Pixabay/Alexas_Fotos

Mengungkit luka yang terpendam sama dengan merasakan kembali sakit yang sama

Tidak ada yang berubah. Bagi Naf, Papa dahulu dan sekarang masih tetap Papa yang selalu ada untuknya. Pada saat senang, bahagia, pun saat terburuk dalam hidupnya. Ketika ia menitikkan air mata karena kecewa, menangis karena terluka, juga tertawa. Papa selalu ada bersamanya.

Sampai sekarang, Naf tidak mengerti, sepuluh tahun telah berlalu, Papa masih setia memeluk kenangan tentang Mama. Papa setia dengan kesendiriannya. Dulu, Naf tidak pernah suka bila ada perempuan lain mendekati Papa. Ia selalu dihantui rasa takut Papa akan mengabaikannya, tidak peduli, dan sayang lagi. Apalagi bayangan tentang sosok ibu tiri yang jahat dan kejam memenuhi ruang di kepalanya. Kepergian Mama sudah cukup menorehkan luka batin dalam hidupnya. Jadi, ia tidak mau bila harus kehilangan Papa.

Namun, perasaan itu tumbuh karena ia terlalu kecil untuk memahami dan mengerti, bahwa kesepian seperti sebilah pisau berujung runcing yang menusuk jantung. Meninggalkan nyeri yang teramat sangat.

Menatap Papa dengan lipatan halus yang mulai terlukis samar di wajahnya, selalu membuat mata dan hati Naf menghangat. Menyadari betapa selama ini hari-hari Papa hanya seputar kantor dan rumah; pekerjaan dan Naf. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya, apa Papa merasa kesepian atau bersedih? Atau terlalu letih mengurusi seorang Naftali?

Bukan, bukan karena Naf tidak suka Papa selalu memperhatikannya, melakukan hal-hal kecil yang kerap membuat perasaannya meluap. Naf hanya merasa tidak enak hati. Begitu besar kepedulian Papa akan perasaan dan kebahagiaannya, tapi pernahkah terlintas di pikirannya bagaimana perasaan Papa? Apa Papa selama ini bahagia? Apa Papa melewatkan harinya dengan baik? Pertanyaan itu berseliweran di kepala Naf; membuat perasaannya sesak oleh rasa bersalah. Setelah sekian lama–Naf baru menyadari–selama ini ia hidup dengan nyaman. Penuh limpahan kasih dan sarat perhatian.

“Papa sering ingat Mama?” Naf kerap melontarkan pertanyaan itu. Naf selalu mendapati raut wajah Papa seketika berubah. Naf tahu, mengungkit luka yang terpendam, sama dengan merasakan kembali sakit yang sama. Namun, Naf tak kuasa untuk tidak melontarkan pertanyaan itu.

“Selalu,” Papa menyahut dengan pijar hidup di matanya.

Sesaat, Naf merasa bersalah dan tidak punya hati, menyerang Papa dengan pembicaraan yang membangkitkan kenangan. Kenangan yang melayang-layang; berputar di kepala. Mungkin, buat Papa waktu seakan membeku. Sementara kenangan Naf tentang Mama, mungkin tak sekuat Papa. Kepergian Mama mungkin tak membekas dalam di hatinya. Bagi Papa, mungkin terlalu menyakitkan. Karena sesungguhnya, waktu tidak bisa mengobati luka, hanya membiasakan kita hidup dengan luka itu.

Terlalu egois bila ia menguasai ruang di hati Papa. Papa pun pasti ingin membagi ruang di hatinya dengan orang lain. Untuk perempuan lain. Kesadaran itu menyergapnya saat kesendirian, kesunyian, dan gundah datang menggigit, ia selalu menghadirkan sosok seseorang untuk menghangatkan hatinya agar tenang. Sosok yang kerap mengukir alam lamunannya. Sosok dengan tatapan sehangat fajar pagi.

“Sekuat apa pun keinginan Papa melupakan Mama, sekuat itu pula bayangnya menguasai setiap langkah Papa,” lanjut Papa disertai seulas senyum samar di sudut bibir serta mata yang mulai berkaca.

Kali ini, Naf merasa kehilangan kata-kata. Cowok dengan tatapan sehangat fajar pagi, kembali melintas utuh di matanya. Naf mendesah. Begitu sulit mengusir dia dari kepalanya. Yang menyesakkan dadanya, akhir-akhir ini sikapnya sangat menyebalkan. Membuatnya bingung dan gelisah.

“Dulu, menyadari Mama tidak akan pernah kembali, rasanya seperti hidup tanpa udara,” suara Papa dalam, nyaris tak terdengar.

“Tapi, tangisan dan tawamu menyadarkan Papa. Kamu adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan Papa. Bodoh bila Papa terus terpuruk dalam kesedihan. Papa berjanji pada diri sendiri akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu. Yang terbaik buatmu.”

