sumber: dok. pribadi

Sore hari yang syahdu di Pullens Cafe and Resto Semarang, Jumat tanggal 26 April lalu menjadi hari bersejarah bagi kami. Semua itu terekam oleh tembok putih kafe dan lukisan-lukisan indah serta lampu-lampu kecil yang menghiasi lantai dua. Kami, bersama Gmedia untuk pertama kalinya berkolaborasi dan mengadakan acara offline.

Kolaborasi adalah nyawa kami. Kolaborasi bukan lagi hal yang asing di era milenial. Persaingan akan selalu ada. Namun bersatu akan membentuk kekuatan. Kolaborasi, semata-mata bukan untuk mendompleng nama dan popularitas, tetapi untuk memperkuat kemampuan, menyatukan pemikiran, dan memperluas kebermanfaatan.

Kami adalah sebuah wadah penyatu ide-ide yang tidak hanya menyajikan kolaborasi-kolaborasi online, tapi juga offline. Place of collaboration for good thinkers, tak hanya sekadar janji manis. Kami berhasil membuktikannya dengan suatu program yang lahir dari otak hebat dan unik para pemikir.

Semangat kami terpantik untuk saling bergandengan tangan dengan GMedia. Kebetulan, GMedia pun sedang merintis program-program kolaborasi dengan berbagai komunitas.

Berdasarkan pemikiran kami dan GMedia yang bertemu sebulan lalu untuk dapat berbagi manfaat dan menginspirasi banyak orang, lahirlah sebuah konsep Meja Belajar. Nama Meja Belajar secara sekelebat muncul setelah melihat barisan meja di kafe tempat pertemuan. Selayaknya meja belajar betulan, konsep ini layak untuk diisi belajar tentang apa pun. Tentu saja, harus bermanfaat.

Selain itu, tercipta juga tagline yang tidak bercanda tapi juga tidak terlalu serius: Iki Sinau Tenan Ndes. Namun setelah mematangkan pemikiran kedua pihak, terbentuk kesepakatan bahwa kata “Ndes” dihilangkan agar lebih nyaman diucapkan. Jadilah tagline: Iki Sinau Tenan!

Nama acara dan tagline sudah ketuk palu, tapi kami masih perlu juga tema krusial untuk perdananya Meja Belajar. Lagi-lagi otak goodthinker diasah. Sepakatlah untuk membuat materi yang bisa dishare ke khalayak umum sesuai dengan kondisi kekinian, yaitu tentang membangun citra diri yang positif. Sebut saja dengan keren: Personal Branding.

Kita adalah generasi yang mau tidak mau harus menghadapi disrupsi teknologi. Di era digital begini, kemudahan mengakses internet mengapa tak kita manfaatkan untuk mem-branding diri? Ingatkah dengan brand-brand makanan atau minuman yang tagline-nya sudah terpatri di kepala para konsumen? Benda saja bisa mem-branding dirinya sendiri, mengapa kita manusia tidak bisa? Inilah saatnya show up dengan potensi yang ada di diri kita!

Mas Cino (kiri) dan Mas Sela (kanan) siap menyampaikan kisah hidup mereka

Ada dua nama trainer asal Semarang yang cocok dan sudah tak diragukan lagi soal personal branding, yaitu Mas @cinofajrin dan Mas @sela_good. Jangan dikira sharing kisah hidup mereka semudah membalikkan telapak tangan. Mereka pun diberi challenge untuk membuat bahan yang dapat dibagikan pada orang lain.

Kaget tentu saja. Trainer kok diberi PR berat yang belum pernah dilakukan sama sekali. Meski demikian, mereka tetap saja menyetujui.

Demi suksesnya acara Personal Branding Class ini, para trainer rela membuka dan mengotak-atik masa lalu mereka. Menyusun materi yang santai namun penting. Tidak hanya peserta Personal Branding Class, para trainer juga sinau tenan!

Syukurlah acara ini telah terlaksana dengan ngakak-ngikik dan lancar. Kolaborasi Penakata dan GMedia ini berhasil mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pembelajar.

Acara dimulai pukul 15.00 dengan tidak khidmat-khidmat amat. Para trainer memiliki pembawaan yang menarik, asik, dan tidak membosankan. Setelah pembukaan, Mas Cino menjadi orang pertama yang membagikan kisah hidupnya. Disusul Mas Sela.

Ini dia Mas Cino Fajrin, musisi dari Semarang

Dari 2 trainer tersebut, terdapat perbedaan perjalanan branding diri yang amat menonjol. Mas Cino yang kini terkenal sebagai seorang musisi, mencoba mencari passion dengan menelusuri perjalanan di beberapa pekerjaan dulu sampai akhirnya menemukan sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Ya, beliau menemukan passion setelah perjalanan panjang.

Mas Cino menyampaikan kisah hidupnya dengan asik

Pendidikan yang tinggi tak membuat beliau menjadi seseorang yang angkuh. Bekerja dengan hati dan sesuai dengan yang kita senangi adalah hal luar biasa.

