pixabay.com

Sudah sebulan lebih meninggalkan kota Istimewa, seperti ada keping-keping yang tertinggal di sana. Benar kabar burung di segala penjuru, “Kota dengan kenangan di setiap sudutnya.” Ah, bahkan untuk sekedar melupakan namanya sejenak aku belum mampu.

Benar-benar banyak yang tertinggal di sana. Kenangan, kesenangan, duka, hingga perjuangan yang menjadi saksi. Aku masih meninggalkan orang-orang terkasih di sana. Entahlah, entah aku yang meninggalkan mereka, atau mereka yang tak ingin bersamaku.

Aku meski terkurung sendiri saat kepulangan. Pesan-pesan hanya berisi untaian kata yang berkedok menenangkan, padahal tak berdampak apapun.

Kepulan asap yang menutupi jalanan di sini membuatku semakin rindu dengan kota itu. Keping-keping koin yang kukumpulkan dulu terasa demikian nyata ketika keadaan membutuhkan. Ah, duhai rinduku.

Tak ada langit biru saat ini, membuatku begitu merindukan udara segarmu. Horornya jalanan sekitaran sini yang diisi dengan kendaraan besar-besar membuatku merindukan kendaran mungil yang memadati setiap jalan menuju tujuannya. Ah. Semoga waktu, kesempatan, dan rizki selalu bersahabat. Hingga mataku bisa kembali menatap keramaian pusat kota, telingaku bisa mendengar gombalan bapak pedagang es goreng di Sunmor dan alun-alun.

Meski aku tau, kelak ketika aku sampai di sana (lagi), semuanya tak akan sama. Tak akan ada mereka yang biasa menemani hari gilaku ke alun-alun. Tak ada yang akan tertawa bersamaku layaknya orang stres di setiap tempat nongkrong. Ah, seindah apapun ia kelak, tetap tak akan sama.

~
Duhai cintaku, kalian yang tertinggal. Ada separuh hatiku yang kubenamkan dalam hati kalian. Jika cintaku tak mampu kalian rasakan, cukuplah aku yang merasakan setiap rindu terdalam itu.

Biarkan tembok-tembok mengukir setiap tawa yang pernah kita toreh. Jalan-jalan mengenangnya dengan caranya, sementara kita, membiarkan hati mendiamkan segala kenangan.

Salamku untuk setiap sudut kota itu. Terimakasih telah memberikan kedamaian dan tempat persinggahan yang tiada duanya. Semoga kelak, tanpa direncanakan, kau mampu mempertemukan kami dengan cara-Nya.

Riau. ~