Pixabay.com

Aku tahu malam ini semakin larut, aku masih kesulitan memejam dan berpindah ke alam mimpi. Ini terjadi sejak kemarin malam, memang jam tidurku sudah lama rusak. Tetapi, last night lebih parah dari sebelum-sebelumnya.

Selepas meluapkan emosi ini, mungkin aku bisa tidur. Meski, aku lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak. Satu hal yang lucu dan kurasa baru aku sadari. Keterjagaanku ini setelah aku menghabiskan waktu dengannya atau mungkin pengaruh minum kopi?

Sebenarnya, opsi kedua tidak bisa kuasumsikan sebagai sebab karena setiap hari aku minum kopi. Misal sebabnya adalah yang pertama, aku juga tidak tahu kenapa. Ada related yang tidak bisa dijelaskan dari sisi rasional.

Ingin bertanya pada siapa? Aku pun tidak tahu. Akan tetapi, permasalahannya sekarang bukan itu. Tidak masalah bisa meraih mimpi dalam lelap atau tidak. Yang ingin kusinggung ialah mimpi di dunia nyata.

Iya, topik yang tidak pernah habis untuk dibahas. Apalagi di saat yang tepat bersama orang-orang sepaham dengan tujuan yang sama. Mimpi ini kerapkali mendasari manusia untuk tetap hidup. Karena tanpa mimpi itu tadi, apa yang mau dicari? Tidak ada bukan.

Maka dari itu, bisa jadi Tuhan tidak mengabulkan semua mimpi kita. Agar kita terus bermimpi dan tidak berhenti di jalan, lantas tidak menginginkan apa-apa lagi. Manusia tanpa keinginan dan tujuan, bukankah dia layaknya sesuatu yang mati. Mati dalam artian yang sebenarnya, karena dia kehilangan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Sedangkan orangorang yang punya mimpi, dia kan berusaha mewujudkannya. Menantang esok dan mengusahakan hidupnya tidak berakhir sia-sia tanpa sebuah pencapaian.

Aku pernah dengar sebuah kalimat, β€˜Banyak jalan menuju Roma’ yang kalau tidak salah, artinya ialah banyak cara untuk mewujudkan mimpi, banyak kesempatan untuk mencapai tujuan. Bila gagal kemarin, kita bisa mencobanya, hari ini, esok atau lusa.

Bermodal kalimat itulah, aku membebaskan diri. Membebaskan pergaulan, asal masih positif meski di masyarakat timbul stigma negatif. Sudah sejak lama aku melanggar perspektif bahwa normatif itu baik. Patuh memang cenderung menyenangkan hati orang lain, mereka akan menganggap keturutan sebagai sebuah etika yang benar.

Darimana bisa jadi benar dan dibenarkan? Sedangkan benar dan salah hanyalan persoalan sudut pandang antara orang yang satu dengan orang lain.

Dari umur masih tiga belas tahun, duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sampai sekarang, aku terlalu akrab dengan yang namanya pemberontakan, menyalahi aturan, melanggar tatanan, membantah perintah. Ketika bagiku, aku tidak perlu melakukannya karena tidak benar. Tidak benar maka aku tidak mau.

β€œBenar versiku bisa jadi berbeda denganmu.” Itu kalimat yang sering dan suka sekali kukatakan. Aku tak lantas memintamu memahamiku, begitu pula sebaliknya. Biarkan aku melakukan kebenaran versiku.

Mereka yang menjadi bagian masa laluku, yang tahu aku dan segala cerita tentangku di masa ketidakteraturan. Mereka yang benar-benar tahu aku, tidak akan pernah mempertanyakan lembali setiap kata yang terucap dan meragukan tindakan yang kulakukan.

Berbeda dengan mereka yang mengenalku dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Pasti banyak tanya, prasangka, praduga, curiga, dan masih banyak lagi deretan pemikiran negatif tentangku. Meski ada pula yang bisa memahami aku dan ketidakmasukakalan yang sering kulakukan, jumlahnya tidak terbilang banyak.

Di titik ini, sekali lagi. Aku merasa benar dalam versiku, dan amat sangat tidak benar di mata mereka. Bukan masalah jika mereka memang tidak mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Toh, aku juga tidak akan mau repot menjelaskan. Percuma saja aku berucap panjang lebar. Tetapi ….

Sungguh tragis jika mereka meng-underestimate sebuah niat yang aku janjikan pada hati, Tuhan dan semesta yang menjadi saksi. Niat yang mungkin kamu tahu saat ini, namun kamu hanya menganggapnya omong kosong belaka.

Terserah jika, nilai yang aku genggam diragukan, dikata tidak mungkin teraih, dicemooh hanya akan menjadi mimpi belaka. Itu tidak masalah sama sekali. Aku pun tidak peduli dengan anggapan orang lain. Yang tahu aku ya hanya aku. Karena aku menjadi apa yang ingin kutunjukan padamu.

Kamu hanya tahu satu frame, lantas dengan mudah menjatuhkan penghakiman sepihak. Satu bingkai yang kamu berikan rating, tanpa tahu ada cerita apa sebelum ini dan akan ada cerita apa di episode berikutnya.

Yang tidak tahu irisan demi irisan, sekat demi sekat, pengorbanan demi pengorbanan, namun dengan pandainya menilai satu cerita dari sudut pandang yang teramat sangat sempit. Haruskah kutegaskan, sudut pandang yang teramat sangat sempit.

Tiada yang tahu cerita lengkapnya, ada yang tahu pun, aku tidak menuntunya untuk mengerti. Karena aku tidak berharap banyak yang mengerti, percayalah pengertian menurut sudut pandangku tak akan sampai kolerasinya jika kita bicarakan. Karena terbentur sudut pandang itu tadi.

Bahkan aku tidak berharap ada yang mau menelaah arti tulisan ini. Tidak perlu jika memang tidak mau. Tidak usah jika memang tidak ingin. Aku membebaskan diri juga membebaskan orang untuk di sekitarku untuk menilai.

Hanya saja, kala ini aku bosan menghadapi situasi yang sama dan terus terulang. Coba lah sebelum memberikan rating pada siapapun dan apapun itu, renungkan terlebih dahulu. Sudahkah yang kamu dengar, lihat dan ketahui ialah cerita utuh atau hanya satu scene yang kebetulan kamu ada didalamnya?

 

Tonight, alone here. Listening a good song, believer by Imagine Dragons.

23.38

28 Maret 2019

Yuke

11 KOMENTAR

  1. Ya ampun, Kak Yuke tidur jam berapa? 😱

    Udah plong belum Kak habis menulis ini? Semoga segera dapat wangsit dan bisa tidur nyenyak. Barangkali kopinya bisa diganti teh Kak. Karena teh merilekskan. Barangkali bikin ngantuk πŸ˜‚πŸƒ

    Syemangatttt πŸ’

  2. Sedang gundah gulanakah sampai aku enggak berani mengomentari penulisannya. Wkwkwkk. Maafkan, sekadar bercanda dan sedikit menghibur. Aku paham dan mengerti hal kayak gini. Selalu sampai ke hati. Entahlah, pengennya sih enggak ngerti. Kalau bisa mati rasa. πŸ˜–πŸ˜”

    Aku pernah mengalami pola tidur yang parah saat di Pm. Masa lalu yang kurasa enggak banget deh kalau aku ingat. Enggak mau juga terulang lagi. Merusak diri.πŸ˜ΆπŸ™„