https://pixabay.com/users/jarmoluk-143740/

Saya bukan dokter atau ahli medis. Tapi saya tertarik membahas masalah kesehatan yang menjadi permasalahan utama di Indonesia. Terutama masalah dana bantuan pemerintah dalam bidang kesehatan yang dikabarkan mengalami keterlambatan pembayaran klaim BPJS. Sepertinya perlu kita telisik latar belakang masalah dari kacamata kesehatan itu sendiri.

Penyakit dari kacamata medis dapat dikategorikan dalam tiga jenis yaitu penyakit infeksi, penyakit menular, dan penyakit belum teratasi. Di Indonesia sudah memasuki fase darurat ketergantungan obat. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan pemerintah dalam pembelanjaan obat sebasar 11 Triliun. Dari menjamurnya perusahaan farmasi di Indonesia, sekitar 60% berasal dari luar negeri. Sangat miris padahal sudah lebih dari 70 tahun negara kita merdeka. Tapi masih ada saja alasan kita masih harus mengimpor segala produk dari luar. Kita kesampingkan dulu alasan kualitas karena tidak fair membandingkan jika kita tidak mencobanya secara langsung. Dirujuk dari Kitab Klasik Islam, di dalamnya terdapat panduan bagaimana seharusnya negara melayani umat. Negara sebaiknya bisa menyediakan berbagai pelayanan segala bidang secara swasembada dan independen.

Dalam pengembangan badan usaha pelayanan kesehatan baik swasta maupun pemerintah, kontribusi obat lebih besar berperan dalam main business mereka. Obat mengintervensi sebesar 60% dan sisanya adalah tindakan medis dan jasa. Jadi bisa dibayangkan betapa banyak jenis obat dan merk yang masuk jika yang mendominasi adalah produk dari luar. Sebagai contoh obat dengan kandungan Paracetamol kita terbuat dari Bensen. Bensen diekspor ke luar negeri lalu membeli lagi dengan harga mahal. Padahal kita punya sumber daya alam yang sangat luas dan banyak. Hanya saja sumber daya manusia kita yang terlalu lemah untuk mengolahnya.

Kapitalisasi kesehatan khususnya dalam bidang farmasi seharusnya bisa diperangi jika pemerintah berkomitmen secara tegas tentunya dengan aturan resmi, untuk mengutamakan pasokan obat dari dalam negeri. Dengan begitu masyarakat secara otomatis akan mengikuti aturan tersebut dan berupaya mendukung dalam peningkatan kesejahteraan rakyat.

Namun alangkah baiknya sebelum penyakit itu datang sebaiknya kita perlu melakukan tindakan preventif. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Silent killer seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal menjadi sebab kematian dengan angka kematian tertinggi. Hal ini banyak dipengaruhi oleh pola hidup kita sejak usia 10 tahun. Jangka panjangnya akan berakibat pada tubuh manusia mulai usia 30 tahun.

Untuk itu semestinya kita kembali memperbaiki pola hidup dan melakukan pencegahan dengan mencari bahan-bahan natural dari alam, serta tidak mebiasakan mengkonsumsi obat berbahan kimia. Karena pasti ada efek samping dalam penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama. Seperti penggunaan antibiotik menimbulkan efek samping penipisan dinding lambung dan gangguan pendengaran. Konsumsi obat diabetes akan menimbulkan efek samping melemahkan katup testis.

Pada bulan Ramadhan ini mungkin dapat dimanfaatkan untuk membenahi pola hidup kita yang kurang sehat. Berpuasa akan mendetoks zat-zat berbahaya yang mengendap ditubuh. Dengan meneladani pola hidup dan kesehatan ala Rasulullah, semoga bisa bermanfaat dalam mencegah penyakit yang tidak diinginkan.

8 KOMENTAR

  1. Setuju Kak Say. Di sekitar saya sendiri, keluarga kalo sakit, dikit-dikit maunya minum obat. 😢

    Padahal ketergantungan obat ituuu gak baik. Apalagi kalo tanpa resep dokter. Tinggal beli di warung. Kadang gatau alergi apa enggak sama suatu obat. Ujung-ujungnya, malah jadi sakit parah 😢 ckckck