Sumber Gambar : Dok. Pribadi LIP/ Foto Bareng Keluarga Besar LIP

Hai Goodwriters. Tepatnya Ahad, 31 Maret 2019 lalu, saya menghadiri sebuah acara keren dari sebuah komunitas luar biasa di Medan yaitu Komunitas Layar Indie Project. Nama acaranya adalah Event Screening-4. Ini kali keempat acara sama dilakukan setiap akhir bulan oleh mereka.

Rencananya hari itu juga saya mau mengajak ngobrol langsung salah satu dari mereka untuk bertanya-tanya soal komunitas ini. Tapi karena suasana yang dirasa belum tepat dan masih ragu untuk meminta kesediaan waktu ngobrol  mereka, akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan via whatsapp saja dan alhamdulillah mereka sangat welcome.

Bang Robby Saputra selaku penggagas dan programmer di LIP merangkum jawaban dari 10 pertanyaan saya ke dalam sebuah rekaman wawancara seru, lengkap dengan backsound-nya yang mellow sempat membuat saya terhanyut ke dalam mimpi hingga harus beberapa kali fokus mendengar lagi. Okeh, untuk yang terakhir intermezzo saja. Soalnya dengerinnya di waktu-waktu jam tidur.

Komunitas yang awalnya digagas oleh dua anak Medan yang keren ini– abangda Robby Sahputra dan kakanda Ibie Loco, ternyata sudah setahun berjalan dan baru saja merayakan ulang tahunnya loh kemarin pada tanggal 31 Maret 2019 tepatnya satu hari setelah Hari Film Nasional. Saya termasuk beruntung bisa ikut menyaksikan celebration 5 menit-nya. Rasanya seperti ikut juga melewati bagaimana tepat setahun lalu komunitas ini dibentuk. Hehe.

Layar Indie project atau disingkat LIP ini adalah komunitas yang dibentuk sebagai wadah alternatif distribusi film-film indie khususnya karya anak Medan. Berawal dari keresahan yang sama yaitu tidak adanya wadah alternatif untuk memutar film-film indie di kota Medan seperti hal-nya di daerah pulau Jawa sana, mereka berdua pun berpikiran menggagas ide tersebut.

Sumber Gambar : Dok. Pribadi LIP / Bang Robby lagi talking-talking di Event Screening-4

Adapun pada saat itu juga ternyata seorang lagi bernama bang Wari Al Kahfi sedang mengumpulkan database film-film indie dari berbagai komunitas. Akhirnya seperti hal gayung bersambut, takdir pun juga ikut menyambut hingga terbentuklah komunitas ini. Singkat cerita, Warung Wak Jenggot pun jadi saksi bisu pertemuan mereka.

Menariknya, LIP ini terdiri dari 5 komunitas film-maker Medan yaitu YPS Studios Pictures, P6 Films, KFP, Enterpena, Takasinema yang memiliki keresahan sekaligus impian yang sama untuk mewujudkan harapan bisa terbentuknya wadah penayangan atau pemutaran karya-karya mereka yang selama ini sebatas hanya dinikmati kalangan komunitas itu sendiri.

Ini sebuah gebrakan baru di kota Medan dan LIP berhasil sebagai pionirnya. LIP hadir menyediakan wadah apresiasi untuk karya-karya luar biasa dari Komunitas film di Medan sehingga secara otomatis menjadi seperti angin segar pembangkit semangat berkarya bagi tiap komunitas untuk berlomba terus melahirkan karya-karya yang lebih baik lagi.

Sumber gambar : Dok. Pribadi LIP/ Sesi diskusi langsung dengan para film-maker di Event Screening-4

Karena pendistribusian karya mereka sudah lebih luas ke masyarakat melalui LIP, diharapkan juga karyanya tidak hanya menarik tapi bisa memberi feedback yang lebih bermanfaat lagi ke penonton, tanpa meninggalkan unsur-unsur seperti idealisme, kemerdekaan berkarya dan ekspresi tanpa batas yang sering digaungkan pejuang-pejuang indie selama ini. Peer besar namun tetap harus yakin. Pejuang Indie bisa!

Sumber gambar : Dok. pribadi LIP/ Bioskop Indie LIP di  Event Screening-4

Awalnya ada 2 rekomendasi nama untuk komunitas ini dari kak Ibi yaitu LATIN (Layar Tancap Indie) dan yang kedua LIP (Layar Indie Project). Hingga terpilihlah nama yang terakhir yaitu Layar Indie Project dengan mottoDiskusi, Eksibisi dan Kolaborasi.” Ya, membaca ‘kolaborasi’ jadi ingat tagline-nya Penakata. Sepertinya kita jodoh nih soalnya sama-sama syuka kolaborasi. Eeak.

Setahun keberjalanannya, Layar Indie Project sudah memiliki tiga jenis kegiatan keren.

