hal tersebut telah dimulai oleh Nietzche. “Tuhan telah mati,” katanya.

Saya melihat ada hal semacam itu ketika saya menonton beberapa film hollywood yang ide ceritanya sampai kepada hal – hal tidak terpikirkan di dalam realitas sehari – hari. Misalnya saja Avenger Infinity War. Sebagaimana Avenger seri sebelum – sebelumnya, latar yang digambarkan oleh film tersebut adalah alam semesta secara keseluruhan. Walaupun pada akhirnya tetap terbatas. Tidak akan tergambar apa yang dimaksud sebagai alam semesta secara keseluruhan.

Thanos, musuh utama dalam Avenger Infinity War adalah penjahat yang lingkup kejahatan mencapai seluruh wilayah di alam semesta. Misinya memusnahkan separuh populasi alam semesta yang dianggapnya telah membuat kehidupan di alam semesta tidak berlangsung sebagaimana mestinya.

Film lain, Blade Runner 2049 yang menggambarkan masa depan depan begitu gelap. Manusia tidak berdaya atas teknologi yang telah dibuatnya yang akhirnya menghancurkan alam.

Bukankah kedua film tersebut asumsi dasarnya adalah tidak ada Tuhan di dalam narasi ceritanya?

Kalau Tuhan dibawa mungkin tidak akan seperti itu narasi ceritanya. Apakah Tuhan akan membiarkan Thanos melakukan hal seenaknya sendiri kepada ciptaan-Nya ? Apakah Tuhan akan membiarkan masa depan kehidupan begitu gelap sebagaimana yang digambarkan dalam Blade Runner 2049 ?

Kita hidup di dalam sebuah realitas bukan imaginasi. Bagaimana dengan Tuhan. Dia imaginasi ataukah realitas?

Tuhan bisa jadi sebatas imaginasi ketika disikapi serupa dengan mitos. Dia hanya sebatas ide, tidak terejawantah dalam kehidupan. Penyembahnya hanya melakukan ritual tanpa output sosial yang berarti.
Tuhan bisa jadi realitas ketika Dia menjadi energi penggerak untuk menciptakan kemaslahatan sosial.

Sebuah redaksi dari khasanah kitab suci menjelaskan bahwa tugas manusia adalah beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi atau pengelola kehidupan di bumi.

Selain Tuhan, manusia adalah subyek kedua dalam kehidupan. Tetapi bagi arus “Tuhan telah mati” manusia satu – satunya subyek utama kehidupan. Jika dipaksa harus percaya dengan subyek lain di alam semesta, agaknya penghuni planet – planet lain jadi salah satu pilihan (jika ada dan dapat dijangkau)

Paling tidak keduanya memiliki sedikit kemiripan. Sama – sama berkeyakinan mempunyai kedaulatan kuat di dalam kehidupannya. Agaknya, wacana dari kitab suci yang berbunyi Tuhan tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri sesuai untuk keduanya.

Pesimisme akan gejala perubahan zaman yang ditandai dengan kemunculan revolusi industri yang akan membuat manusia tidak berdaya adalah sebuah kewajaran. Sebagaimana orang yang takut dengan jarum suntik menolak suntik ketika akan disuntik, walaupun bertujuan untuk kesehatan.

Sebenarnya naif juga jika manusia sudah tahu akan ada bahaya besar dari sebuah perbuatan tetapi perbuatan tersebut tetap dilaksanakan. Di mana manusia menyembunyikan kedaulatannya ?

Tetapi, jika memang dipaksa harus menjalani, apakah manusia akan ditindas kekhawatirannya sendiri. Bukankah manusia khalifah? Atau, kalau tidak katanya Tuhan telah mati dan manusia legitimator terkuat.