Sumber gambar pixabay.com/janeke88

Tanda-tanda sudah sering diisyaratkan. Bahkan dia juga tidak segan untuk berkata dengan keras dan kasar. Tidak perduli kalian menyadari atau meremehkan. Tanda itu akan tetap menjadi nilai pasti — yes or no, true or false.

Izinkan saya membahas pengetahuan terlebih dahulu. Manakala itu sebagai dasar manusia dalam mengambil suatu keputusan. Menurut Wikipedia, “Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal.”

Gejala dengan arti tanda yang tertangkap oleh indera manusia. Contoh sederhana adalah pernyataan bahwa kopi itu pahit. Bagi orang yang sudah membuktikan minum kopi tanpa gula, tentunya dia akan meng-iyakan bahwa kopi itu pahit. Pengetahuan juga bisa didapat dengan membenarkan pernyataan orang lain meski tanpa membuktikan.

Perkembangan pemikiran yang mendasari pengetahuan manusia pastinya berlangsung secara bertahap. Menurut Comte pemikiran itu dibagi menjadi 3 zaman, yaitu: zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah. Pada zaman teologis manusia menyakini bahwa di tiap kejadian tersirat suatu pernyataan kehendak yang khusus. Mengarahkan pada sebab pertama dan tujuan terakhir segala sesuatu. Bisa jadi, buah jatuh dari pohon adalah kehendak mutlak dan hukum pasti dari sebab pertama yaitu Tuhan.

Zaman metafisika hanyalah mewujudkan suatu gejala dari zaman teologis. Kekuatan yang adikodrati diwujudkan dalam pengada-pengada yang bersifat lahiriah. Bisa jadi tempat-tempat yang disakralkan adalah perwujudan tersebut. Dewi Sri yang diyakini sebagai dewi kesuburan yang memberikan panen masih bisa kita temui di masyarakat petani Indonesia saat ini.

Zaman ilmiah memulai untuk melihat suatu gejala adalah objek material yang bisa dikaji. Tidak lagi menyandarkan pada sebab yang mutlak tapi mencari dan mempelajari sebagai nilai awal pengetahuan. Tidak lagi ada pernyataan “pokok men” atau “ora ilok“. Harus mampu menjelaskan secara ilmiah dan logis.

Pada mulanya semua gejala dikuasai oleh teologi. Gejala adalah tanda mutlak dan menyakininya tanpa mempelajarinya lebih lanjut. Meskipun begitu, bukan berarti reaksi yang terjadi tidak bisa dikaji. Buah jatuh dari pohon bisa diterjemahkan sebagai gaya tarik gravitasi bumi. Kesuburan tanah juga tidak harus menunggu Dewi Sri datang. Pastinya ilmu pertanian bisa menjawab bagaimana cara menyuburkan tanah.

Pengetahuan yang terdokumentasi dan terbukti benar secara uji coba berubah menjadi ilmu. Buah jatuh ke tanah karena gaya tarik gravitasi bumi adalah ilmu. Sehingga akan lebih mudah untuk dikembangkan dan dipelajari. Bayangkan kalau benda jatuh ke bawah adalah kehendak semesta. Tentu akan selesai dan berakhir begitu saja.

Jika gelar nabi dan rasul hanya dikeluarkan oleh Tuhan. Barangkali manusia memberikan gelar penemu, ilmuwan, dan lain sebagainya untuk penghargaan dan pertanggungjawaban. Namun hal itu tidak lantas meniadakan teologis. Menemukan berarti sudah ada dulu tapi baru disadari ada. Hukum dan ketentuan alamiah sudah wujud (ada) hanya manusia dalam perjalanan pemikirannya baru menemukan.

Ilmu adalah suatu kaidah universal dalam menentukan hukum. Sedangkan ilmu sendiri lahir dari pemikiran gejala dan tanda yang datang dari pencipta. Meskipun manusia yang menjadi tokoh tapi sutradara tidak bisa ditiadakan.

Anehnya, hukum-hukum itu bertebaran di mana pun kalian berada. Tapi masih tetap melanggar dan menerjangnya. Padahal secara religi kita bertanggung jawab pada Tuhan dan secara konstitusi kita bertanggung jawab pada negara. Berpikir ilmiah tapi tidak meresapi ilmuwan, berpikir religi tapi tidak meresapi Tuhan.

Lalu kalian sendirikah yang punya hukum untuk diri sendiri?

20 KOMENTAR

  1. Wih, lumayan mengalir, Tuan. Sudah agak lapang tuh isi kepala, ya? Wakakak, tetapi aku enggak bakalan bahas yang itu lagi ah. Tuan memang butuh waktu banyak itu bisa lebih baik dalam dua hal itu. Aku cuma mau protes satu saja karena Tuan selalu saja salah. Dalam setiap tulisan Tuan, selalu saja tidak berubah menggunakan kata ”perduli”. Yang benar “peduli”, Tuan. Ingat tanpa huruf “r”, Bang. Abang ini selau bikin aku emosi saja. Untung aku baik hati dan selalu punya banyak maaf buat sosok yang menyebalkan ini. Sejak awal kenal. Wkwkwk. πŸ˜ŽπŸ€”

    Oya, soal buah jatuh dari pohonnya, camkan itu, Bang. Sifat orang tua akan selalu menurun pada anaknya. Ah, tiba-tiba aku jadi ingat LM, Bang. Hahahaha. *ngakak so hard. πŸ˜‚πŸ˜‚

    Merdeka! Rasanya merdeka banget! πŸ‘»πŸ‘»

    Pagi, Bang. Kopi sisa semalam jangan diminum. Minta yang baru. Wkwkwk. β˜•

    • Pagi Sarapan! Saraf ini sudah mulai melemaskan jari. Yaps Peduli bukan Perduli. Peduli apa kamu? Bukan aku tak perduli.

      Buah bisa jauh dari pohonya tapi dia tidak bisa mengganti jenisnya. Pohon mangga akan tumbuh jadi pohon mangga. Sebagaimana kita menanam kebaikan akan tumbuh kebaikan dan sebaliknya.

      Kopi dan teh hijau telah terhidang di meja. Kamu selipkan juga buku novel dari luar sana. Yaps! Aku tidak ingin kita diskusi. Kita buat cerita untuk novel kita sendiri. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