Sementara Mas Sela, yang kini dikenal sebagai musisi dan presenter, memiliki perjalanan branding yang dari dulu langsung menerapkan passion. Beliau adalah sosok yang berani memulai dari nol dan enjoy dengan apa yang ia jalani.

Ini dia Mas Sela Good, musisi dan presenter dari Semarang

Meski sudah sukses, kerendahan hati bukan berarti tidak melekat pada beliau. Mas Sela tetap bersedia membantu siapa pun, bukan jual mahal karena namanya sudah melambung tinggi.

Mas Sela sedang berbagi kisah hidupnya di hadapan para peserta Personal Branding Class

Perbedaan perjalanan kedua trainer ini begitu kontras dan menarik untuk dipelajari. Keduanya memiliki perjalanan yang tak mudah, namun tetap asik untuk diambil esensi manfaatnya. Kisah hidup seseorang selalu memiliki hal yang hebat untuk kita pelajari, bukan?

Kembali lagi ke personal branding. Untuk membangunnya, kita perlu memahami diri sendiri dan apa kelebihan yang sekiranya dapat bermanfaat untuk orang lain. Setelah itu, kita hanya perlu mengasah potensi tersebut dan membentuk citra diri dengan memanfaatkan media sosial. Instagram, contohnya. Hari gini, nggak punya media sosial? Beuh. Bikin gih!

Hingga langit yang terlihat dari jendela lantai 2 Pullens Resto mulai petang, tak terasa acara Personal Branding Class telah usai. Tentu saja, sebelumnya tetap ada sesi sharing dan tanya jawab. Dan yang tidak ketinggalan adalah foto bersama. Nyesel kan loe nggak ikut?

Meja-meja kayu yang berderet di  tempat itu tanpa sadar menjadi saksi bisu 3 hal penting bagi kami. Pertama, acara Personal Branding Class tanggal 26 April kemarin menjadi hari bersejarah bagi Penakata untuk pertama kalinya membuat acara offline.  Kedua, terbukanya jalan kolaborasi pertama Penakata dengan GMedia, sekaligus dengan para trainer. Dan ketiga, Mas Cino dan Mas Sela untuk pertama kalinya belajar membuat materi yang menceritakan kisah hidup mereka.

Mengutip Teori Cemet Mas Cino, “Ucapkan mimpimu pada diri sendiri,” dan teori Law of Attraction tentang koneksi, atraksi, dan vibrasi, kami berani bermimpi menjadi diri sendiri yang luar biasa dan siap melangkah untuk mewujudkannya. Tak lupa kutipan Mas Sela, bahwa campur tangan Tuhan selalu ada. Jadi, jangan pernah lupa untuk berdoa.

Ya, kolaborasi ini dapat sukses dengan campur tangan banyak pihak: GMedia, para trainer, dan tentu saja goodwriters yang bersedia untuk hadir. The last but not least, kehendak Tuhan tetaplah yang utama.

Penakata, GMedia, Mas Cino dan Mas Sela

Oleh karena itu, siapa pun yang ingin berkolaborasi dengan Penakata, kami membuka tangan lebar-lebar. Asal hal tersebut bermanfaat, tak ada kata untuk menolak. Bahkan, jika perlu mari saling mengetuk pintu, dan mengobrol di teras rumah, menyatukan pemikiran goodthinkers sejati yang ingin mewujudkan mimpi. Tidak lupa, ditemani secangkir kopi.

Penakata, place of collaboration for goodthinkers.

Tak lupa, di akhir acara kami foto bersama

8 KOMENTAR

  1. Akhirnya, lepas juga beban berat yang dipikul Penakata. Apa pun hasilnya, tetap semangat. Jangan pernah menyerah! 😊😍

    Dari semua kalimat di atas aku paling suka dengan selalu mengikutsertakan campur tangan Tuhan dalam segala hal. Bukan kehendak dan keinginan kita yang harus jadi, tetapi kehendak Dia. Mengimani ini bikin kita nyaman, lega, dan tidak akan terpuruk. Sekalipun kita jatuh, tidak akan sampai tergeletak. *Ish, pagi yang mendadak bijak dam bikin mata berkabut. Ada irisan bawang di tulisan ini.😅

    Buat Penakata, berusahalah untuk bisa memikat dan mengikat hati kami. Seperti apa pun keadaannya.💖😇💝

    • Hai. Beban berat akan selalu ada di depan nanti. Namun tak akan menjadi berat, demi mimpi ❤

      Tuhan memang kehendak segalanya 😇
      Tak hanya irisan bawang, di tulisan ini juga ada lada, garam, gula, dan rempah-rempah. Hihi

      Siap! Buat goodwriters, berusahalah untuk selalu terbentuk chemistry dengan kami. ❤

      Semangat Kakak 😊🙏

  2. Banyak ilmu, kisah hidup dan sharing pengalaman berharga saat duduk di tengah acara Meja Belajar.

    Dua jam berasa sebentar ya, Min. Padahal udah molor banyak akhir waktunya.

    Hiks, aku cuma kesel soalnya kedinginan, Min. Wkwkwk