Pertama, seperti yang saya ikutin akhir bulan maret kemarin yaitu Pemutaran Film atau Event Screening, ya mirip-mirip bioskop mini ala-ala Indie gitu deh. Nonton film sekalian juga ada sesi diskusi langsung ke komunitas film-makernya. Meski kegiatan ini berbayar sama halnya ketika kita menonton di bioskop, tapi LIP mengatakan tidak mengambil keuntungan pribadi apapun dari biaya tersebut. Riil dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan LIP saja.

Kedua, yaitu Sharing Session, 2 Jam Lebih Dekat. Kali ini tidak ada pemutaran film tapi tiap komunitas diajak untuk mau berdiskusi tentang teknis seperti pembuatan naskah, proses editing, musik, seni peran dan yang terpenting penyamaan suhu atau warna film. Karena ternyata film Medan sendiri belum memiliki ciri khas atau identitas seperti film-film dari Jogja, Bandung dan lainnya. Jadi sangat diharapkan melalui kegiatan tersebut di LIP, film-film Indie dari Medan akhirnya bisa memiliki standart untuk layak ditayangkan di luar kota.

Ketiga lebih menarik nih, yaitu BIOLING. Bioskop Keliling. LIP sedang berkolaborasi dengan komunitas Film Taman dalam memanfaatkan mobil yang disumbangkan ke Taman Budaya untuk digunakan sebagai fasilisator bioskop keliling yang akan dilaksanakan rutin ke depannya dengan jadwal yang ditentukan. Kegiatan ini sudah berjalan satu kali di tanggal 30 maret lalu. Wah, LIP semakin berkembang terus ya. Keren.

Setiap langkah pasti selalu memiliki kemudahan maupun kendala. Nah, LIP juga tak luput dari berbagai kendala, seperti masih ada beberapa komunitas yang ragu dan tidak percaya diri menayangkan filmnya untuk ditonton khalayak umum. Termasuk sulitnya meyakinkan komunitas film-maker untuk mempercayakan pengarsipan file-file filmya pada pihak LIP. Masyarakat Medan yang masih ogah-ogahan nonton film indie pun salah satu kendala juga.

Hal-hal semacam itu masih sering dialami. Walaupun begitu, kepercayaan itu pasti akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Asalkan LIP mampu mematahkan keraguan itu sekaligus mengusahakan kekredibelan komunitas dengan terus membentuk LIP menjadi komunitas resmi yang dapat diandalkan.

Kerennya, LIP sudah mengambil tindakan untuk hal ini yaitu sedang terus berproses kesana dengan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terpercaya agar mendapatkan dukungan untuk menyakinkan 40 Komunitas film-maker yang terdata di Medan agar mau ikut berpartisipasi mewujudkan impian bersama seperti lima komunitas tadi. Mengubah kendala sebagai tantangan mungkin asyik juga ya.

Harapan kedepan LIP setelah hari jadinya kemarin adalah semoga di tahun kedua, ketiga dan selanjutnya sudah memiliki gedung sendiri untuk ruang putar film. Memiliki 1000 massa pengapresiasi. Begitu juga untuk internalnya, semoga para Volunteer semakin solid dan tidak berhenti berjuang walau berada di komunitas ini tanpa bayaran bahkan malah sering nombokki. (Sabar ya. Semua ada masanya. Kalian sudah luar biasa). Satu lagi harapan yang terpenting adalah respon masyarakat semoga semakin bagus dan semakin peduli dalam mendukung penuh pergerakan ini.

Oh ya, ada beberapa pergerakan baru yang akan dilakukan LIP salah satunya yaitu mengajak komunitas-komunitas lain seperti anak motor, anak musik, teater (bahkan mungkin anak-anak penulis seperti di penakata barangkali. Hehe) untuk ikut berkolaborasi bersama komunitas Layar Indie Project.

Yuk, mulai sekarang kepoin medial sosial Layar Indie Project. Admin dan orang-orang di dalamnya sangat ramah dan terbuka (IG: layar_indieproject).

Satu lagi, LIP memiliki harapan untuk ke depan bisa terealisasikan rencana pelaksanaan festival film indie di Medan. Kalau semakin banyak para komunitas film-maker mempercayakan karyanya pada LIP dan massa pengapresiasi mencapai 1000-an orang maka kemungkinan besar festival tersebut akan dilaksanakan. Aamiin.

Sebenernya ada beberapa lagi hal yang belum saya bahas di sini mengingat ada 10 pertanyaan yang saya ajukan. Tapi insyaAllah di tulisan selanjutnya akan dibahas lebih spesifik lagi. Kepanjangan juga ngantuk bacanya kan?

Terakhir, mengutip kata-kata bang Robby diakhir rekaman :

“Kalau kita jalan sendiri-sendiri, kita tidak akan dilihat orang,  tapi kalau ramai-ramai orang akan melihat kita dan segala sesuatu harus dimulai dari hal yang kecil.”

