sumber: pixabay.com/mohamed_hassan

Hai goodwriters. Apa kabar?

_

Aku adalah seorang anggota KPPS dalam pemilu 17 April 2019 beberapa hari yang lalu. Meski telah berlalu, namun hasil resmi dari KPU belum keluar. Sembari menunggu 22 Mei, mari simak ceritaku sejenak.

Sudah 5 hari yang lalu bangsa Indonesia merayakan Pesta Demokrasi. Kita yang sudah memiliki hak suara, bebas untuk menggunakannya dalam memilih 5 kategori pemimpin. Yang pertama, presiden dan wakil presiden. Kedua, DPR RI, ketiga DPD RI, kemudian keempat DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Kurang puas nggak tuh?

Menjelang hari H, kampanye berlangsung sangat sangat gencar. Debat presiden dan wakil presiden juga sampai beberapa kali diadakan. Hal ini menjadi topik hangat untuk diperbincangkan seluruh rakyat Indonesia. Debat tak hanya berlaku bagi para capres dan cawapres, namun juga para pendukung yang saling adu argumen satu sama lain. Keramaian ini bisa kita lihat di sosmed.

Selain kampanye, menjelang hari H pesta demokrasi, yaitu tanggal 13 April lalu, muncul film dokumenter berjudul Sexy Killers di Youtube. Film ini juga sukses diperbincangkan banyak pihak. Bahkan, para anak bangsa tak sedikit yang memutuskan untuk golput alias melepas hak memilihnya gara-gara tidak menyukai kedua calon presiden dan wakil. Meski begitu, di satu sisi film tersebut juga memantapkan sebagian anak bangsa untuk mencoblos siapa di tanggal 17 nanti.

Bagiku sendiri, dari film tersebut, alih-alih mengambil intisari perihal siapa yang pantas memimpin Indonesia, mending kita introspeksi diri. Memang, aku pun sempat bingung dengan pilihan, meski akhirnya telah kucoblos satu nama. Dari film dokumenter tersebut, dapat kita petik sebuah tamparan bahwa kita adalah makhluk-makhluk konsumen listrik yang ganas, bahkan kadang membuang-buang energi listrik dengan sia-sia. Hal kecil saja,  seperti mencabut charger handphone yang sudah selesai dipakai menunjukkan bahwa kita telah bertindak baik untuk Indonesia. Sepele kadang.

Baik, kembali lagi ke persoalan demokrasi.

Ah ya, mengenai pemilu yang ramai ini, aku melakukan riset kecil-kecilan — super kecil malah — dengan menanyai beberapa orang, baik pengguna hak pilih maupun yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Yang pertama, pesta demokrasi besar-besaran ini rupanya agak memberatkan pemilih pemula yang baru saja berusia 17 tahun dan langsung berkesempatan menggunakan hak pilihnya. “Susah ya, di bilik suara harus nyoblos 5 kertas. Mending kalau yang presiden, cuma 2 gambarnya. Lah yang caleg, kertasnya gede, orangnya nggak tau semua. Asal aja deh,” ungkap seseorang bernama R, 17 tahun.

Sebagai pemilih pemula, R juga mengaku bahwa dia bingung ketika di TPS, harus ke mana dulu. Namanya juga pertama kali memilih. Meski begitu, ia cukup puas dapat memberikan hak pilihnya. Terlihat ketika dia senyum-senyum setelah mencelupkan jarinya ke tinta.

Lalu, seorang nenek-nenek berusia hampir 70 tahun mengaku bahwa ia memilih calon yang ia tahu atau sering dengar namanya saja. Ia juga tampak cukup lama berada dalam bilik suara, karena selain bingung memilih caleg, juga kesulitan membuka surat suara yang cukup besar. Apalagi melipatnya juga susah, sehingga harus dibantu KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) sebelum memasukkan kertas suara ke kotak.

Ada lagi, seseorang berinisial D (23 tahun) yang memilih untuk melepaskan hak pilihnya. “Habis nonton Sexy Killers, aku jadi males. Selain itu, aku sebenarnya sengaja pulang kampung (dari kota) untuk memilih. Tapi kebetulan sampai rumah hari Rabu siang, TPS sudah tutup pendaftaran. Ya udah.”

Bisa kita ketahui bahwa masing-masing pemilih memiliki pendapat yang beragam. Tak hanya soal pilihan mereka, tapi juga teknis pesta demokrasi di TPS yang ternyata cukup membingungkan.

