Sumber Gambar ; pixabay.com

Aku mengenalnya tepat ketika hatiku benar-benar tak percaya lagi dengan yang namanya lelaki setelah pengkhianatan Elang, mantan kekasihku yang tega memutuskan diriku lalu pergi bersama sahabatku sendiri. Dunia rasanya tak lagi enggan kupijak oleh perbuatan Elang 5 tahun lalu tersebut.

Demi menyembuhkan lukaku, aku memilih berhenti kuliah dan pindah ke tempat tinggal Pamanku di Kota Bontang, semua kenangan bersama Elang pun kularung di semua sudut kota kabupaten di Kalimantan Timur tersebut. Kesibukanku membantu Paman Karim yang mempunyai usaha catering lambat laun membantu melepas ingatan akan mantan kekasihku itu. Tak ada yang terlintas dipikiranku lagi dengan pengkhianatan keduanya hingga aku bertemu dengan sosok bernama Dirga Saputra.

“Key, pesanan dari PT. Beringin Putra sudah kamu buatin invoice nggak?” Mbak Ranti, salah satu admin yang dipekerjakan Paman Karim yang juga banyak membantuku dalam memulai pekerjaanku saat aku bekerja di awal-awal aku diminta oleh Paman Karim untuk ikut menjadi admin.

“Sudah Mbak Ran, ini mau dianterin ke…”

“Permisi. Assalamualaikum.”

Suara orang memberi salam membuat aku tak melanjutkan ucapanku dan menoleh ke arah pintu masuk, ruang samping rumah disulap sebagai kantor dadakan untuk usaha catering Paman Karim yang alhamdulillah memiliki beberapa pelanggan tetap dari perusahaan yang beroperasi di Kota Bontang ini.

Dan, orang yang Mbak Ranti maksud tengah berdiri di depan pintu sana, aku tersenyum ramah padanya dan beranjak mendekat sembari mempersilahkan pemuda dengan dandanan sedikit lebih casual itu.

“Silahkan Pak Dirga, kebetulan saya baru saja mau ke kantor Bapak,” ucapku ramah.

Invoice itu kan Mbak Keyla?” tanyanya dengan sopan. Aku mengangguk cepat lalu mengambil lembaran invoice yang kumaksud dan menyodorkan pada pemuda tersebut.

“Fotocopy?” tanyanya lagi sambil memegang lembaran itu dan menatapku.

“Sudah ada kok, masalah pembayarannya kalau bisa tunai saja Pak Dirga, soalnya beberapa hari ini Pak Karim lagi di Sulawesi,” jawabku dengan menatap serius ke arah pemuda yang usianya lebih muda dariku itu. Dia mengangguk tanda mengiyakan, setelah itu dia pun pamit dan meninggalkan tempat kami dengan wajah tak biasanya, aku menghela napas kasar.

“Key, kamu udah tahu tentang Pak Dirga?” suara Mbak Ranti menyadarkanku yang masih menatap kepergian Pak Dirga hingga menghilang dengan Pajero sport-nya dari pandanganku. Aku kembali menghela napas mendengar ucapan Mbak Ranti yang masih menatapku seakan menunggu dengan setia akan jawabanku.

“Keyla juga nggak tahu harus ngomong apa Mbak Ran. Pak Dirga belum tahu sepenuhnya siapa Keyla, bagiku dia terlalu sempurna untuk …”

“Keyla, kapan kamu bisa melanjutkan hidupmu bila masa lalu itu terus menjadi beban kamu bila ingin dekat dengan seseorang? Ayolah, Dik. Ini tahun ke 6 loh. Mbak tahu perjalanan kamu sampai di kota ini, jangan buang waktumu hanya untuk meratapi kepergian lelaki yang tak menghargai perasaanmu, Sayang,” suara lembut Mbak Ranti membuatku membeku di kursiku. Apa yang dikatakan wanita beranak dua itu sepenuhnya benar, aku terlalu takut membuka hatiku lagi untuk sebuah kehadiran, aku terlalu larut dalam pesona kesakitanku hingga aku seolah menutupi diri pada apa pun yang menyangkut, hati, lelaki dan cinta.

“Masalahnya Mbak, Pak Dirga itu orang berada dan juga dia terlalu muda buat aku yang tua ini.” Alasanku jelas tak masuk akal, usiaku dan Pak Dirga hanya berbeda 5 tahun saja, aku 27 tahun dan dia 22 tahun, tetapi walau usianya terbilang muda dia telah meraih gelar sarjananya beberapa bulan lalu.

“Keyla, kaya itu nggak jadi soal bila dia memang mencintaimu ditambah lagi dengan usia yang kamu bilang dia lebih muda? Hey, dia itu belajar tentang perusahaan saat dia SMU, dia tangan kanan ayahnya di PT. Beringin Putra dan Mbak melihat langsung bagaimana Dirga digembleng hingga jadi seperti saat ini, kamu ingat undangan itu? Seminggu lagi dia diangkat jadi direktur di perusahaan itu menggantikan ayahnya,” terang Mbak Ranti sembari bersidekap di depanku. Aku tak berani menatap bola mata wanita mines tersebut, aku tahu aku jelas kalah argumen dengan beliau.

“Tatap Mbak, Keyla. Mbak tahu, kamu ada perasaan kan’ sama Dirga?” cecaran Mbak Ranti membuatku kian menunduk. Hingga pada akhirnya aku pun tak dapat menahan diri lagi, aku pun terisak sembari memeras kedua jemariku. Kurasakan belaian Mbak Ranti dipundakku, aku kian terisak dan akhirnya aku memeluk tubuh Mbak Ranti dengan erat, aku berusaha menenangkan diri dari kesedihanku.

