Sumber gambar pixabay.com/pixel2013

Raymond, berdiri tepat dihadapanku. Mataku menatap bola mata coklatnya. Entah kenapa untuk yang kesekian kalinya tak pernah bosan memandang. Seperti biasa dia tersenyum manis. Ah, kalau sudah begitu aku ย tertunduk malu dengan perasaan pipi yang mulai memanas.

“Dinalia, hari ini adakah puisi untukku?” Tanyanya sambil menikmati tulisanku di layar laptop.

Aku cuma mampu menjawab, dengan gelengan kepala. Seraut wajah tampan itu terlihat kecewa. Ingin rasanya mencubit hidung mancungnya terlihat menawan dengan ekspresi seperti itu. Gemes.

Tiga tahun sudah kami berteman. Walaupun berteman, tapi perhatiannya melebihi kata untuk seorang teman. Seringkali Raymond cemburu bila aku sedang berkumpul dengan penulis lelaki. Tak boleh pergi ke manapun kalau tidak ijin darinya. Saat senang atau sedih, tak segan ia memeluk dan mencium. ย Aku yang jadi bingung sendiri. Ini status apa?

Kami memiliki kesamaan. Sama-sama pernah tersakiti kekasih masing-masing. Pertemuan di kafe itu masih membekas. Aku, Dinalia tepar layaknya insan yang kehilangan percaya diri. Tunanganku dulu memutuskan untuk berpisah, sesaat sebulan sebelum pernikahan. Aku menjerit sejadi-jadinya. Tak peduli dengan pandangan pengunjung kafe yang lain. Ia pergi tanpa mempedulikan lagi. Hanya Raymond yang tidak kukenal itu merengkuh dengan kata-kata yang mampu membuatku tenang. Ia pun mengantar pulang ke rumah. Semenjak kejadian itu, Raymond pun sering datang menemui. Pertemuan demi pertemuan menyisakan benih rasa yang lebih. Namun aku terlanjur trauma. Tak mau lagi mengenal cinta, walaupun hanya sesaat. Raymond bercerita tentang kasihnya yang tak sampai. Sampai kekasihnya pun bersedia dijodohkan dengan pilihan orang tuanya.

“Ya sudahlah Dinalia, aku tak mau mengganggu hobimu,” ungkapnya sambil sibuk dengan earphone dan bersandar di punggungku. Ini momen yang sangat kusukai darinya. Kami berdiam diri dengan pikiran masing-masing, tetapi rasa hangat dari punggungnya menjalar hingga ke palung hati.

Kubuka lagi file puisi yang entah berapa banyaknya mungkin ratusan atau ribuan jumlahnya. Kulirik sebentar lelaki tampan dibelakangku, terlihat sedang menikmati suara dari smartphone. Ah, aman kalau begini. Andai ia tahu, puisi itu selalu kutulis setiap aku ingat padanya. Mungkin ia takkan kecewa lagi, tapi ya sudahlah, menyimpan dalam hati itu lebih baik. Aku takut, sangat takut memulai kisah baru. ย Biar Tuhan saja yang tahu. Menunggu siapa pendampingku kelak. Mungkin Raymond, atau lelaki lain. Entahlah ..

10 KOMENTAR