Sumber Photo ; Doc. pribadi.

 

Langkah menderap mengikuti inginnya hati, sesekali terhenti menatap langit yang cerah penawar resah. Kau tak lagi di sini, kau sekadar siluet pada labur tatap yang enggan kulupa. Manis, pernah menitip kisah meski sesaat…

Tak banyak kenangan merajai angan, hanya secuil hingga tak sempat memenuhi ruang ruang kosong. Namun, sempat merasuk bak virus dalam rongga darah, terkesan memang pada buai yang memabukkan. Tak percaya, tetapi kenyataannya dia mampu membuat lupaku berpijak pada logika bahwa cinta tak selamanya bersatu bak sederet kisah romansa para pendahulu.

Kau kusebut candu namun kau tak pernah rindu, padaku. Kau kusebut kekasih tetapi kau menganggapku hanya semata lembaran tak nyata, aku terluka. Kusajakkan hadirnya kau pada sepiku, kau pun berpuisi mendiksikan ada hatinya yang tak bisa kau lupa. Aku bisa apa?

Tak ingin berandaiku pada waktu, senja, sapa juga awal yang kurajut terus dalam menanti. Sekuat apapun aku mengemis untuk hatimu meluruh pada cinta yang kupinta, kau terus berlalu, terus berpujangga tentang dia yang kau puja namun mencampakkanmu pada patah hati. Tentang ketidakinginanmu merajut mimpi dalam bahtera hidup. Tentang keenggananmu mengenal apa itu cinta selain cintamu pada sepi, pada kesendirian, pada jarak sedepa yang mengikatku untuk memilih melupa.

Amarahku berkoar pada hening malam, mengapa kau pergi di saat hati telah mencintaimu dengan tertatih? Mengapa kau tak bisa memberiku kesempatan menatapmu lekat? Mengapa kau tak memberiku waktu menjejak pada sisimu untuk meraih jemarimu yang kerap melukiskan sketsa kenanga berorama rindu itu?

Di pelataran lapang berkawah bintang juga gemerlap rembulan bulan maret, ada dekap pada lengan sendiri. Desah melirih mengingat cinta yang sesaat telah pergi, ada debar merujuk mengisyaratkan ketir. Jika cintaku tak pantas bersanding kurangmu, mengapa tak sekali kau berujar benci? Kau tak bersuara, hanya terus menyusun kata artikan cinta tak lebih dari pelengkap sebuah kesedihan.

 

 

Maret, 08 2019

8 KOMENTAR

  1. Puan, dalam sekali tulisannya. Curahan hati selalu sampai ke hati yang baca. Hiks hiks, kuharap badai Puan telah berlalu dan berhak mendapatkan kemesraan yang baru. * Ah, mengapa aku pengertian banget, ya? Abaikan. 😂😂😉😉