***

Seminggu berlalu setelah kejadian dimana aku menangis di ruang kantor Paman. Hubunganku dengan Pak Dirga kian tak menunjukkan perkembangan, dia seolah menjaga jarak, kepentingan catering pun sebelumnya tak harus membuat kami sering bertemu, pengambilan invoice hanya sekali sebulan, selebihnya mengenai menu dari catering pun bisa dibahas via telpon kantor.

Semua terbukti setelah pernyataan Dirga sebelumnya padaku saat dia mengajakku jalan menyusuri daerah PKT jelang sore benar adanya, aku yang tak kunjung memberi jawaban seakan menghindar membuat Pak Dirga paham akan hal itu.

“Keyla. Hey, cepet sini!” teriakan Mbak Ranti membuatku menoleh padanya, terlihat Mbak Ranti sedang menatap layar ponselnya. Aku dengan santai menghampiri beliau.

“Apa Mbak?” tanyaku setelah berada disampingnya.

“Ini lihat, ini baru loh kejadiannya beberapa menit lalu, astaghfirullah ancurnya pang pajero nih,” celetuk Mbak Ranti sembari memperlihatkan padaku apa yang ia maksud.

Aku melongok ke arah layar ponsel Nbak Ranti.

“KT 222 DS, 222 DS … Kayaknya aku kenal plat mobil itu deh, Mbak,” cetusku sembari terus mengeja plat kendaraan yang kecelakaan di laman info kejadian kota yang Mbak Ranti lihat.

“Ckckck, pengendaranya diduga tewas malah,” imbuh Mbak Ranti lagi. Aku terdiam, sesaat mendengar ucapan beliau.

DDDRRRTTT

Ponselku bergetar dari atas meja kerjaku, aku menoleh cepat ke arah meja dan meninggalkan Mbak Ranti yang masih terus memperhatikan layar ponselnya. Aku berkernyit melihat siapa penelpon yang menghubungiku.

“PT. Beringin Putra? Tumben via telpon kantor biasanya Pak Dirga atau asistennya yang hubungi aku,” bisikku sedikit heran. Perlahan aku pun menyentuh layar untuk menerima panggilan.

“Mbak Keyla? Hallo Mbak dengan Astrid asistennya Pak Dirga. Ya Allah, Mbak buruan ke rumah sakit Siloam, mobil Pak Dirga kecelakaan barusan, ya ampun, katanya sekarat.”

Tubuhku membeku di tempat, ponselku lepas begitu saja dan menimbulkan suara gaduh, semuanya begitu cepat berputar di penglihatanku.

“Keylaaaaaaa…,” pekik Mbak Ranti yang masih sempat kudengar.

***

“Key, bangun dong, kamu tuh bikin Mbak panik,” suara Mbak Ranti samar-samar terdengar di kupingku, khas aroma minyak kayu putih pun menyengat oleh penciumanku. Aku mengerjapkan mata, wajah Mbak Ranti terpampang jelas akhirnya.

“Mbak, aku di mana?” tubuhku kurasakan sangat berat untuk kuajak bangkit. Mbak Ranti menahan niatku, akhirnya aku kembali pasrah meletakkan kepalaku di atas bantal dan memejam mata. “Pak Dirga…,” kusebut nama itu dibatinku.

“Key, udah baikan?” ada suara lain menegurku, spontan aku membuka mataku. Dia di sana, di samping Mbak Ratih berdiri dengan wajah khawatir. Bola mataku membulat. “Pak Dirga?”

“Selesaiin urusan kalian, Mbak keluar dulu,” pamit Mbak Ranti setelah mengedipkan matanya padaku. Aku melengos malu.

“Aku nggak apa-apa, Key. Tadi, Pak Ridwan supirnya ayah yang nyetirin mobilku, aku nggak ikut soalnya aku siap-siap untuk berangkat ke Australia besok malam, Pak Ridwan nabrak pembatas jalan, tapi syukurlah keadaan beliau udah baikan, aku barusan dari sana donorin darah,” jelas Pak Dirga, tatapan matanya serasa menembus jantungku tepat. Aku memberanikan diri untuk terus menatapnya.

“Aku nunggu kamu bicara, Keyla. Aku serius pengen dekat sama kamu, kepergianku ke Austalia sebenarnya pengen lanjutin S2-ku, tetapi akan lebih berarti bila jawaban kamu …”

“Aku mau Ga, aku mau jadi kekasih kamu,” jawabku cepat tanpa memutuskan kontak mata dengan pemuda jangkung dan berkulit agak sedikit gelap itu.

“Key, kamu serius?” tanyanya sedikit kaget. Aku kembali mengangguk. Kulihat dia mengepalkan tinjunya ke atas dan berdecak yess lalu meraih jemariku. Ia menatapku.

“Aku sayang kamu, Keyla,” bisiknya sembari terus menatapku. Aku mengangguk lalu tersipu malu. Mbak Ranti mengetuk pintu membuat kami berdua serentak menoleh dan tersenyum ke arah beliau. Aku mengangguk padanya, Mbak Rasti mengangkat jarinya meng OK kan anggukanku lalu tertawa puas.

“Selamat tinggal masa lalu,” gumamku kemudian.

CELEBES, 140219

10 KOMENTAR

  1. Daritadi baca tulisanmu inget penyanyi aja aku wahaha.

    ‘Selamat tinggal masa lalu…aku kan melangkah..’ ~Five Minutes
    😌hadew

    Itu dialog percakapan di pertengahan, si mbaknya Keyla gak Typo kan?

    “Ayolah Dik. Ini udah tahun ke-6 loh.”
    🏃