Naf mengerjap, mengusir uap panas yang menyerang matanya. Dadanya berdesir, seiring rasa hangat yang membungkus hati. Ah, betapa membahagiakannya menjadi pusat semesta seseorang! Menjadi satu-satunya orang yang ada di hati dan pikirannya. Seperti Mama di hati Papa.

“Papa, Naf tidak keberatan, kok bila punya mama baru,” Naf berujar hati-hati.

Ada lengkung senyum di bibir Papa, tapi tak satu kata pun terucap.

“Papa, sekarang Naf sudah besar. Naf bisa mengurus diri sendiri. Selama ini Papa selalu ada untuk Naf, melakukan yang terbaik untuk Naf. Sudah saatnya Papa memikirkan kebahagiaan Papa juga. Seperti kata Papa, bahagia tidak datang sendiri bila tidak kita cari, ‘kan?”

Papa tertawa tanpa suara sembari mengacak rambut Naf.

“Boleh, ‘kan Papa memilih setia dengan perasaan Papa?”

Naf membeku, kelu. Hanya keheningan yang memenuhi udara. Naf menyadari, perasaan yang mengikat Papa dengan Mama tidak mudah terurai bersama waktu karena Papa memilih menutup hatinya untuk perempuan lain.

“Papa jadi cemas, waktumu bersama Papa tidak lama lagi,” suara Papa menyeruak keheningan.

“Maksud Papa?” Naf menatap lekat Papa dengan alis hampir bertaut.

“Siapa pun yang menggeser Papa dari hati dan hidupmu, saat itu pasti tiba juga,” Papa mengerling.

Naf membeliak.

“Idih, Papa! Naf masih kecil, Pa. Tujuh belas tahun juga belum. Bila perlu, Naf akan menemani Papa selamanya.”

“Lalu Male?” Papa menatap lekat wajah Naf.

“Hah, Male?!”

“Iya. Tidak punya arti apa-apa, ya buatmu?”

Naf tak mampu berujar. Terlalu sibuk meredam ombak kecil di dada. Pertanyaan Papa menohok relung hatinya yang terdalam. Mengusik perasaan dan alam bawah sadarnya.

“Akhir-akhir ini dia aneh dan menyebalkan, Pa. Selalu menghindari Naf dan ketus,” papar Naf dengan raut kesal.

“Mungkin kamu telah melukai perasaannya,” tuding Papa dengan senyum dikulum. Ada kilat menggoda yang tertangkap mata Naf, namun Naf terlalu sibuk dengan pikirannya.

“Aku tidak mengerti Papa,” ungkap Naf di kantin sekolah siang itu.

“Aneh. Seharusnya kamu senang tidak perlu berebut perhatian dan sayang dengan perempuan lain,” Male berujar, jemu. Setiap kali bertemu, Naf selalu saja curhat tentang keinginannya memiliki mama baru.

“Aku heran ….”

“Aku yang lebih heran, bahkan tidak mengerti. Kamu selalu saja bicara tentang perasaan orang lain sementara perasaanmu sendiri apa kamu tahu?” tukas Male dengan nada sedikit ketus.

“Maksudmu?”

“Makanya, kamu pikirin deh. Sebentar lagi kamu mau tujuh belas tahun.”

“Apa hubungannya?”

“Sudah saatnya kamu pun membuka hatimu untuk seseorang. Papamu pun pasti ingin melihatmu bahagia menjalani masa remajamu. Berlaku seperti gadis-gadis sebayamu.”

“Untuk apa ada kamu?” tangkis Naf, lugu.

Male tertawa sengau.

“Kamu tahu? Kamu gadis paling bodoh yang pernah kukenal?” kecamnya, lalu meninggalkan Naf yang kebingunan dengan sikapnya akhir-akhir ini.

Itulah percakapan terakhirnya dengan Male. Setelah itu, Male selalu berusaha menghindarinya. Bersikap dingin dan tak peduli. Menanggapi kata-katanya tanpa bicara, bahkan tanpa reaksi. Sejak itu, Naf merasa ada yang lepas dari jiwanya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Naf menghindari kontak mata dengan Male. Naf terlalu sibuk mengatur degup di dada. Selama ini ia terlalu naif hingga tidak menyadari waktu membuat semuanya menjadi mungkin.

Masih tatapan yang sama. Tatapan yang sejak awal pertemanan mereka begitu ia sukai dan melekat kuat di benaknya. Hangat, seperti fajar pagi. Jujur, Naf sangat menyukainya. Sejak dulu. Selalu. Apa pun perasaan itu. Naf selalu merasa nyaman dan bahagia karena dia. Karena berada di dekatnya. Menatap pijar hidup di matanya.

Mungkin–hari depan tidak ada yang tahu–Male bukan cowok satu-satunya dalam hidup Naf. Namun, saat ini, Male-lah yang selalu ada untuknya. Delapan tahun tumbuh bersamanya, menjadi bagian dari hari-harinya, membuat Naf sulit untuk lepas darinya. Konyol bila menyalahkan perasaan yang tumbuh diam-diam seiring waktu dan mengakar di hati. Tidak ada yang memahaminya sebaik Male. Tidak juga Papa. Ada hal-hal yang hanya bisa ia bagi dengan Male. Setelah Naf mengenalnya lebih dari siapa pun.

