Dok. Pribadi

Perjalanan memberikan kesan berbeda di setiap putaran roda dan langkah kaki. Ruang dan waktu bersekutu menjadi tragedi saat itu atau kenangan di masa lalu. Kami yang hanya bermodalkan kenekatan akhirnya sampai juga di Kebumen. Sorot cahaya pagi dan dialog ngapak seakan mempersilahkan kami dengan santun. Aku sendiri tidak menyangka bisa kembali lagi untuk ketiga kalinya. Setiap kalinya memiliki sebab yang tidak sama.

Awalnya tentang persahabatan, membuat kami datang di acara pernikahan. Tahun di mana listrik belum masuk, pohon pinus yang asri, dan sungai yang alami. Aku terpincut dengan keindahan alam kota ini. Keperawanan desa yang belum terampas kerakusan zaman. Bahkan biaya transportasi ke pusat kota cukup terbilang mahal. Namun, itu ‘kan dulu, untuk sekarang aku yakin listrik sudah masuk, pohon pinus mulai berkurang, dan sungai tergerus oleh tambang.

Kemudian sebab teman yang mencari batu akik. Jauh sebelum dunia batu booming di pasaran. Keinginannya yang sangat besar, membuatku tidak tega membiarkan begitu saja. Aku yang sedikit tahu tentang Kebumen, mencoba menawarkan diri mengajaknya ke sana. Bertamu ke beberapa pengrajin batu sambil menimba ilmu. Tidak hanya mendapatkan batu, tetapi pengetahuan berharga yang tiada pernah kami temukan sebelumnya.

Selanjutnya, kopi menjadi magnet hebat yang menyeret kami kembali lagi. Roemah Kopi Gombong yang berada di dalam Roemah Martha Tilaar menyuguhkan pengalaman berbeda. Perbincangan kopi dan mimpi menjadi kisah menarik. Bagaimana Roemah Kopi tidak hanya menjadi tempat disajikannya kopi-kopi Kebumen, tetapi juga untuk bertemunya para pelaku perkopian. Roemah Kopi juga menjual hasil kerajinan masyarakat, sebagai wujud cinta mereka pada kearifan lokal.

Kedatangan kami disambut luar biasa, bahkan mereka ikut nimbrung jagong bareng sambil mengenalkan kopi Puring. Pernah terucap kata ingin mengenalkan kopi-kopi Kebumen ke kancah nasional maupun internasional. Sehingga dibutuhkan langkah besar dan kesadaran atas potensi yang dimiliki. Bersama-sama saling merangkul, tidak malah curiga dan berburuk sangka. Rasanya kangen pengen ke sana lagi, sekalian mampir ke Benteng Van Der Wijck yang dulu sempat tertunda.

Persahabatan, Batu, dan Kopi menjadi sebab yang membuat kami datang kembali. Lalu, kami gantungkan sebab lain yang mungkin suatu saat akan menarik untuk ke sana lagi. Kita bukanlah mantan, jauh lebih dari itu sebagai alumni yang bisa reuni kembali. Seraya melihat dan bertanya sudah sampai mana langkah kalian?

Ingin sekali rasanya menggores proposal lalu melayangkan penawaran. Tentang Roemah, Kekeluargaan, dan Buku, yang menyatu dengan santun. Ya, semua orang berbisnis untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun, ada hal lain yang bisa kita lakukan seandainya bisa saling percaya. Meski rasanya mustahil, bukan berarti tidak ada kemungkinan berhasil.

Sekiranya kita nongkrong di kafe dengan biaya mahal, tetapi tidak mendapatkan benefit apa pun. Kenapa tidak membuat tempat nongkrong sendiri? Hanya dengan 100 orang, lalu patungan lima ratus ribuan, sudah cukup untuk menyewa tempat dan beli peralatan sederhana. Harga semestinya akan lebih bisa bersahabat, tidak yang menjerat leher. Belum lagi kalau dari 100 orang itu mengajak teman-temannya, tentu akan semakin meningkatkan pendapatan. Kebayangkan, bagaimana pengembangannya nanti?

Adapun Roemah, Kekeluargaan, dan Buku adalah TE’BOOKU. Rumah yang berisi banyak buku, yang menyambut hangat para tamunya, menyediakan menu-menu dengan harga bersahabat, sehingga para pengunjung akan merasa ada di rumah sendiri. Kalau ditanya kapan? Mungkin jawabnya hanya ada dua, kalau tidak sekarang ya relakan orang lain mewujudkannya. Namun, siapa tahu ada tangan yang merangkul bersama-sama sebab campur tangan Tuhan.

16 KOMENTAR

  1. Kenangan, alam, batu, kopi dan rindu bersekutu menarik diri untuk kembali dan berkumpul. 😄

    Impian dari kantin kampus sampai warung kopi. Semoga harapan kali ini bisa tercapai ya. Aamiin.

    Pilihan sudah di depan mata. Syemangat 👍😄