Bener banget apa kata beliau. Karena berjuang sendiri itu lebih berat dari rindu ye kan? Dan sehebat apapun diri ini, kita tetaplah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain walau hanya untuk menerima senyuman kita.

Lalu kalau bukan kita sendiri yang memulai? Siapa lagi?

Yups, Layar Indie Project sudah membuktikan. Penakata? Syemangat ya.

Terima kasih. Salam hangat dari Sundari Mueeza. Salam Layar, Salam Literasi, Salam Kolaborasi untuk kita semua.

Cat: Foto udah izin Mimin LIP ya

13 KOMENTAR

    • 😂😂😂 Ngakak aku baca komen kamu, Bon. Peka banget sih kamu? Wakakak, ikutan dong bahas film indie. Bahas film juga kamu. Eh, jangan deng. Ciptakanlah ciri khasmu sendiri, Bon. Jadi yang pertama bahas apa kek.😝😜

      * Teringat workshop Semarang, apa kabar workshop Medan? Duh, masa lalu yang ingin aku hapus dari ingatan tuh. Gaduh banget Pm saat itu. 😎😎

      *Tergelitik buka Penakata dan lihat komen Ibbon, gatal deh jari nih. Wakakak.
      Eits, aku sudah baca loh. 😉

      • Aku juga tergelitik kak dengan komenmu. Sampai makan rujak kuhentikan dulu. Hahaa. Selanjutnya tunggu wisata kulinerku ya. Rujak kolam Medan. 😂😊

        Tiketnya udah kubeli sebulan yang lalu. Di Medan aku keliling komunitas untuk memperkenalkan sambil berusaha mengkolaborasikannya pada penakata.

        Salah satunya ke komunitas LIP ini dan sebelumnya ada blogger Medan. Selanjutnya aku mau ke doodle Medan dan Digidoy comic medan. Wahaha. Senang syekali keliling komunitas Medan. Ternyata banyak. Cuma kurang terekspos aja. Pas pula kemarin baru hari film nasional. Wajar dong topik film masih hangat diperbincangkan. Jadi maaf ya kalau ternyata takdir membuat semarang-medan kompak ngomongi film indie. Aku juga gak tau. Yang penting kami berdua sudah bahas jauh-jauh soal LIP ini juga korelasi komunitas dan penakata.

        Yuk berkarya. Ciptakan ciri khas sendiri. Di saat semua nulis puisi, mungkin kita bisa nulis cerpen, disaat banyak tulis cerpen, kita bisa nulis essai.

        Tapi yang terpenting jangan berhenti belajar dan tetap menulis walau masih di catatan hp. 😊

        Maret bulan puisi, maret bulan film. Bulannya orang2 hebat juga.

        Syemangat berkolaborasi
        💛💛

        Oh ya, workshop medan tenggelam bersama tenggelamnya kapal PM. Ya legowo saja deh kak. 😊🙏

  1. Aku udah baca tapi baru komen. Wkwk

    Kerennnn 👏👏

    Tetap semangat LIP. Semoga semua cita-citamu tercapai.

    Selalu ada cerita indah dan pelajaran di balik tiap pertemuan. Semangat untuk terus bermanfaat. Semangat merangkul siapa saja. Semangat berkolaborasi, dan semangat menggapai mimpi.

    Semangat Kak Muza dan Penakata. Semangat kita semua 🔥🔥🔥

  2. Wah.. iya.. aku baru ingat kalau kmren itu aq ada undangan nonton film pas hari Film Nasional ini… ada banyak komunitas Film (gambar bergerak) yang hadir. Sayangnya.. aq gak bisa ikutan karena jadwalnya tabrakan. Untungnya cuma lecet doang.. dan cuma dikirimin foto2 keseruannya yang bikin aku mau nangis guling2 karena aku nggal dateng ke acara mereka.
    Di sini ada penerbit Indie namanya Heart&Soul yang kebetulan juga memproduksi film indie hari kmren itu. Iih… rasanya sebel banget kan kalo temen2 komunitas ngumpul dan kita nggak bisa hadir. Karena nikmat kebersamaan itu yang susah banget kita dapetin.
    Coba kalo aq hadir di sana.. bisa kali ya kita kompakan. Secara… antara dumay dan duta kan harus imbang… nggak mungkin juga aq habisin waktuku di dumay mulu. Ada kisah2 di dunia nyata yang jauh lebih seruuuu…!!!
    Aku mulai suka dengan kegiatanmu keliling komunitas. Mumpung masih muda, bisa ngilmu ke mana aja..
    Aq kalo komunitas2 gitu seneng banget gabung bareng mereka…mulai dari komunitas blogger, seniman, sampe ibu2 guru. Walau otak pas-pasan.. yang penting bisa punya banyak teman dan pengalaman baru. Itu seru banget!!!
    Huft.. sepertinya aku menyesal karena nggak hadir di acara Hari Film Nasional kemarin itu… 😔