“Hai, aku minta maaf telah merecokimu dengan masalahku,” Naf berujar pelan, memilih duduk di samping Male. Hal yang tidak pernah ia lakukan.

Tidak ada jawaban. Hanya desahan napas Male yang tertangkap telinga Naf. Selanjutnya, hanya keheningan yang memenuhi udara. Dengan ekor matanya, Naf melirik lelaki terdekat yang ia miliki sepanjang usianya. Tentu saja selain Papa.

Male memiliki alis lebat yang menaungi mata gelapnya, batang hidung yang kuat, rahang yang tegas dengan bibir yang selalu terkatup rapat. Namun, Naf tahu, Male memiliki senyum dan tatapan yang hangat serta kekuatan hati, kekuatan mengasihi. Sosok yang biasa, namun mampu membuat perasaannya menjadi luar biasa. Alangkah beruntung gadis yang memilikinya! Pikiran itu menyeruak alam bawah sadarnya. Selanjutnya, ada aliran hangat menyapu wajahnya seiring degup jantung tak beraturan. Sesaat kemudian Naf menyadari, hanya ia yang bisa mengisi keheningan ini.

“Maleakhi, aku …. Aku mohon, jangan lakukan itu padaku. Membalikkan badan dan menghindariku,” suara Naf pelan, menyimpan getar.

Ada jeda sesaat sampai akhirnya cowok itu mengubah posisi duduknya, lalu menatap lekat wajah Naf.

“Sekarang kamu tahu ‘kan, orang yang paling menyakiti kita adalah orang yag paling dekat dengan kita? Aku pun menyesal telah melakukannya. Maaf,” Male berhenti sejenak, melirik ke arah Naf seiring senyum kecil di sudut bibir. Sesungguhnya, ia pun tidak ingin bersikap ketus dan dingin pada Naf, namun sulit sekali mengendalikan perasaannya. Mungkin, ada hal-hal yang lebih baik tidak dikatakan. Tetap tersimpan di hati.

“Aku baru sadar dan buatku ini konyol, aku tidak punya kekuatan untuk menjauh darimu.” Male menyeringai nakal ke arah Naf.

Naf tak mampu berujar. Terkesima. Terlalu mengejutkan mendengar kalimat ajaib itu keluar dari mulut Male. Naf tak kuasa untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu seiring perasaan hangat yang menyelimuti hati. Sekarang, Naf mengerti, bahkan memahami perasaan Papa. Mungkin, seperti perasaan yang mengikatnya dengan Male.

“Kamu tidak sedang menggodaku, ‘kan? Apalagi merayuku?” Naf mencoba menyembunyikan gugup. Ia terlalu malu mengakui perasaannya yang meluap karena menyukai Male.

“Kamu pikir aku mau dibunuh Papamu? Aku baru mau tujuh belas tahun, Non. Perlu waktu sepuluh tahun agar aku bisa jadi eksmud sukses. Lagi pula, aku cowok baik-baik. Orang tua mana yang akan menolakku?”

Naf mencibir; menyimpan rapat perasaan kecewanya. Sama seperti Papa mencintai Mama, ia pun berharap lipatan waktu tidak akan mengurai ikatan di antara mereka. Apa pun perasaan itu nantinya. Karena berpura-pura tidak mencintai Maleakhi–seperti kata Papa–sama dengan hidup tanpa udara.

Menatap Papa dengan lipatan halus yang terlukis jelas di wajahnya, bahkan semakin bertambah, membuat mata dan hati Naf selalu menghangat. Buat Naf, Papa setahun kemarin dan sekarang jauh berubah. Lelaki terkasih yang tidak menuntut kesempurnaan darinya dan tidak pernah bisa berhenti memikirkan dan mencintainya. Bahkan, sepanjang hidupnya hanya dirinya dan Mama yang ada di hati dan ingatan Papa.

Papa, dengan kabut di matanya. Dengan kesepian dan kerinduannya yang mengundang duka yang sangat terasa di setiap helai bulu mata. Kesepian yang menggerogoti dan melumpuhkan semangat hidup–tanpa Papa sadari–membuat Naf berharap waktu bisa diputar kembali. Banyak hal yang ingin ia lakukan untuk Papa. Andai….

Bila Tuhan izinkan–Naf memohon–Tuhan berbaik hati mengirimkan seorang malaikat untuk Papa. Membuka hati Papa. Seperti ia memilih membuka hatinya untuk Male. Setahun lalu. Karena Naf tidak ingin melihat Papa melewati masa tuanya sendiri. Hidup dalam kenangan. Kenangan tentang Mama dan dirinya.

“Om Yafet, jadi ziarah ke makam Tante dan Naf?”

Mata lelaki yang tetap setia memeluk kenangan itu mengerjap, seiring bayang bening yang pecah di sudut mata.

“Tentu saja, Male.”(alp)

5 KOMENTAR