Itu baru dari beberapa orang pihak pemilih. Namun dari sisi petugas KPPS sepertiku, ada cerita sendiri.

Rupanya, pesta demokrasi tahun ini cukup luar biasa. Kami harus lembur sampai pagi tanpa tidur demi data-data suara sampai ke ‘atas’ tepat waktu.

H-1 pemilu, aku dan tim harus bersih-bersih TPS, menata tempat sebaik mungkin sesuai prosedur,  menyiapkan logistik, dan juga menjaga kotak suara yang baru kami terima agar tetap tersegel sampai waktunya dibuka. Ya, bukan berarti kami tidur di TPS demi kotak suara juga, tapi tetap tidur di rumah dengan memastikan bahwa TPS sudah terkunci rapat dan terhalang dari segala gangguan. Baik gangguan alam seperti atap bocor karena hujan, maupun gangguan manusia.

Tiba di hari H, jam 6 pagi kami sudah sampai TPS dengan berseragam kaos bola alias jersey. Sengaja, habis mau berseragam resmi agaknya tidak bisa kompak. Jam 7 acara sudah dimulai dengan upacara dan juga berdoa. Kemudian pembukaan kotak suara yang disaksikan oleh beberapa pemilih, saksi, pengawas, dan linmas yang hadir.

Untungnya, pemungutan suara di TPS kami berjalan lancar. Meski kadang ada lansia yang terlalu lama berada di bilik suara karena bingung, ada juga yang perlu didampingi karena menyandang disabilitas.

Pemungutan suara ditutup pukul 13.00. Tak lupa, kami para petugas juga telah selesai menggunakan hak pilih. Setelah istirahat, ibadah, dan makan siang, kami melanjutkan penghitungan suara.

Jangan heran, karena di TPS kami ada 200 lebih suara dan ada 5 kategori suara yang harus dihitung, melebihi tengah malam kami baru selesai. Belum lagi kami harus melanjutkan rekap data dan melengkapi formulir yang harus diselesaikan.

Yang lembur tak hanya kami petugas KPPS, tapi juga linmas, pengawas PPS, bahkan saksi dari partai-partai yang hadir di TPS.

Kami baru selesai menjelang subuh tanpa memejamkan mata sama sekali. Baru sekitar jam 6, kotak suara kami antar ke kelurahan untuk dicek, setelah itu dikumpulkan. Jam 10 pagi kami baru selesai. Lega juga, karena setelah ini bisa pulang dan meletakkan badan, mengganti jam tidur yang tersita. Yaaa, meskipun meriang-meriang sedikit.

Iya sih, tugas-tugas negara tersebut tidak gratis, alias ada upah dari pemerintah. Namun rupanya di kota lain, pesta demokrasi ini menyebabkan korban jiwa.

Aku melansir dari kompas.com bahwa 12 petugas KPPS di Jawa Barat dan 4 petugas di Sulawesi Selatan gugur akibat kelelahan. Miris sekali, padahal honor juga tidak seberapa. Beruntungnya diriku hanya terkena meriang ringan yang sembuh setelah tidur seharian.

Meski begitu, mari berdoa bersama supaya Indonesia menjadi lebih baik dengan pemimpin yang akan terpilih nanti. Semoga tak ada manipulasi dan kepalsuan di sana-sini. Daripada berdebat dengan hasil quick qount maupun exit poll, mending kita tunggu saja real count yang resmi dari KPU.

Sudahlah, terima kasih sudah membaca ceritaku. Salam.

21 April 2019, dari seorang petugas KPPS

8 KOMENTAR

  1. Vera juga jadi anggota KPPS 😁. Aku pun merasakan bagaimana lelahnya. Syukur alhamdulilah TPSku selesai penghitungan jam 8 malam hingga membereskan lain-lain sampai kurang lebih jam setengah 11 malam 😂😂😂.
    Aku pun tepar dan kecapaian.

  2. Duh anak bangsa Indonesia bagaimana sih, kok jadi golput hanya karena film yang berdurasi kurang lebih satu jam setengah ini 😅

    Ya tapi, golput sepertinya sudah jadi pilihan tak resmi dari sikap gamang menentukan pilihan selain merusak surat suara 😊

    Terima kasih lho ya Kak Vera sudah mau berlelah meluangkan waktu dan tenaganya jadi petugas KPPS, semoga saja ketemu cara atau metode memilih yang lebih baik 5 tahun mendatang
    Hehehe…aku kok jadi panjang ngomennya 😀