Sumber jalan pixabay.com/ryanmcguire

Masih sanggupkah kamu mendengarkan kata-kata yang akan aku utarakan. Meski dari kemarin sempat terpotong laju kereta api. Begitu juga tragedi kecelakaan yang mengenaskan. Tapi sudahlah itu hanya peristiwa belaka. Aku tidak ingin menjadi saksi di pengadilan. Apalagi orang-orang sudah melihatku dan berusaha mengejar untuk mendapatkan faktanya.

Mereka seharusnya menjadi saksi kunci. Peristiwa demonstrasi digital undang-undang yang kemarin sore sampai hari ini masih ramai. Bukan aku yang hanya sebagai tukang sapu jalanan kota. Para pendemo bernyanyi dan membawakan himne. Kamu tahu ‘kan itu seperti puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.

 

Doa Seorang Tukang Sapu

Bila aku telah selesai maka akan usai
Keringat deras dan juga terik panas
Tetaplah aku syukuri meski lelah
Tubuh renta yang lemah
Juga kaki dan tangan lemas bergegas

Kehendak hanya padaMu dan aku binasa
Selainnya cukup menerima
KuasaMu meliputi segalanya
Atupun hidup dan bertahan
Tidak lain juga dengan mauMu

Hanyalah wasilah kata dan puja
Memelas pasrah mengucap pinta
Kau yang kuasa aku yang hamba
Lantaran Kau segala ada dan tiada

 

Mereka masih saja diam di depan gedung DPR menyuarakan tuntutan. Mahasiswa memang suka koar-koar lantang. Tidak peduli jalanan menjadi macet. Demokrasi memberikan kebebasan menyalurkan aspirasi. Aku sendiri heran menyasikanya. Tapi saksi yang semestinya tetap orang-orang. Mereka berhenti dan mendokumentasikan dengan gambar maupun tulisan.

Saat terik panas dan kuputuskan untuk berteduh di bawah pohon. Pendemo itu semakin keras melantukan slogan pembakar semangat. Ya seperti epigram yang sering disebut puisi slogan. Puisi yang mengandung slogan, semboyan untuk membangkitkan semangat perjuangan.

 

Maju Jangan Mundur

Tidak perduli musim atau hari
Selagi masih ada kecurangan
Kami tetap membawa sila pancasila
Sila keadilan sosial kemanusian persatuan
Tanpa ragu terus maju

Ini aspirasi bukan tuntutan
Ini jeritan hati tidak bualan
Selagi kami berdiri di sini
Pantang mundur sebelum tersalur

Rakyat itu raja dan kalian malah jelata
Rakyat kekuasaan mutlak
Tapi kita seperti tidak dianggap
Maju tanpa ragu
Ini perjuangan untuk anak cucu
Jangan pernah mundur meski digempur

 

Aku sendiri bingung melihatnya. Panas yang membakar tidak juga membuat mereka kandas. Sedang aku hanya berdiam sambil memegang sapu. Menyasikan dan mengamati mereka dari kejahuaan. Tetap saja saksi yang semestinya adalah orang-orang. Kalau mereka saja meminjam lidah orang lain tanpa berani ber-opini. Apalagi tukang sapu seperti aku?

Kadang fajar menyongsong langkahku sudah berkilo-kilo trotoar. Melihat ada orang jatuh terglincir licinnya jalan. Sontak, aku kaget dan buru-buru membantunya bendiri. Tidak malah mendokumentasikan dan bertanya-tanya. Ah, sungguh aneh orang-orang sekarang. Mereka saling tidak merasa tersindir. Biasa saja tanpa merasa malu. Mungkin lewat bahasa puisi satire dapat membuat mereka berpikir.

 

Tepi Demokrasi Zaman Now

Alenia pertama sudah lantang
Teriakan pada pemerintahan
Aku hanya diam
Lalu apa yang kalian perjuangkan
Golongan, ummat, atau kelompok

Tukang sapu tidak pernah dianggap
Di gedung perkantoran, rumah makan, trotoar jalan
Kami hanyalah kotoran meja yang mudah dibersihkan

Kurang enak apalagi kalian semua
Aku hanya diam
Kalau boleh titip pesan
Perjuangan itu bertahan
Tidak mempertahankan
Perjuangan itu berkualisi
Tidak melawan
Perjuangan itu diam
Tidak teriak-teriak
Perjuangan bukan juga peperangan

 

Sudahlah, diam-diam aku melangkah pulang. Keluarga sudah menunggu seorang bapak pekerja sapu. Kalau di jalan aku tidak pernah dianggap. Tapi berbeda dalam keluarga. Mereka selalu membuatku berarti. Menjadikan imam tanpa pernah mengenal profesi. Mari pulang kawan. Besok kita teruskan perjuangan lagi.

10 KOMENTAR